Inflasi versus Deflasi

Oleh : Firdaus Baderi

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Banyak pihak termasuk Gubernur Bank Indonesia sering galau terhadap ancaman inflasi di negeri ini, sehingga jalan keluarnya melalui peningkatan suku bunga acuan BI Rate. Dan hingga kini BI Rate memang tetap tinggi 7,75%. Sebaliknya di Amerika Serikat, Eropa sekarang menghadapi ancaman deflasi. Rata-rata inflasi tahunan AS berada pada 3,2% pada 2011, menurun menjadi 2,1% (2012), dan kemungkinan akan berada di kisaran 1,5%-1,7% pada Februari 2015. Bahkan inflasi tahunan di Kanada mencapai 0,9% , di bawah target 1%-3%, yang tentu menimbulkan kekhawatiran deflasi di negara itu.

Laju inflasi Italia pekan lalu turun dari 0,7% menjadi 0,6% dan Spanyol stagnan di 0,3%; sehingga membuat Bank Sentral Eropa (ECB) memprediksi inflasi tetap lemah pada 0,9%. Kondisi ini paradoks dengan Jepang yang telah berhasilmematahkan laju inflasiwalau masih bergulat dengan ancaman yang sama.

Menurut teori ekonomi, deflasi atau yang disebut juga tingkat inflasi negatif, atau tren penurunan harga barang dan jasa dalam suatu periode, akan membuat pendapatan perusahaan berkurang. Apabila pendapatan perusahaan berkurang, maka akan berdampak pada pemecatan tenaga kerja.

Peraih nobel ekonom Paul Krugman menilai kondisi semacam ini bahwa upah tidak mungkin diturunkan, kecuali terjadi pengangguran besar-besaran yang menyebabkan masyarakat putus asa dan mau bekerja dengan gaji berapapun. Solusi satu-satunya bagi perusahaan untuk mengurangi biaya produksi adalah pemecatan tenaga kerja.

“Solusi” ini akan berakibat pada peningkatan pengangguran. Ini, pada gilirannya membuat konsumsi masyarakat menurun dan berdampak pada produksi nasional suatu negara. Sebaliknya, inflasi dalam skala “ringan” justru diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. Artinya, banyak perusahaan semakin meningkatkan produksi karena keuntungan bakal naik, kesempatan kerja semakin banyak, konsumsi masyarakat meningkat, dan kemudian produksi nasional meningkat.

Nah, untuk mencegah kecenderungan deflasi, bank bank sentral sekarang lebih memilih menggelontorkan stimulus moneter untuk mengekspor deflasi ke negara lain. Strategi Abenomics yang secara khusus melemahkan Yen, ternyata dapat mengekspor deflasi dengan membuat produk “made in Japan” jadi lebih murah di pasar dunia. Setelah Yen melemah, pasar kemudian berpaling ke dolar AS. Penguatan US$ tentu berdampak pada melemahnya harga komoditas sepertiemas.

Terlepas dari prospek perekonomian yang membaik di AS dan Eropa, bank-bank sentral dunia terus mengkhawatirkan deflasi. Dengan berbagai cara, mereka telah dan akan berusaha untuk mengatasi agar jangan sampai wilayahnya mengalami pelambatan pertumbuhan seperti Jepang dulu. Satu langkah yang nampaknya populer adalah stimulus dalam bentuk Quantitative Easing (QE).

Namun, melihat pengalaman Jepang yang setahun lalu mengalami deflasi parah, kini Yen justru memiliki nilai tukar yang lebih tinggi dari negara negara maju lainnya yang mengalami inflasi tinggi. Hal ini merisaukan bagi pilihan target deflasi atau inflasi, demi menjaga kesehatan moneter suatu negara. Ini tantangan buat Gubernur BI ke depan, apakah tetap berkiblat ke strategi Amerika Serikat atau Jepang?

BERITA TERKAIT

Ada ‘Gap’, Ada Ketimpangan

  Oleh: Ahmad Heri Firdaus Peneliti Indef Ketimpangan akan terus terjadi selama masih ada gap kesempatan, akses terhadap sumber ekonomi…

Investasi, Prospek dan Ekspor

Penulis: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri Para pemimpin negara dan para pemimpin perusahaan di seluruh dunia terus putar otak…

Dubes Maritim

               Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Indonesia kembali terpilih…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Ada ‘Gap’, Ada Ketimpangan

  Oleh: Ahmad Heri Firdaus Peneliti Indef Ketimpangan akan terus terjadi selama masih ada gap kesempatan, akses terhadap sumber ekonomi…

Investasi, Prospek dan Ekspor

Penulis: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri Para pemimpin negara dan para pemimpin perusahaan di seluruh dunia terus putar otak…

Dubes Maritim

               Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Indonesia kembali terpilih…