Pengusaha Berharap Batas Atas BK CPO Tidak Turun - Harga Sawit Jatuh

NERACA

Jakarta – Ditengah harga komoditas sawit yang sedang menurun, pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) meminta kepada pemerintah untuk tidak menurunkan batas atas harga (threshold) pengenaan bea keluar ekspor Crude Palm Oil (CPO). Sejauh ini, harga CPO ber ada di bawah US$750 per metrik ton. Hal itu dikatakn oleh Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan, akhir pekan kemarin.

Pihaknya merasa setuju jika ekspo CPO dikenakan bea keluar namun dia meminta agar pemerintah tidak menurunkan batas atas. "Ya kita setuju saja dikenakan bea keluar. Namun kita minta threshold-nya enggak diturunkan. Karena nanti itu jadi kontraproduktif," ujarnya. Menurutnya, jika bertujuan untuk hilirisasi, maka lebih baik bea keluar tetap dikenakan, namun tidak dengan diambang batas harga yang terlalu rendah.

Dia mengatakan, rencana penurunan threshold juga akan menyebabkan industri CPO menjadi lesu. Hal ini lantaran biaya yang dikeluarkan untuk ekspor semakin meningkat, sedangkan nilai ekspornya semakin rendah. "Wacana Kementerian Perindustrian untuk menurunkan batas bawah harga CPO yang dikenakan bea keluar ini agak membingungkan tujuannya. Ketidakpastian seperti ini bisa menghasilkan sinyal buruk bagi investasi kelapa sawit," tuturnya.

Pihaknya menilai, saat ini angka threshold sudah merupakan angka ideal bagi industri kelapa sawit. Dia berharap pemerintah tidak terburu-buru dalam mengoreksi angka batas pengenaan bea keluar ini. "Harga CPO kan fluktuatif, kalau misalnya naik lagi ya komoditas kita tetap kena bea keluar. Ini cuma sementara saja sepertinya, kuartal II/2015 sudah mulai membaik baik dari segi harga maupun produksi," pungkas Fadhil.

Disisi lain, Sekretaris Jenderal Gapki Joko Supriyono mengaku optimis harga CPO akan mulai terkerek pada kuartal II tahun 2015. Seperti diketahui, selama empat bulan terakhir harga CPO terus mengalami penurunan. Bahkan sepanjang 2014, harga rata-rata CPO hanya mampu bertengger di USD818,2 per metrik ton, atau turun 2,8% dibanding 2013 yang mencapai USD841,71 per metrik ton.

"Pada 2015 masih ada harapan walaupun awal tahun harga melemah. Kita melihat ramalan ahli, kiranya kuartal II/2014 akan lebih bagus. Masih ada harapan bahwa kita akan tetap bisa perform lebih baik tahun ini," ujarnya. Dia mengatakan, industri masih memiliki peluang dari domestik, dengan dijadikannya isu energi menjadi prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi), selain pangan, infrastruktur, dan maritim. "Mustinya biodiesel harus bisa menjadi fokus Jokowi. Jadi kita masih punya harapan di situ," imbuhnya.

Pihaknya juga bisa mengambil peran dari rencana pemerintah untuk menggenjot ekspor hingga 300% sampai 2019. Joko berharap, rencana tersebut tidak hanya sekadar pernyataan politik semata. "Supaya kita bisa mengambil peran, karena defisit Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) sampai November masih USD1,6 miliar. Jadi saya yakin sampai akhir tahun masih defisit. Kalau kita bisa berkontribusi USD20 miliar, itu cukup something untuk mengurangi deficit. Tahun depan mustinya kita bisa akan berkontribusi positif terhadap defisit. Kita ini sebenarnya serba salah, jangan-jangan tahun ini rupiahnya lemah. Jadi tidak ada cara lain mengurangi defisit dengan menaikkan ekspor, kalau mengurangi impor enggak mungkin. Karena mengurangi impor itu menghentikan pembangunan," tutupnya.

Harga CPO (Crude Palm Oil) di Bursa Malaysia terus tertekan pada awal perdagangan Jum'at (30/01) setelah kemarin ditutup anjlok 3,34%. Kontrak CPO untuk Maret 2015 dibuka turun 1,03% ke harga 2.121 ringgit atau Rp 7,38 juta per ton. Kemarin, harga CPO merosot 3,34% ke 2.143 ringgit atau 7,42 juta per ton. Kontrak CPO untuk April 2014, kontrak teraktif di Bursa Malaysia, seperti dikutip, bergerak turun 0,56% ke 2.122 ringgit per ton pada 10.04 WIB setelah dibuka turun 0,75% ke 2.118 ringgit atau Rp 7,38 juta per ton.

Lebih jau lagi, Fadhil Hasan, memprediksi, harga minyak sawit mentah (CPO) di tahun 2015 bisa naik, jika program mandatory biodiesel sukses. Pemerintah sebelumnya, telah meluncurkan program biodiesel, yakni bahan bakar solar yang berasal dari tumbuhan, antara lain CPO dan biji jarak. “Tahun ini harga CPO di pasar Internasional diprediksi masih tertekan, seperti yang terjadi tahun lalu. harga rata-rata CPO pada tahun ini sekitar USD 700 per ton. Sementara harga CPO di pasar internasional sekarang rata-rata berkisar USD 630-650 per ton,” ujar Fadhil.

Fadhil menambahkan, salah satu pendorong naiknya harga CPO tahun ini adalah penyerapan biodiesel di dalam negeri. Sebab, dapat mendongkrak harga CPO di pasar internasional. Ada penelitian bahwa penyerapan CPO 1 juta ton untuk biodiesel, maka harga CPO akan meningkat USD 96/ton. Menurutnya, apabila program mandatory biodiesel di dalam negeri berjalan, berimbas pada peningkatan harga CPO dan mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM).

BERITA TERKAIT

Niaga Komoditas - Penyerapan Biodiesel Strategi Hadapi Diskriminasi Sawit Eropa

NERACA Jakarta – Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kanya Lakshmi Sidarta menilai penyerapan biodiesel di dalam negeri…

BPKN: Segera Revisi UU Perlindungan Konsumen! - DINILAI TIDAK SESUAI PERKEMBANGAN ZAMAN

Jakarta-Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) mendesak pemerintah agar merevisi Undang-undang No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Karena UU tersebut…

Harga Bapokting di Kota Sukabumi Tergolong Stabil

Harga Bapokting di Kota Sukabumi Tergolong Stabil NERACA Sukabumi - Perkembangan harga bahan pokok penting (Bapokting) dan barang strategis lainya…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Niaga Komoditas - Penyerapan Biodiesel Strategi Hadapi Diskriminasi Sawit Eropa

NERACA Jakarta – Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kanya Lakshmi Sidarta menilai penyerapan biodiesel di dalam negeri…

Kemendag Pastikan Izin Impor Bawang Putih 7 Perusahaan

NERACA Jakarta – Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan memastikan izin impor bawang putih bagi tujuh perusahaan…

CIPS Sebut Distribusi Minol Lewat PLB Rentan Tambah Korban

NERACA Jakarta – Distribusi minuman beralkohol (minol) lewat Pusat Logistik Berikat (PLB) rentan menambah korban luka dan korban jiwa akibat…