BPS Dorong Peningkatan Belanja Modal

NERACA

Jakata---Badan Pusat Statistik mendorong pemerintah agar lebih meningkatkan belanja modal pada 2011 agar mempercepat target pertumbuhan ekonomi 2012, sebesar 6,7%. Masalahnya, dampak belanja modal ini baru bisa dirasakan pada tahun depan. “Dampaknya baru bisa terukur di pertumbuhan ekonomi 2012,” kata Kepala BPS, Rusman Heriawan kepada wartawan di Jakarta,13/9..

Namun BPS mengingatkan pentingnya untuk memenuhi kebutuhan energi, terutama energi untuk sektor produksi. Sebab, jika kebutuhan energy tidak terpenuhi, maka sektor produktif akan sulit mendorong akselerasi kegiatan ekonomi nasional. “Perlu juga diperhatikan masalah energi,”tambahnya.

Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang PS Brodjonegoro mengungkapkan asumsi pertumbuhan ekonomi (PE) sebesar 6,7% pada asumsi makro ekonomi dalam RAPBN-TA 2012, merupakan yang tertinggi sejak lima tahun. “Asumsi makro, yang menarik adalah jika melihat catatan historis ke belakang, dalam periode 2006-2011, pertumbuhan sekarang yang paling tinggi,” katanya di DPR

Sebelumnya, Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan ada empat faktor yang dapat mendukung perumbuhan ekonomi Indonesia semakin meningkat, ditengah adanya resesi yang diakibatkan oleh krisis utang Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

Pertama jelas Hatta, ada kecenderungan peningkatan pada konsumsi pemerintah. "Konsumsi akan sekira 4,9% sampai 5,1% atau diatas itu," ungkap Hatta di kantornya, Lapangan Banteng, Jakarta, akhir pekan lalu.

Selanjutnya, Hatta menilai mendekatnya rating utang Indonesia pada investment grade menjadi daya dorong investasi terutama pada Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia. "(Investasi) Itu tumbuhnya dobel digit 20 persen itu kuat sekali, ini mesin pertumbuhan," tambahnya.

Selain itu, kata Ketua umum PAN ini, adanya kecenderungan peningkatan pada net ekspor sebesar 17,5% dibandingkan net impor yang sebesar 15% membuktikan kuatnya ekspor Indonesia. "Jadi tetap neraca perdagangan kita surplus," ujarnya

Terakhir jika dilihat dari sisi demand, maka ada ekspansi dari state budget pada anggaran kita. Hatta mengklaim, dari sisi suplai, hampir semua sektor manufaktur ekspansif. "Semua ekspansif, manufaktur 6,6%, dia menjadi 6,1% karena masuk migas disitu, kedua pertanian pertambangan, kemudian transportasi dan telekomunikasi, semuanya positif. Jadi, disitulah yang menunjukkan pertumbuhan kita cukup kuat," tandasnya.

Seperti diketahui, asumsi ekonomi makro 2012 yang akan dijadikan dasar Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2012, sekaligus sebagai dasar perhitungan besaran RAPBN-TA 2012 adalah pertumbuhan ekonomi 6,7%, laju inflasi 5,3%, suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan 6,5%, nilai tukar rupiah Rp8.800 per USD, harga minyak USD90 per barel, dan lifting minyak 950 ribu barel per hari. *cahyo

Related posts