Penerimaan Migas 2015 Dipatok Rp150 Triliun - RAPBN-P

NERACA

Jakarta - Penerimaan minyak dan gas bumi bagian negara pada 2015 diperkirakan sekitar 12 miliar dolar AS atau setara Rp150 triliun. Dikutip dari laman Antara, akhir pekan kemarin, yang menyatakan bahwa data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyebutkan, sesuai nota keuangan RAPBN Perubahan 2015, pada asumsi harga minyak Indonesia (Indonesia crude price/ICP) sebesar 70 dolar AS per barel, penerimaan negara dari migas diperkirakan 14,915 miliar dolar.

Asumsi lainnya adalah produksi terjual (lifting) minyak 849.000 barel per hari, "lifting" gas 1,177 juta barel setara minyak per hari, dan harga gas 7,24 dolar per MMBTU. Sesuai asumsi tersebut, penerimaan total migas adalah 38,462 miliar dolar yang selanjutnya terbagi "cost recovery" 18,926 miliar dolar, kontraktor 4,621 miliar dolar, dan penerimaan negara 14,915 miliar dolar.

Dengan pembagian tersebut, maka porsi "cost recovery" mencapai 49 persen atau lebih besar dari penerimaan negara yang hanya 39 persen. Pada rapat kerja Komisi VII DPR dengan Menteri ESDM Sudirman Said, Rabu-Kamis (28-29/1), disepakati "lifting" minyak turun menjadi 825.000 barel per hari, "lifting" gas naik menjadi 1,221 juta barel setara minyak per hari, dan ICP turun menjadi 60 dolar per barel Sementara, sensitivitas ICP terhadap penerimaan negara adalah setiap perubahan satu dolar per barel berkorelasi dengan 306 juta dolar.

Lalu, setiap produksi migas berubah 10.000 barel setara minyak per hari mempengaruhi penerimaan negara 79 juta dolar, produksi minyak 10.000 barel per hari merubah 102 juta dolar, dan kalau biaya 100 juta dolar mempengaruhi 70 juta dolar. Berdasarkan perhitungan sensitivitas tersebut, perubahan "lifting" minyak dari 849.000 menjadi 825.000 barel per hari menyebabkan penurunan penerimaan 225 juta dolar.

Penambahan "lifting" gas dari 1,177 menjadi 1,221 juta barel setara minyak per hari membuat penerimaan negara bertambah 348 juta dolar. Serta, penurunan ICP dari 70 menjadi 60 dolar per barel, maka penerimaan negara berkurang 3,06 miliar dolar. Dengan demikian, dari proyeksi penerimaan negara sebelumnya sebesar 14,915 miliar dolar AS, berubah menjadi sekitar 12 miliar dolar.

Pada 2014, realisasi penerimaan migas bagian negara mencapai 28,33 miliar dolar atau jauh di atas "cost recovery" 15,91 miliar dolar. Namun, realisasi ICP pada 2014 tercatat lebih tinggi yakni sebesar 100,48 dolar per barel. Demikian pula, harga gas lebih tinggi sebesar 9,91 dolar per MMBTU. Sementara, realisasi "lifting" minyak pada 2014 sebesar 794 ribu barel per hari dan gas 1,218 juta barel per hari.

Tetap Optimis

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih optimistis akan pertumbuhan ekonomi RI mencapai 7 persen dalam waktu tiga tahun ke depan, meskipun tantangan ekonomi global ada di depan mata pada tahun ini.

Jokowi mengatakan, memang dengan penurunan harga minyak dunia membuat penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor migas juga tergerus, namun hal tersebut juga bukan menjadi halangan "Saya optimistis, meskipun minyak turun, penerimaan akan turun, lalu ekonomi global belum tentu, akibat adanya pelarian dolar balik kampung ke Amerika Serikat (AS)," ucap Jokowi.

Optimisme Jokowi ini dilihat dari perbaikan fundamental yang terus dilakukan, terlihat dari makin besarnya ruang fiskal akibat pengalihan subsidi BBM dan penghematan anggaran lainnya.

"Selain itu bergeraknya ekonomi di industri kecil di kampung cukup baik, akan berikan yang terbaik. Dalam waktu tiga tahun, Insya Allah perekonomian bisa tumbuh 7 persen," paparnya.

BERITA TERKAIT

Terbitkan Produk KIK Dinfra - Jasa Marga Targetkan Dana Rp 1 Triliun

NERACA Jakarta –Besarnya kebutuhan modal PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dalam mendanai proyek jalan tol, mendorong perseroan untuk terus memanfaatkan…

Targetkan Dana Kelolaan Rp 1 Triliun - Phillip AM Luncurkan Produk Reksa Dana ETF

NERACA Jakarta – Kejar pertumbuhan dana kelolaan lebih besar lagi, Phillip Asset Management terus aktif meluncurkan produk investasi baru. Teranyar,…

Rayakan Hari Jadi Ke-50 - Sharp Targetkan Penjualan Rp 11 Triliun

NERACA Jakarta – Eksistensi PT Sharp Electronics Indonesia dalam menjalankan bisnisnya tidak bisa lepas dari inovasi produk yang selalu dihadirkan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

CIPS Sebut Distribusi Minol Lewat PLB Rentan Tambah Korban

NERACA Jakarta – Distribusi minuman beralkohol (minol) lewat Pusat Logistik Berikat (PLB) rentan menambah korban luka dan korban jiwa akibat…

Penilaian IGJ - Dua Aspek Lemahkan Indonesia Dalam Perdagangan Internasional

NERACA Jakarta – Peneliti senior Indonesia for Global Justice (IGJ) Olisias Gultom menilai, terdapat dua aspek yang membuat lemah Indonesia…

AMMDes Bisa Diaplikasikan dengan Alat Pembuat Es Serpihan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian secara konsisten dan berkelanjutan terus mendorong pemanfaatan dan pengembangan Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes) untuk…