Akhir Pekan, Laju IHSG Berpeluang Menguat

NERACA

Jakarta –Kesekian kalinya, laju pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali terkoreksi seiring sepinya transaksi lantaran sentiment negatif global yang belum reda. IHSG Kamis sore, ditutup terkoreksi 6,001 poin (0,11%) ke level 5.262,851. Sementara Indeks LQ45 ditutup mundur 1,312 poin (0,14%) ke level 910,382.

Analis Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya mengatakan, IHSG BEI masih belum beranjak dari fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah sambil menanti data ekonomi domestik yang akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal pekan depan (Senin, 2/2),”Diharapkan rilis data ekonomi Indonesia mencatatkan hasil bagus, sehingga pelaku pasar dapat memanfaatkan peluang konsolidasi saat ini untuk akumulasi beli dan bisa mendorong arus dana asing kembali masuk ke pasar saham," katanya di Jakarta, Kamis (29/1).

Dia menambahkan, dengan kembalinya dana asing ke pasar saham domestik, maka menunjukkan kepercayaan investor masih cukup tinggi terhadap industri investasi di dalam negeri. Secara teknikal, lanjut dia, level psikologis batas bawah yang masih terjaga di 5.252 poin juga masih mampu dipertahankan sehingga 'rally' indeks BEI untuk naik ke depannya dapat lebih kencang sehingga potensi menembus level batas atas di 5.357 poin akan terbuka.

Sementara analis HD Capital Yuganur Wijanarko menambahkan, masih berlanjut aksi jual harian oleh pelaku pasar asing menjadi salah satu penahan laju indeks BEI untuk kembali ke area positif,”Namun kami melihat bahwa potensi indeks BEI kembali ke tren penguatan masih terbuka,"ungkapnya.

Tercatat investor asing tidak banyak bertransaksi dan transaksi investor asing hingga sore melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 16,858 miliar di seluruh pasar. Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 159.862 kali dengan volume 4,21 miliar lembar saham senilai Rp 4,013 triliun. Sebanyak 120 saham naik, 147 turun, dan 99 saham stagnan.

Koreksi bursa-bursa Asia makin dalam sore kemarin dan menutup perdagangan dengan kompak di zona merah. Koreksi yang terjadi di BEI termasuk yang paling landai di antara bursa regional. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Gudang Garam (GGRM) naik Rp 275 ke Rp 57.450, Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 275 ke Rp 15.675, Acset (ACST) naik Rp 265 ke Rp 4.150, dan Samudera Indonesia (SMDR) naik Rp 200 ke Rp 11.500.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 800 ke Rp 66.500, Astra Agro (AALI) turun Rp 250 ke Rp 23.425, Matahari ((LPPF) turun Rp 200 ke Rp 15.475, dan Bukit Asam (PTBA) turun Rp 175 ke Rp 11.350.

Perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup melemah tipis 9,804 poin (0,19%) ke level 5.259,048. Sementara Indeks LQ45 melemah 2,951 poin (0,32%) ke level 908,753. Posisi terendah yang sempat disinggahi indeks BEI ada di level 5.266,989. Dua sektor berhasil menguat, yaitu sektor konstruksi dan perdagangan.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 102.702 kali dengan volume 2,765 miliar lembar saham senilai Rp 2,661 triliun. Sebanyak 120 saham naik, 137 turun, dan 91 saham stagnan. Bursa-bursa regional rata-rata masih terjebak di zona merah hingga siang. Hanya pasar saham Singapura yang berhasil menguat.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Samudera Indonesia (SMDR) naik Rp 175 ke Rp 11.475, Surya Citra (SCMA) naik Rp 120 ke Rp 3.670, Acset (ACST) naik Rp 115 ke Rp 4.000, dan Saratoga (SRTG) naik Rp 100 ke Rp 5.050. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 550 ke Rp 56.625, Astra Agro (AALI) turun Rp 350 ke Rp 23.325, Bukit Asam (PTBA) turun Rp 200 ke Rp 11.325, dan Asuransi Bintang (ASBI) turun Rp 190 ke Rp 575.

Pelemahan IHSG juga terjadi pada pembukaan perdagangan yang dibuka turun 5,31 poin atau 0,10% menjadi 5.263,53, sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 1,34 poin (0,15%) ke level 910,34,”Pasar saham Indonesia terhambat lajunya karena faktor eksternal dan internal," kata Head of Research Valbury Aset Securities, Alfiansyah.

Dia mengemukakan bahwa Indonesia masih dibayangi oleh negara ekonomi maju yang masih mengalami ketidakpastian seperti Jepang dan Uni Eropa, meski perbaikan ekonomi di AS berlanjut. Selain itu, beberapa negara berkembang juga masih terus berjuang mendorong pertumbuhannya. Dan, harga minyak dunia yang turun tajam juga masih membayangi tekanan bagi indeks saham bursa global,”Kondisi tahun ini, tantangan yang dihadapi iklim investasi Indonesia selain faktor dari dalam negeri, faktor luar pun memberikan andil besar, ditengah risiko utama ekonomi dunia yang sewaktu-waktu dapat menjadi kendala," ujarnya.

Kendati demikian, lanjut dia, sepanjang bulan pertama 2015 investor global masih menginjeksi dana investasinya ke negara-negara berkembang. India menjadi negara dengan aliran dana masuk terbesar. Selain itu, bursa saham Indonesia dan Filipina juga sempat diperdagangkan pada level tertingginya. Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka melemah 178,11 poin (0,72%) ke 24.683,70, indeks Bursa Nikkei turun 86,73 poin (0,49%) ke 17.709,00, dan Straits Times melemah 7,89 poin (0,25%) ke posisi 3.410,06. (bani)

Related posts