Soal Literasi Keuangan Jadi Hambatan - Pengembangan Pasar Modal

NERACA

Jakarta – Tuntutan industri pasar modal bisa menguasai pasar Asia, masih menemui kendala disamping minimnya jumlah investor lokal dan juga produk investasi yang masih terbatas. Bahkan di tahun 2015 ini, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan, ada beberapa kendala yang akan dialami dalam pengembangan industri pasar modal.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan BEI, Samsul Hidayat mengatakan, kendala yang dihadapi salah satunya secara makro tingkat pendapatan belum merata,”Belum merata tingkat pendidikan di lapangan terkait kendala saat ini, menjadi hambatan dalam pengembangan pasar modal tentunya," ujarnya di Jakarta, Kamis (29/1).

Selain itu, merubah mindset menabung menjadi investasi di pasar modal belum bisa dilakukan secara sederhana. Pertama, literasi keuangan bahkan pemahaman literasi keuangan masih kecil dan ini menjadi tantangan bagi pelaku industri pasar modal dan termasuk otoritas bursa.

Kendala tersebut akan terus dilakukan perbaikan. Namun, ada banyak faktor yang mempengaruhinya,”Faktor banyak dari kegiatan itu dan mulai dari sources kita, terus di perbaiki dan kita sudah on track-nya, negara yang sudah maju pasar modalnya juga bisa kita tiru," tuturnya.

Samsul mengatakan, pihaknya bergerak terus untuk memperbaiki dan tidak perlu pesimistis,”Bagus konsep kita national campaign, perbaiki kurikulum, bagian dari upaya yang kita lakukan, anak SMP saya lihat isi bacaan bukunya sudah ada pasar modal," pungkas dia.

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi keuangan di Indonesia hanya 21,7%. Angka ini tertinggal jauh dibandingkan penetrasi di Filipina sudah di atas 30% dan Malaysia 60-70%. Diakui Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, Sri Rahayu Widodo, tingkat literasi ini tergolong rendah. Masyarakat di Indonesia dinilai belum begitu memahami produk keuangan seperti bank, asuransi, dan pasar modal.

Dirinya menjelaskan, tingkat literasi yang rendah ini disebabkan oleh kurang imbangnya tingkat pertumbuhan industri jasa keuangan dan kesadaran masyarakat terhadap produk keuangan. Maka agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi investor asing, OJK bersama lembaga SRO lainnya terus melakukan edukasi dan sosialisasi investor pasar modal guna meningkatkan jumlah investor lokal dengan membidik investor potensial dari kalangan mahasiswa,”Sampai saat ini jumlah investor dari kalangan akademisi atau para investor muda mencapai 7.000 orang dan ditargetkan jumlah tersebut meningkat sampai akhir tahun jadi 10.000 investor,”kata Direktur Pengembangan BEI, Frederica Widyasari Dewi.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Nurhaida pernah bilang, pengembangan market deepening atau pendalaman pasar dimaksudkan agar masyarakat terjangkau akses pasar modal yang saat ini masih minim. Disamping itu, pendalaman pasar juga dilakukan agar sektor keuangan bisa lebih likuid dan bersaing di pasar regional maupun internasional,”Tentunya ini tidak bisa terlepas dari suplai yang cukup dari sisi produk dan demand yang cukup mendukung dengan kondisi investor yang banyak. Jika pasar modal bisa tumbuh baik, ini tidak terlepas dari sistem yang ada di infrastruktur," ujar dia. (bani)

Related posts