Pasar Khawatirkan Sentimen KPK dan Polri - Diharapkan Kegaduhan Bisa Diatasi

NERACA

Yogyakarta – Belum meredanya ketegangan antar lembaga hukum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri, mulai menuai kekhawatiran bagi pelaku pasar modal akan kepastian hukum kedepan. Hal ini sangat beralasan, lantaran minat investor berinvestasi disamping faktor pertumbuhan ekonomi positif dan iklim yang kondusif, juga soal kepastian hukum.

Maka dari itu, menanggapi kasus tersebut, Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) di Yogyakarta, Irfan Noor Riza berharap, polemik yang terjadi antara Polri dan KPK segera dapat diatasi oleh pemerintah karena memiliki pengaruh terhadap aktifitas pasar modal,”Jika dibiarkan berlarut-larut akan mengganggu khususnya bagi keberadaan investor asing," ujarnya di Yogyakarta, Kamis (29/1).

Menurut Irfan, stabilitas politik dan kemanan dianggap penting bagi investor untuk menentukan akan menanamkan modalnya atau tidak."Pastinya (kondisi politik dan kemanan tidak stabil) mereka akan menahan diri untuk tidak bertransaksi di pasar modal Indonesia," jelasnya.

Kendati demikian, dia menilai, hingga saat ini polemik yang terjadi di dua institusi penegakan hukum tersebut belum terlihat mempengaruhi kondisi aktivitas pasar modal baik di tingkat nasional maupun regional. Saat ini, di Yogyakarta pun situasinya kurang lebih mengikuti nasional.

Pelaku pasar saham, menurut Irfan, masih optimistis Presiden Joko Widodo akan mampu mengurai persoalan yang membelenggu Polri dan KPK, dengan demikian stabilitas politik dan kemanan yang menjadi acuan para pelaku pasar dapat dianggap terkendali kembali,”Pastinya pemerintah juga tidak akan tinggal diam,"tegasnya.

Sesuai data BEI DIY, jumlah investor di daerah ini telah mencapai 10.167 orang dengan nilai transaksi mencapai Rp207 miliar pada akhir Desember 2014, atau naik dari November yang masih sebanyak 9.783 orang. Asal tahu saja, menutup perdagangan saham, indeks harga saham gabungan (IHSG) sudah dua hari berturut-turut ditutup terkoreksi.

Menurut analis PT Investa Saran Mandiri, Adi Joe, tertekannya indeks BEI akibat pelaku pasar menahan transaksi dan ini merupakan imbas dari konflik KPK dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri),”Sentimen KPK-Polri membuat pergerakan pasar saham di dalam negeri bergerak 'volatile' atau mudah berubah dalam kisaran tipis," ujar Kiswoyo Adi Joe.

Kendati demikian, dia memperkirakan bahwa sentimen KPK-Polri hanya bersifat jangka pendek bagi pergerakan pasar saham domestik, selanjutnya investor akan mencermati laporan keuangan tahunan emiten periode 2014. Dia menuturkan, potensi IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk melanjutkan peningkatan cukup terbuka, hal itu didukung ekspektasi laporan keuangan tahunan emiten masih cenderung positif.

Dirinya memproyeksikan bahwa sekitar 80% dari total perusahaan yang tercatat di BEI akan memubukukan kinerja positif atau sesuai dengan ekspektasi kalangan analis. Dalam data BEI, total perusahaan tercatat saat ini sebanyak 507 emiten,”Saat ini, baru Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) yang mengumumkan kinerjanya dengan membukukan peningkatan laba bersih sebesar 14,35% menjadi Rp24,2 triliun pada 2014 dibandingkan tahun sebelumnya," tuturnya.

Sementara itu, Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah mengatakan bahwa perseteruan antara KPK dengan Polri sempat membuat kepanikan di pasar saham, namun pada saat ini tensinya cenderung mereda dibandingkan sebelumnya. (ant/bani)

Related posts