Sekuritas Lokal Kalah Cepat Dengan Asing - Menjangkau Hingga di Daerah

NERACA

Jakarta – Guna meningkatkan jumlah investor lokal di pasar modal, maka kehadiran perusahaan sekuritas lokal dan jaringannya yang ada di daerah menjadi peran yang sangat penting dan strategis guna menjangkau masyarakat di daerah untuk melakukan edukasi dan sosialisasi.

Ketua Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI), Susy Meilina mengimbau, perusahaan sekuritas lokal harus lebih menjangkau di daerah. Hal ini karena beberapa perusahaan sekuritas asing sudah berekspansi ke beberapa wilayah di luar kota besar Indonesia,”Di beberapa wilayah Indonesia telah diisi oleh beberapa perusahaan sekuritas asal asing. Hal tersebut mempersempit perkembangan sekuritas lokal untuk berkontribusi bagi investor pasar modal," ujarnya di Jakarta, Kamis (29/1).

Dirinya menilai, perusahaan sekuritas lokal sudah harus mulai didorong agar bisa lebih bersaing dengan meningkatkan infrastruktur maupun layanan yang diberikan. Berdasarkan versi Infobank, terdapat 20 perusahaan yang masuk daftar perusahaan sekuritas terbaik. Terdiri dari 13 perusahaan sekuritas asing, empat Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan hanya tiga perusahaan sekuritas lokal.

Sementara Direktur Perdagangan dan Pengaturan Bursa Efek Indonesia (BEI), Samsul Hidayat menjelaskan bahwa data profil perdagangan harian di seluruh Indonesia masih didominasi DKI Jakarta,”DKI value-nya hampir mencakup keseluruhan. Transaski domestik atau lokal tidak termasuk asing sebesar Rp4,15 triliun per hari,”ungkapnya.

Saat ini dominasi asing di pasar modal cukup besar, tidak hanya dari jumlah investor tetapi juga broker asing yang menguasai pasar efek lokal. Direktur Teknologi dan Informasi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Adikun Basirun pernah bilang, dari 117 perusahaan efek yang ada, pangsa pasar perdagangan efek telah dikuasai oleh 28 perusahaan efek (broker) yang melakukan kerja sama dengan broker asing. Dimana porsi penguasaan pasar efek lokal oleh 28 broker tersebut telah dikuasai lebih dari 50%,”Broker kita belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri, padahal kami itu bermimpi broker lokal dapat menguasai pasar yang besar di dalam negeri,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, sulit untuk membedakan antara broker asing dengan broker lokal. Hal ini disebabkan karena semua broker asing telah melakukan kerjasama dengan broker dalam negeri dan mendapatkan ijin dari pihak regulator. “Adanya seperti itukan, jadi memang tidak 100% lokal ataupun asing,” tukasnya.

Hal tersebut malah berbanding terbalik jika dibandingkan dengan kondisi broker efek di Malaysia. Menurut Investment Banking Association, bahwa dari 28 broker efek di Malaysia, ada 8 perusahaan efek yang siap untuk melakukan ekspansi pasar ke negara lain,”Mereka itu sudah siap, dan ada 8 perusahaan, seperti misalnya saja CIMB dan Maybank, mereka siap untuk ekspansi keluar dari negaranya,”tandasnya.

Kata pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila, Agus Irfani, ditengah kapitalisasi pasar yang terus tumbuh hingga Rp 5.200 triliun, rupanya kepemilikan saham masih di dominasi investor asing. Maka tak heran dari berbagai fasilitas dan kemajuan infrastruktur pasar modal, saat ini belum menjadi kebanggaan bila peran investor lokal di bursa masih sedikit. (bani)

Related posts