Pertumbuhan Industri Kartu Kredit 2015 Jalan Ditempat - Pembatasan Kartu Kredit

Kebijakan Bank Indonesia (BI) untuk membatasi pengeluaran kartu kredit, membuat pertumbuhan kartu kredit di tahun 2015 ini, akan mengalami perlambatan pertumbuhan industri kartu kredit.

NERACA

Kebijakan ini dapat mengakibatkan pertumbuhan hanya sebesar 5% dalam pertumbuhan industri penerbitan kartu kredit. Hal ini jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan 10% hingga 11% peningkatan posting di tahun- tahun sebelumnya. Kata Steve Marta, general manager Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI)

Kebijakan yang di keluarkan oleh bank sentral ini diterbitkan pada tahun 2012 dan akan mulai berlaku pada 1 Januari 2015. Kebijakan ini menetapkan bahwa orang-orang dengan penghasilan bulanan antara Rp 3 juta dan Rp 10 juta hanya diperbolehkan memiliki maksimal dua kartu kredit.

“Ada sekitar 3 juta dan 4 juta pemegang kartu kredit dalam rentang pendapatan ini. Sekitar 450.000 dari mereka saat ini memiliki lebih dari dua kartu kredit. Jadi, kita akan melihat setidaknya 450.000 kartu dinonaktifkan dan kemungkinan besar lebih sedikit kartu baru yang akan diterbitkan pada tahun 2015.” kata Steve Marta.

Steve menambahkan bahwa asosiasi telah mulai mengirimkan pemberitahuan kepada pelanggan untuk mengingatkan mereka tentang kebijakan tersebut. Namun, jika mereka gagal untuk mengambil tindakan mendekati batas waktu, penerbit kartu kredit sendiri yang akan menonaktifkan kartu.

AKKI juga telah mengembangkan kriteria untuk menentukan kartu akan dihentikan. “Keputusan akan didasarkan pada kualitas kredit dan tingkat aktivitas. Jika kedua kriteria sama, kata akhir akan tergantung lama keanggotaan, “ kata Steve.

Saat ini ada 8 juta pemegang kartu dan 15,8 juta kartu kredit yang beredar di Indonesia yang diterbitkan oleh 22 bank dan satu perusahaan non-perbankan.

Sedangkan data AKKI menunjukkan bahwa lima emiten pemberi pinjaman swasta adalah CIMB Niaga, Citibank, Bank Central Asia (BCA) dan pemberi pinjaman negara Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bank Mandiri.

Meskipun pembatasan kartu, Steve mengatakan industri optimis masih bahwa volume transaksi akan terus meningkat pada tingkat dua digit, naik sekitar 15 persen yoy (year-on-year).

Statistik terbaru dari bank sentral mengungkapkan bahwa total transaksi mencapai Rp 142,150 miliyar pada Juli. Angka ini diperkirakan akan melunjak mencapai Rp 256,870 miliyar pada akhir tahun.

Dodit Wiweko Probojakti, general manager dari divisi manajemen produk BNI di segmen perbankan konsumer dan ritel, mengakui bahwa kebijakan pembatasan kartu kredit ini akan mengurangi jumlah kartu.

“Tentunya kita akan melihat penurunan jumlah kartu tahun depan dari jumlah 1,7 juta saat ini sebagai akibat dari kebijakan ini, tapi apa yang paling penting adalah cara kita mengelola nasabah, yang sudah ada untuk meminimalkan pengurangan,” katanya.

Menurut data, BNI memiliki sekitar 52.000 nasabah yang terletak dalam kelompok yang memiliki pendapatan bulanan antara Rp 3 juta dan Rp 10 juta, dari total 1 juta pemegang kartu kredit. BNI telah meluncurkan beberapa program loyalitas untuk mempertahankan minat pelanggan dalam memegang kartu kredit, Dodit menambahkan.

Sementara itu, kepala kartu dan bisnis merchantCIMB Niaga, Bambang Karsono Adi mengatakan bahwa CIMB memiliki 30.000 pelanggan pemegang kartu kredit yang akhirnya akan harus membuat keputusan. “Kami optimis bahwa mereka akan tetap bersama kami karena kami memiliki kartu kredit yang tidak memiliki biaya tahunan,” katanya.

Bank OCBC

Kemudahan dan cara yang praktis untuk melakukan pembayaran, membuat minat uang kartu atau kartu kredit setiap tahunya terus mengalami peningkatan. Seperti halnya PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC NISP) mematok pertumbuhan jumlah kartu kredit sebesar 30-40% pada 2015.

Pertumbuhan pengguna kartu kredit ini bisa dilihat dari, pada tahun ini traksaksi kartu kredit sangat positif selama 2014. Padahal, dari sisi aturan Bank Indonesia (BI) melakukan beberapa pengetatan mulai awal 2015.

“Target tahun depan tidak boleh turun dari sekarang. Jumlah kartu kredit tumbuh 30-40%. Untuksales volume,boleh dibilang mengikuti pertambahan jumlah kartu kita,” ujar Kepala DivisiUnsecured LoanOCBC NISP, Meri Ui.

Mulai 1 Januari 2014, BI sebagai regulator sistem pembayaran di Tanah Air mulai memberlakukan aturan pembatasan kepemilikan kartu kredit. Di mana bagi nasabah berpenghasilan di kisaran Rp3 juta hingga Rp10 juta, tak diperbolehkan memiliki jumlah kartu lebih dari empat keping dari dua penerbit.

Aturan pembatasan kepemilikan kartu kredit oleh BI sendiri membuat industri kartu kredit sedikit pesimis. Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) bahkan memproyeksi pertumbuhan jumlah kartu hanya akan sebesar 5% pada tahun ini. Namun, OCBC NISP masih mampu mencatatkan pertumbuhan jumlah kartu sebesar 32% secara setahunan per September 2014.

“Dari sisi jumlah kartu bisa tumbuh di angka 32%. Jumlah kartu 130 ribuan per September, tapi akhir tahun (2014) tidak akan bertambah signifikan,” pungkasnya.

Related posts