Apexindo Siap Jajakan Obligasi di Singapura - Rilis Obligasi Rp 4,8 Triliun

NERACA

Jakarta – Meskipun tahun 2015 masih banyak ditemui hambatan, namun ekspansi bisnis beberapa perusahaan di sektor minning masih cukup besar. Selain PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang mengangarkan belanja modal sekitar Rp 5 triliun atau melonjak 127,2% dibandingkan Rp 2,2 triliun pada tahun lalu untuk ekspansi bisnis, berikutnya ada PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) yang menginvestasikan belanja modal cukup besar.

Rencananya, perseroan akan menerbitkan surat utang atau obligasi dollar Singapura di Bursa Singapura sebesar 500 juta atau setara dengan Rp 4,8 triliun untuk mendanai belanja modal. Menurut informasi yang disampaikan perseroan di Jakarta, Rabu (28/1), nantinya dana hasil penerbitan obligasi akan digunakan untuk keperluan pembiayaan kembali utang perseroan dan modal kerja perseroan serta pendanaan lain secara umum.

Surat utang atau obligasi ini akan diterbitkan perseroan melalui entitas anak usahanya secara bertahap. Perseroan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 6 Maret 2015 mendatang guna meminta persetujuan rencana ini. Obligasi atau surat utang ini dijamin oleh perusahaan selaku induk usaha. Surat utang ini diterbitkan tidak untuk pihak terafiliasi perseroan. Obligasi ini memiliki jangka waktu maksimal lima tahun dan bunga maksimal 10%-12% per tahun.

Sebelumnya, perusahaan sektor minyak dan gas ini sempat menunda menerbitkan surat utang dalam bentuk mata uang dollar AS, lantaran tingginya suku bunga. Wakil Direktur Utama PT Apexindo Pratama Duta Tbk Erwin Sutanto menjelaskan, perseroan tidak menerbitkan surat utang dalam bentuk mata uang AS (Global Bonds) karena tingginya suku bunga dan selanjutnya perseroan mencari opsi lain,”Dengan tingginya tingkat suku bunga di tahun ini membuat perseroan tidak jadi menerbitkan surat utang. Untuk itu perseroan mencari pendanaan dari opsi lain agar bisa mencukupi kebutuhan uang," ujarnya.

Menurutnya, perseroan sudah mendapatkan sumber pendanaan dari yang lain dengan tingkat suku bunga yang lebih baik,”Kami telah mendapatkan pembiayaan untuk melakukan pembelian satu unit offshore rig dari lembaga pembiayaan asal Tiongkok, Ocean Tune sebesar US$ 175 juta. Suku bunga pembiayaan yang didapatkan kami sebesar Libor+5,75%," katanya.

Dia menerangkan, rencana penerbitan global bonds perseroan memiliki tingkat suku bunga maksimal 10%. Perseroan berniat menerbitkan global bonds sebesar US$ 200 juta melalui anak usahanya, Ocean Peak Holding B.V untuk pembelian offshore rig senilai US$ 250 juta.

Hingga Desember tahun ini, perseroan berhasil meraih kontrak sebesar US$ 614 juta. Sebagian besar kontrak perusahaan pengeboran ini berasal dari pengeboran lepas pantai (offshore), yaitu 80% dari total nilai kontrak.(bani)

Related posts