FIKI Targetkan Pertumbuhan Industri Kimia 6,4% - Sepanjang 2015

NERACA

Jakarta – Direktur Eksekutif Federasi Industri Kimia Indonesia (FIKI), mengatakan saat ini industri dalam negeri dalam mengalami tekanan yang besar, tantangan itu diantaranya adalah depresiasi rupiah terhadap dollar, kenaikan tarif listrik, kenaikan upah buruh, masuknya produk impor. Hal ini semua berdampak pada perlambatan pertumbuhan industri terutama industri kimia. Meski awalnya FIKI menargetkan industri ini dapat tumbuh di atas 7%, tapi dengan melihat kondisi yang ada hanya bisa menargetkan 6,4%.

“Tantangan industri saat ini sangat berat, makanya kami tidak bisa mematok pertumbuhan besar, tapi masih di atas 6%, dan target kami memang 6,4% tahun ini,” katanya kepada Wartawan, di Jakarta, Rabu (28/1).

Tantangan besar lainnya adalah industri kimia ini masih terbelenggu oleh bahan baku impor dimana pada tahun 2011 impor bahan baku industri ini sebesar US$ 5,1 milliar, dan di tahun 2014 lalu bisa mencapai US$ 17 milliar, dengan kondisi terjadinya depresiasi rupiah saat ini menjadikan cost produksi industri ini meningkat tajam.

“Masalah utama adalah di bahan baku, harus impor dan harganya terus naik karena melemahnya rupiah. Tapi jika kita tidak impor maka tidak bisa berproduksi, otomatis tahun ini pasti ada pengurangan produksi meski pun belum bisa kami proyeksikan. Makanya kami turunkan target kami dari sebelumnya,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur, Kementrian Perindustrian, Harjanto, menambahkan, tahun ini pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,7%. Jika ingin mengejar itu tentu, industri harus tumbuh di atas 7% dan kalau bisa 9% dari PDB karena ini akan mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu yang bisa menopang dari ini adalah industri manufaktur, karena memang industri yang menyediakan bahan dasar untuk industri yang lain.

“Peranan industri manufaktur, seperti industri kimia dasar ini sangat penting. Karena industri ini nantinya yang akan menopang industri lain, jika mereka tidak berproduksi maka industri lain akan jatuh. Makanya, itulah pentingnya pertumbuhan industri ini,” katanya.

Meskipun tahun ini, sambung Harjanto dirinya memproyeksikan sektor manufaktur hanya mampu tumbuh 6% pada tahun 2015 ini. Tapi besar harapan kami sebetulnya sektor manufaktur mampu tumbuh lebih tinggi dari itu. Dan untuk mencapai pertumbuhan di atas 6% pun harus bisa menarik realisasi investasi-investasi skala besar pada tahun ini.

“Untuk dapat mengejar pertumbuhan tinggi tentu harus ditopang oleh investasi yang tinggi di sektor ini, dan harapannya tahun ini banyak investor masuk yang bermain disektor ini, sehingga mampu mendongkar pertumbuhan sesuai target, bahkan bisa melampauinya,” ujarnya.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Perindustrian, Anshari Bukhari menargetkan pertumbuhan industri manufaktur pada 2015 ditargetkan sebesar 6,1%, lebih tinggi dari pertumbuhan industri tahun ini sebesar 5,7% ditopang dengan investasi di sektor makanan minuman, tembakau, industri barang kayu dan hasil hutan lainnya, serta industri alat angkut, mesin dan peralatan.

“Pertumbuhan industri tahun depan kami perkirakan bisa menyentuh 6,1% dari tahun ini sekitar 5,7% dengan pendorong utama dari investasi industri makanan minuman serta kelanjutan investasi hilirisasi mineral logam atau smelter karena mencakup investasi jangka panjang dengan nilai yang cukup besar,” ujarnya.

Untuk mencapai itu pun perlu dukungan investasi yang tinggi, mengingat ini berkaitan dengan rencana pengembangan wilayah industri berupa pembangunan 13 kawasan industri di luar Jawa serta pembangunan 22 sentra IKM di luar Jawa.

“Untuk investasi di sektor makanan minuman atau produk turunan sektor agro pada tahun depan pertumbuhannya diperkirakan masih cukup kuat seiring dengan ekspansi dari perusahaan asing dan lokal,” paparnya.

Dengan investasi yang marak terjadi di sektor pengolahan sumber daya alam dan hasil tambang (smelter), makanan minuman, industri barang kayu dan hasil hutan lainnya, maka pemerintah menargetkan total investasi di sektor industri manufaktur pada tahun 2015 baik dari investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA) bisa mencapai Rp270 triliun atau tumbuh dari proyeksi investasi tahun ini Rp 210 triliun.

“Kami cukup optimistis dengan target investasi di industri manufaktur sebesar Rp270 triliun pada 2015 itu bisa dicapai karena tidak ada lagi aktivitas politik yang membuat investor wait and see. Selain itu, dengan adanya sistem birokrasi investasi satu pintu di BPKM diharapkan menarik minat investor guna memperoleh kemudahan pengurusan perizinan investasi,” tukasnya.

Related posts