IHSG Mulai Melewati Fase Konsolidasi

NERACA

Jakarta –Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) seharian berada di zona merah akibat maraknya aksi ambil untung investor. Tercatat mengakhiri perdagangan Rabu sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 8,297 poin (0,16%) ke level 5.268,852. Sementara Indeks LQ45 terkoreksi 4,404 poin (0,48%) ke level 911,694.

Analis Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya mengatakan, IHSG masih berkutat di dalam fase konsolidasi pasca pergerakan menembus level tertingginya di level 5.323 pada Jumat pekan lalu (23/1),”Penguatan indeks BEI yang sudah tinggi, dimanfaatkan investor untuk aksi ambil untung,”ujarnya di Jakarta, Rabu (28/1).

Dia menambahkan, potensi indeks BEI kembali ke area penguatan masih cukup terbuka menyusul ekspektasi data ekonomi Indonesia yang sedianya akan di rilis pada pekan depan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang disinyalir masih cukup stabil. Dimana, situasi tersebut akan mendorong dana asing masuk ke pasar saham domestik sehingga mengangkat IHSG.

Berikutnya, indeks BEI diproyeksikan akan bergerak di kisaran 5.252-5.348 poin pada perdagangan Kamis (29/1) dengan kecenderungan menguat. Sementara analis HD Capital, Yuganur Wijanarko menambahkan bahwa sebagian pelaku pasar masih melakukan aksi ambil untung sehingga IHSG bergerak dalam area negatif. Namun, penurunan indeks BEI masih dalam kisaran terbatas karena faktor teknikal menunjukan tren penguatan,”Pelaku pasar masih ada yang melakukan aksi beli untuk menahan penurunan, kami optimis IHSG masih 'bullish' untuk kembali ke level batas atas baru di 5.330 poin," katanya.

Pada perdagangan kemarin, transaksi investor asing hingga sore terpantau melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 424,062 miliar di seluruh pasar. Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 192.432 kali dengan volume 5,828 miliar lembar saham senilai Rp 5,572 triliun. Sebanyak 143 saham naik, 141 turun, dan 95 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia berakhir mix menutup perdagangan sore. Pelaku pasar Asia masih dibayangi sentimen dari Yunani yang menolak program penghematan Uni Eropa. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Elang Mahkota (EMTK) naik Rp 1.300 ke Rp 7.800, Indo Kordsa (BRAM) naik Rp 1.210 ke Rp 6.125, Mayora (MYOR) naik Rp 575 ke Rp 24.100, dan Lion Metal (LION) naik Rp 400 ke Rp 10.200.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.325 ke Rp 57.175, Astra Agro (AALI) turun Rp 600 ke Rp 23.675, Tower Bersama (TBIG) turun Rp 350 ke Rp 9.400, dan BRI (BBRI) turun Rp 225 ke Rp 11.700.

Pada penutupan perdagangan Sesi I, IHSG ditutup turun tipis 6,557 poin (0,12%) ke level 5.270,592. Sementara Indeks LQ45 melemah tipis 3,723 poin (0,41%) ke level 912,375. Investor asing masih menahan diri, sedangkan pemodal domestik melepas saham-saham lapis dua. Saham-saham komoditas masih bertahan di zona hijau.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 109.380 kali dengan volume 3,451 miliar lembar saham senilai Rp 3,229 triliun. Sebanyak 133 saham naik, 134 turun, dan 76 saham stagnan. Transaksi tutup sendiri (crossing) saham PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) di pasar negosiasi membuat volume dan nilai transaksi menanjak. Pengalihan saham bernilai Rp 694 miliar dibantu broker CLSA Indonesia (KZ).

Bursa-bursa regional mulai balik arah ke zona hijau pada siang. Posisi indeks yang sudah rendah dimanfaatkan investor untuk berburu saham. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Elang Mahkota (EMTK) naik Rp 1.300 ke Rp 7.800, Mayora (MYOR) naik Rp 650 ke Rp 24.175, Lion Metal (LION) naik Rp 400 ke Rp 10.200, dan Matahari (LPPF) naik Rp 300 ke Rp 15.675.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.350 ke Rp 57.150, BRI (BBRI) turun Rp 200 ke Rp 11.725, Bank Danamon (BDMN) turun Rp 180 ke Rp 4.720, dan Tower Bersama (TBIG) turun Rp 150 ke Rp 9.600.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka terkoreksi 4,92 poin atau 0,09% menjadi 5.272,22, sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak melemah 1,24 poin (0,14%) menjadi 914,85,”Sentimen eksternal yang cenderung negatif berimbas pada pasar saham Indonesia sehingga IHSG mengalami pelemahan pada perdagangan saham Rabu," kata Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah.

Dia mengemukakan bahwa data perekonomian Tiongkok masih menunjukan perlambatan, laba perusahaan industri mengalami penurunan akibat dibebani oleh kelebihan kapasitas dan penurunan di sektor properti,”Situasi itu akan membebani pertumbuhan aktivitas investasi ke depannya,"ujarnya.

Sentimen lainnya, lanjut dia, pesanan barang tahan lama Amerika Serikat serta laporan keuangan beberapa perusahaan cenderung mengecewakan sehingga membuat indeks Wall Street mencatatkan penurunan dan berimbas negatif pada pasar Asia, termasuk IHSG BEI.

Sementara itu, Analis Asjaya Indosurya Securities William Suryawijaya mengatakan, pergerakan indeks BEI berada dalam kisaran yang sempit, sedang berusaha keluar dari fase konsolidasi untuk kembali ke dalam tren penguatan,”Dana asing masih masuk ke pasar saham domestik menunjukkan bahwa kekuatan naik IHSG masih cukup besar,”tuturnya.

Bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka melemah 80,85 poin (0,33%) ke 24.726,43, indeks Bursa Nikkei turun 17,27 poin (0,10%) ke 17.751,03, dan Straits Times menguat 13,33 poin (0,43%) ke posisi 3.426,85. (bani)

Related posts