Subjek Kedaulatan Pangan

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Industri dan Perdagangan

Konsep kedaulatan dan kemandirian ekonomi, arus utama kebijakannya adalah terletak pada penguatan pada sisi subjek (saya, kami, kita), bukan terletak pada faktor objeknya (batubara, sawit, karet, singkong, jagung, dan sebagainya). Jadi revolusi karakter ada pada posisi penguatan subjek yang harus diberikan stimulasi fiskal dan moneter agar mereka mampu mengkapitalisasi nilai tambah pada objeknya.

Proses ini akan berjalan dengan produktifitas yang tinggi jika terdapat sejumlah pasokan karyawan yang kompeten dan mampu bekerja dengan produktifitas tinggi. Dengan demikian maaf harus dikatakan apa adanya bahwa progam swasembada pangan atau berdaulat dan berdikari di bidang pangan hanya akan bisa terjadi jika yang berperan di situ adalah para petani sebagai subyek pelaku enterpreneur sektor pertanian yang dibantu oleh para pekerja sektor pertanian yang mampu mengoperasikan teknologi pertanian secara tepat.

Sebagai penegasan berarti bahwa untuk berdaulat dan berdikari di bidang pangan diperlukan enterpteneur pertanian, bukan dibebankan kepada petani penggarap atau petani gurem yang hanya memiliki lahan seluas rata-rata 0,25-0,50 ha. Jadi supaya berdaulat dan berdikari di bidang pangan, sektor ini harus dibangun dalam satu konsep "industrialisasi" sektor pertanian.

Dengan strategi seperti itu, maka para kawula muda yang sekarang menjadi mahasiswa di berbagai fakultas pertanian akan terdorong masuk menjadi para enterpreneur di bidang pangan sepanjang pemerintah memberikan dukungan iklim usaha yang kondusif.

Dengan pola pendekatan berfikir strategik seperti itu, maka salah satu tugas dan fungsi kementrian ekonomi adalah mencetak sebanyak mungkin calon-calon kelas menengah baru sebagai calon majikan baru para penyedia pekerjaan. Pinjaman-pinjaman modal diberikan kepada mereka yang berbakat dan menggeluti bidang kewirausahaan dengan tingkat suku bunga yang kompetitif.

Tingkat NPL-nya dijamin rendah jika pinjaman diberikan kepada mereka yang berbakat, dibandingkan dengan jika diberikan kepada mereka yang tidak berbakat atau diberikan untuk keperluan yang bersifat konsumtif. Karena itu, kredit-kredit yang bersifat konsumtif volumenya harus dibatasi dan tingkat suku bunganya tinggi. Sementara itu, kredit yang bersifat produktif suku bunganya direndahkan dan volumenya diperbesar, termasuk untuk membiayai start-up bisnis.

Kemiskinan, pengangguran tidak bisa diatasi hanya dengan mengandalkan masuknya majikan-majikan asing yang dinina bobokkan dan dimanjakan dengan berbagai kemudahan dan insentif, sementara kita hanya menyiapkan sejumlah progam untuk menyiapkan tenaga kerja dengan sejumlah kompetensi yang majikan asing perlukan.

Mereka yang menikmati keuntungan maksimal, sementara itu warga kita yang bekerja di perusahaan mereka hanya menikmati manfaat yang marginal. Ada ungkapan yang menarik disampaikan oleh "Muhammad Yunus" pendiri "Grammen Bank" untuk kita jadikan bahan renungan bersama. Ungkapannya adalah bawa kaum miskin tidak berbeda dengan pohon bonsai.

Related posts