Indonesia Terjebak Ekspor Bahan Mentah

NERACA

Jakarta – Indonesia masih mengandalkan ekspor bahan mentah seperti karet, Crude Palm Oil (CPO) ataupun minyak. Padahal Indonesia mempunyai potensi untuk menjadikan bahan-bahan mentah tersebut menjadi bahan setengah jadi atau bahan jadi. Bahkan, Menteri Keuangan Bambang P.S Brodjonegoro menyebutkan ekspor bahan mentah yang telah dilakukan karena terbuai dengan harga yang cukup tinggi namun itu tak sekedar jebakan.

“Pada 2010 – 2011, Indonesia sempat terbuai oleh harga komoditas yang telah mencapai puncaknya. Makanya saat itu pemerintah membiarkan kekayaan alam yang masih dalam keadaan mentah tersebut diekspor padahal bahan-bahan mentah tersebut masih bisa diolah dan akan memiliki nilai tambah. Pada saat harga komoditi mencapai puncak, ada problem untuk Indonesia. Seolah-olah kita lupa bahwa itu adalah jebakan,” ungkap Bambang di Jakarta, Selasa (27/1).

Hal berbeda yang dilakukan oleh Negeri Jiran Malaysia yang tidak lagi fokus menjual barang mentah namun produk olahan yang bernilai tinggi. Sementara Indonesia masih keasyikan mengekspor karet dan bahan mentah lainnya. “Bisa disebut Indonesia masih tertinggal dari Malaysia dalam hal pengembangan industri hilir,” ucapnya.

Meski agak terlambat, menurut Bambang, pemerintah kini tengah fokus mengembangkan industri pengolahan untuk perkebunan dan pertambangan salah satu contohnya hilirisasi minerba. Di sisi lain, mengekspor barang mentah tak lagi menguntungkan mengingat harga di pasaran dunia sedang menurun. “Strategi kedepan adalah memperkuat di sektor manufaktur hilirisasi, baik pertambangan maupun perkebunan,” jelas Bambang.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Indonesia pada Januari-Oktober 2014 senilai US$ 148,06 miliar. Angka ini turun 1,06% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data BPS menyebutkan, ekspor non migas Indonesia didominasi oleh 2 kelompok barang yaitu bahan bakar mineral (terutama batu bara) serta lemak dan minyak hewan/nabati (terutama CPO).

Pada Januari-Oktober 2014, ekspor bahan bakar mineral mencapai US$ 17,71 miliar. Angka ini adalah 14,49% dari total ekspor non migas. Sedangkan pada periode yang sama, ekspor lemak dan minyak hewan/nabati tercatat US$ 17,6 miliar. Ini adalah 14,41% dari total ekspor non migas.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menilai penyebabnya adalah ekspor Indonesia saat ini terlalu mengandalkan komoditas mentah. Sementara dalam beberapa tahun terakhir harga komoditas sedang dalam tren menurun. “Dulu kita ekspor tekstil, sepatu, bagus. Sekarang ekspor Indonesia 50% lebih bahan mentah,” tegas Agus.

Menurut Agus, 30% ekspor Indonesia adalah minyak sawit mentah alias CPO. Sementara 27% adalah batu bara. “Harganya sedang tertekan,” ujarnya. Indonesia, tambah Agus, semestinya punya komitmen untuk meningkatkan ekspor produk-produk yang bernilai tambah seperti dulu. “Itu harus jadi komitmen nasional” tegasnya.

Pertumbuhan Melambat

Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Axel Van Trotsenburg mengatakan, pelemahan harga komoditas dunia saat ini akibat krisis ekonomi beberapa negara maju dan baru mulai pulih secara bertahap, berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Indonesia sampai saat ini masih mengandalkan ekspor komoditas, sementara harga sampai saat ini masih turun. Ditambah lagi belanja pemerintah yang rendah dari yang diperkirakan dan ekspansi kredit yang lebih lambat,” kata Van Trotsenburg.

Van Trotsenburg mengungkapkan, secara keseluruhan negara-negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat tahun ini. Tapi, pertumbuhan ekonomi kawasan ini akan lebih tinggi pada 2015, seiring makin pulihnya ekonomi negara maju yang berdampak pada meningkatnya permintaan berbagai komoditas.

“Asia Timur dan Pasifik akan terus memiliki potensi pertumbuhan yang lebih tinggi dan lebih cepat dibandingkan kawasan berkembang lainnya. Hal itu bisa terjadi jika pemerintahnya menerapkan agenda reformasi, termasuk menghilangkan hambatan-hambatan investasi, meningkatkan daya saing ekspor, dan mengatur belanja negara,” jelasnya.

Ia menambahkan, negara berkembang di Asia Timur tahun ini dan tahun depan akan tumbuh rata-rata 6,9%. Untuk Tiongkok, pertumbuhan ekonominya akan melambat menjadi 7,4% tahun ini dan 2015 diperkirakan 7,2%. Dibandingkan Indonesia, ekonomi Malaysia masih lebih tumbuh lebih baik.

Related posts