Fed Rate Naik, Ekonomi RI Hanya 5,2%

NERACA

Jakarta - Head Macro Research,Asia, Standard Chartered Bank, David Mann memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini berada pada level 5,2% atau berada di batas bawah dari asumsi makro Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RABPN) 2015 yang dipatok di kisaran angka 5,2%-5,8%.

Menurut David, pertumbuhan ekonomi yang diprediksi di batas bawah tersebut, lantaran Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed yang berencana akan menaikkan suku bunganya (fed fund rate) sebesar 25 basis poin (bps) pada September 2015. “Kami berada di bawah prediksi pemerintah, karena ini disebabkan oleh kenaikan suku bunga AS. Kenaikan Fed rate ini berpengaruh padagovernment bondsmereka dan FDI,” ujarnya di Jakarta, Senin, (26/1)

Lebih lanjut dia menambahkan, dengan adanya kenaikan suku bunga AS ini, maka akan mendorong Bank Sentral Indonesia (BI) untuk ikut menaikkan suku bunga acuannya. David memprediksi, BI akan menaikkan suku bunganya sebesar 50 bps di tahun ini. “Sensitivitas pasar akan cukup tinggi. Mereka (BI) khawatir akan efek jangka pendek dari kenaikan suku bunga tersebut, efek dari fed fund rate ke BI rate 50 bps,” tukasnya.

David menambahkan, rencana Bank Sentral AS untuk menaikkan suku bunganya, dikhawatirkan akan terjadi pembalikan modal (dana asing). Di mana investor asing yang membenamkan dananya di negara berkembang termasuk Indonesia, akan ditarik kembali dan di bawa pulang ke AS. “Naiknya suku bunga AS akan berdampak pada perekonomian Indonesia. Dana-dana akan mengalir ke AS,” ucap David.

Hal sama juga pernah dilontarkan oleh Ekonom senior Standard Chartered Bank Indonesia Fauzi Ichsan yang menyebutkan ekonomi Indonesia akan sulit menembus 5,5% di tahun 2015, terlebih lagi untuk mencapai target APBN 2015 yang sebesar 5,8%. Pasalnya, dampak negatif dari penaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) menghadang.

"Dengan penaikan harga BBM, dampaknya di semester I 2015 relatif negatif. Saya lihat pertumbuhan ekonomi 2015 akan berada pada 5,2%.Pertumbuhan ekonomi sulit tembus di atas 5,5% karena ada prediksi kenaikan Fed rate pada semester II 2015," jelas Fauzi.

Jika Fed rate benar-benar naik, Bank Indonesia (BI) akan menaikan BI rate guna meredam pelarian modal. Pertumbuhan ekonomi bisa saja melebihi 5,5% bila BI tidak menaikkan BI rate, sebuah dilema bagi otoritas moneter.

Sementara itu, menurut Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan pertumbuhan ekonomi 5,8 persen tahun 2015 sulit tercapai.

Dia memproyeksikan untuk 2015, ekonomi Indonesia hanya tumbuh pada kisaran 5,3 persen-5,6 persen, karena dampak kenaikan harga BBM akan menekan konsumsi masyarakat pada triwulan I dan triwulan II tahun depan.

Selain itu, kenaikan suku bunga BI Rate sebagai respon bank sentral atas penyesuaian harga BBM bisa menyebabkan perlambatan pertumbuhan investasi, sehingga pertumbuhan ekonomi tidak bisa lari kencang mendekati enam persen.

"Dampak kenaikan harga BBM pada November 2014 lalu akan menekan konsumsi masyarakat, jadi pertumbuhan konsumsi akan rendah di triwulan satu dan dua. Ini masa konsolidasi, apalagi harga BBM langsung direspon dengan kebijakan moneter ketat, ini akan menekan investasi. Apalagi nanti jika the fed menaikan suku bunga acuannya" tandasnya. [agus]

Related posts