Berebut Legitnya Kue Logistik Dalam Negeri

NERACA Jakarta – Target agresif pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang dipatok pemerintah sebesar 7%, terus memacu kabinet kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) terus berkerja keras untuk mencapai realisasi tersebut. Kendatipun saat ini, pelaku usaha menyakini masih positifnya pertumbuhan ekonomi dipastikan bisa mendatangkan investor asing. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi positif bakal memberikan dampak positif industri logistik dan terlebih Indonesia memiliki potensi pasar yang menjanjikan.

Tiap tahunnya pertumbuhan pasar logistik terus meningkat tajam. Jika di tahun 2011, potensi bisnis logistik mencapai Rp 1.400 triliun, berikutnya tahun 2013 nilai bisnis logistik menembus angka US$ 150 miliar atau Rp 1.722 triliun. Maka di tahun 2015 nanti diprediksikan akan tumbuh 14,7% dengan estimasi mencapai Rp 1.849 triliun hingga Rp1.951 triliun.

Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo), Budi Puryanto mengatakan, kondusifnya pertumbuhan ekonomi dan stabilitas iklim politik serta keamanan memacu bisnis logistik terus tumbuh dan optimistis pasar logistik Indonesia bisa mencapai Rp 1.849 triliun,”Prediksi pasar logistik Rp 1.849 triliun atau tumbuh 14,7% itu termasuk kegiatan logistik dan transportasi yang menyebar di sekitar 17 ribu pulau di Indonesia,”ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Presiden Asosiasi Logistik Indonesia, Zaldy Ilham Masita, positifnya pertumbuhan ekonomi bakal mendorong pertumbuhan pasar logistik dalam negeri, sehingga memacu perusahaan logistik asing masuk ke Indonesia. Menurutnya, dua faktor pendorong pertumbuhan logistik adalah, pertama, perkembangan ekonomi Indonesia dan terus meningkatnya perdagangan domestik plus luar negeri.

Kedua, maraknya perusahaan yang melempar aktivitas logistiknya ke pihak ketiga atau alih daya (outsourcing). Jumlahnya pun kelak akan terus membesar, karena saat ini baru 15-20% perusahaan yang menyerahkan urusan logistiknya ke pihak luar. Besarnya potensi pasar logistik di Indonesia, juga diperkuat Freddy Chang, Vice President Singapore Post. Dirinya menuturkan, industri logistik Indonesia punya potensi sangat besar untuk berkembang. Hal iu tercermin dari pertumbuhan pesat perdagangan online seiring dengan meningkatnya penggunaan internet dan penggunaan gadget,”Indonesia punya peluang bagus karena daya beli kelas menengahnya tumbuh terutama untuk e-commerce," katanya.

Dukungan pemerintah dinilai penting oleh Freddy, terutama dalam mempercepat pembangunan infrastruktur logistik. Arah kebijakan pemerintahan Joko Widodo dinilai sudah mengarah pada hal itu."Lalu pemerintah juga punya atensi terhadap pengembangan industri kreatif dan e-commerce, misalnya dengan mendorong pembayaran secara elektronik dan digitalisasi ekonomi,”ujarnya.

Legitnya bisnis logistik dalam negeri, menjadi peluang dan ancaman bagi pelaku usaha dalam negeri. Menjadi peluang, bagaimana pelaku usaha bisa memanfaatkan potensi pasar tersebut dengan memacu daya saing dan mampu menjawab tantangan efisiensi baik dari harga, pelayanan dan ketepatan dalam pengiriman. Sebaliknya, menjadi ancaman bila tantangan tersebut tidak mampu di jawab pelaku usaha lokal.

Kebanjiran Pemain Baru

Tengok saja, jumlah pelaku bisnis logistik tiap tahun terus berlimpah. Tidak hanya pemain lokal, tetapi juga perusahaan asing. Mulai dari perusahaan kelas gurem hingga kakap bertarung di sini. Lihat saja, di third party logistic kurang-lebih ada 50-60 perusahaan, freight forwarding ada 2.000 perusahaan, transporter menurut Organda ada 3.000 dan perusahaan kurir menurut Asperindo ada 1.200 perusahaan.

Pemain besar dan kawakan pun tetap eksis meramaikan bisnis logistik. Sementara wajah baru terus bermunculan. Saking menggiurkannya bisnis ini, sejumlah perusahaan rental pun terjun ke sana, seperti TRAC dan Cipaganti. Bahkan, beberapa BUMN tak rela hanya sebagai penonton legitnya kue logistik. Tak mengherankan, mereka pun melebarkan sayap, misalnya Pelindo, Kereta Api dan Garuda Indonesia.

Yang menarik, dan menjadi fenomena belakangan ini, adalah masuknya perusahaan ritel ke industri logistik karena tergelitik ingin mencicipi. Siapa dia? Dia tidak lain adalah Grup Sigmantara (Alfamart, Alfamidi, Alfa Express, Atri Distribution) dengan mengibarkan bendera Atri X’press yang bergerak dalam layanan kurir dan total logistik.

Maka menjawab persaingan pasar global yang cukup dinamis, perbaikan sistem teknologi informasi menjadi hal penting dan disamping peningkatan daya saing sumber daya manusia (SDM) dalam negeri. Kemudian disusul membangun kompetensi di semua jenis profesi penunjang sektor logistik. Hal inilah yang sudah dilakukan PT Jalur Nugaraha Ekakurir (JNE). Di usia 24 tahun ini, JNE berhasil menjadi salah satu perusahaan logistik nomor satu di Indonesia. Namun, pencapaian ini dirasa belum cukup karena JNE sedang mempersiapkan diri untuk melebarkan sayapnya ke mancanegara. Untuk mewujudkannya, perusahaan ini berencana listing di lantai bursa paling lambat tahun 2017.

Managing Director Tiki Jalur Nugraha Ekakurir, Johari Zein pernah bilang, niatan mengakuisisi perusahaan logistik tak cuma menjadi hasrat Tiki JNE. Namun juga bukti kekokohan perseroan dalam melebarkan sayap ekspansinya ke luar negeri. Hingga kini, pilihan Tiki JNE jatuh kepada Filipina dan Thailand. Selain karakateristik masyarakatnya yang mirip Indonesia, pertimbangan perusahaan itu adalah industri e-commerce dua negara itu yang sedang berkembang.

Kemudian untuk melebarkan sayap ke mancanegara, Tiki JNE juga pasang tiga strategi untuk menguatkan pasar domestik. Pertama, memperkuat jaringan bisnis di dalam negeri. Sebelumnya, manajemen perusahaan ini mengaku memiliki 5.000 hub di Indonesia. Di Ibukota, perusahaan ini memiliki empat hub besar dengan 400 titik transit.

Kedua, memperkuat kualitas sumber daya manusia. Ketiga, memanfaatkan teknologi. Tiki JNE sedang menggagas penggunaan mesin swalayan pengiriman barang. Nanti, konsumen bisa mencatatkan barang yang akan mereka kirim melalui mesin serupa anjungan tunai mandiri (ATM). Mesin itu memuat alat untuk menimbang barang, informasi tujuan pengiriman dan harga pengiriman. "Itu self assessment dan kalau sudah selesai tinggal bayar ke kasir," jelas Johari. Tiki JNE berharap bisa bekerjasama dengan peritel minimarket untuk menempatkan mesin itu. (bani)

Related posts