Kebijakan Ekonomi Sudah On The Track - Respon BEI 100 Hari Jokowi

NERACA

Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai, dalam 100 hari kepemimpinan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) ada beberapa kebijakan yang mendorong perekonomian tahun ini,”Policy Jokowi ke masyarakat dalam perbaikan infrastruktur berdampak perbaikan perekonomian Indonesia lebih baik di 2015. Kita harapkan langkah konkret infrastruktur dalam periode beliau lima tahun ke depan,”kata Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI, Samsul Hidayat di Jakarta, Senin (26/1).

Dia menjelaskan, kebijakan Jokowi sudah on the track, karena memberikan dampak positif ke investasi portfolio. Apalagi asing merasa investasi ke depan menjanjikan. Samsul menerangkan, beberapa hal konkret juga terkait penurunan harga BBM dari sisi penghematan anggaran karena impact penurunan minyak dunia,”Ekspektasi dari perekonomian yang membaik, membuat IHSG tidak berfluktuasi terlalu besar,”ungkapnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Ito Warsito pernah bilang, industri pasar modal domestik mendapat sentimen positif dari adanya harapan pertumbuhan perekonomian Indonesia sehingga mereduksi sentimen rupiah yang masih dibayangi pelemahan,”Investor global agak khawatir terhadap 'currency' kita, tetapi hal itu tereduksi oleh harapan pertumbuhan ekonomi domestik," ujar Ito Warsito.

Dia mengemukakan, pemerintah Indonesia cukup optimistis terhadap laju ekonomi pada tahun 2015 sebesar 5,8%, tercermin dalam RAPBN-Perubahan 2015. Dana RAPBN-P itu digunakan investasi jangka panjang sehingga akan menjamin pertumbuhan Indonesia ke depan,”Investor akan senang dengan hal itu, karena mereka berorientasi investasi untuk jangka panjang. Selama bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi investor tidak khawatir," ucapnya.

Ito menambahkan, kondisi global juga cukup mendukung industri pasar modal Indonesia. menyusul Bank Sentral Eropa (ECB) yang mengeluarkan stimulus keuangan dalam bentuk pembelian obligasi, situasi itu akan membuat likuiditas pasar meningkat.

Disebutkan, dua hal sentimen dari domestik dan global yang bertemu itu mendorong indeks BEI melanjutkan peningkatan. Sementara itu terkait konflik antara Komisi Pemberantasan Korupsi dan Polri, Direktur Pengawasan Perusahaan BEI Hoesen menegaskan, situasi itu tidak memengaruhi kinerja pasar modal Indonesia karena saat ini industri fokus terhadap laju perekonomian,”Pasar modal itu lebih independen, investor sudah tahu urusan politik. Dalam situasi situasi gonjang ganjing seperti ini pasar tetap jalan dan indeks BEI kembali mencatatkan level tertingginya," ucap Hoesen.

Tercatat menutup perdagangan Senin (26/1) awal pekan kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup anjlok 63,86 poin atau 1,20% ke level 5.260,02. Perburuan aksi jual investor yang memanfaatkan penguatan IHSG yang tinggi menjadi pemicu melemahnya indeks BEI.

Analis Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya mengatakan, koreksi yang terjadi terhadap indeks BEI masih dalam fluktuasi yang stabil, yang terlihat dari posisi penutupan perdagangan masih di atas level batas bawah (support) di 5.250 poin,”Indeks BEI sempat terkoreksi hingga sekitar 2%, namun menjelang penutupan tekanannya mulai berkurang, hal ini menunjukkan bahwa kekuatan naik IHSG belum berubah, potensi melanjutkan kenaikan masih cukup besar menuju target batas atas 5.348 poin," katanya. (bani)

Related posts