Produk Derivatif Kembali Diperdagangkan - Kontrak Opsi Saham dan KBIE

NERACA

Jakarta – Guna memberikan alternatif investasi yang lebih beragam kepada investor pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mereaktivasi produk derivatif berupa Kontrak Opsi Saham dan Kontrak Berjangka Indeks Efek (KBIE).

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI Samsul Hidayat menegaskan, reaktivasi akan dilakukan karena pada saat ini market size sudah besar,”Dulu market size kecil pada 2000-an hanya Rp300 miliar. Sekarang market size sudah Rp6 triliun. Diharapkan sekarang sudah bisa," ujarnya di Jakarta, Senin (26/1).

Samsul menjelaskan, produk ini akan berguna bagi yang punya portofolio beli di market bisa hedging atas aset mereka dengan lakukan derivatif di BEI. Kendati demikian, proses reaktivasi tersebut masih memiliki beberapa kendala dan ada risiko yang ditanggung,”Reaktivasi produk, kendala tidak sedikit yaitu bisnis pack, sistem, regulasi. Produk ini punya risk tinggi. Target belum ada, tes market saja, yang penting target diterima dulu. Pemahaman kepada masyarakat diharapkan lebih banyak. Hedging bisa cross tapi ini punya kita di market BEI, lindung nilainya juga di BEI,”ungkapnya.

Sebelumnya, pihak BEI terus kerja keras agar membuat bursa lokal lebih menarik dan salah satunya penyempurnaan pada produk turunan atau produk derivative yang diperdagangkan. Kata Samsul Hidayat, pihaknya telah merevisi peraturan tentang transaksi produk derivatif serta merevisi peraturan tentang transaksi produk derivatif.

Disebutkan, salah satu hal yang menjadi sasaran penyempurnaan adalah, soal batas penurunan hasil yang sebelumnya menggunakan poin, akan diubah menjadi persentase. Selama ini, investor wajib menjual produk derivatif yang dimilikinya, jika produk itu mengalami penurunan 6 poin - 10 poin.

Sementara, dalam peraturan yang baru akan menetapkan kewajiban jual dieksekusi jika harga produk derivatif turun 10%. Sebutlah sebuah produk derivatif di BEI memiliki level harga Rp 1.000. Si investor wajib menjual jika harganya turun 10 poin menjadi Rp 990. Padahal, penurunan level itu masih tipis. Bisa saja harganya sewaktu-waktu berubah arah.

Nah, jika menggunakan persentase, maka investor wajib menjual jika harga produk derivatif sudah turun ke level Rp 900. Dengan range penurunan yang lebih jauh, setidaknya bisa memberikan waktu bagi para investor memutuskan keputusan investasinya (untuk eksekusi jual) sembari mencermati adanya potensi perubahan arah harga.

Sebenarnya BEI telah memiliki produk derivatif yaitu kontrak opsi saham (KOS) dan kontrak berjangka indeks (KBI). Terjadinya krisis 2008 membuat investor tak tertarik bertransaksi, apalagi karena tingkat penurunan imbal hasil dibatasi oleh poin, sehingga banyak investor memilih berinvestasi di instrumen konvensional.

Tapi tentunya, dengan konsep baru ini diperlukan adanya pihak yang menjadi penggerak pasar (liquidity provider) yakni para perusahaan efek. "Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh perusahaan efek agar bisa menjadi liquidity provider, antara lain memiliki permodalan yang kuat,"kata Samsul. (bani)

Related posts