Atasi Inflasi, BI Rate Harus Turun 50 Bps

NERACA

Jakarta - Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sam Ratulangi Manado, Sulawesi Utara, Agus Tony Poputra, mengatakan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate seharusnya diturunkan sebanyak 50 basis poin (bps) menjadi 7,25% untuk mengatasi inflasi. Saat ini, BI Rate masih bertengger di level 7,75%.

"Langkah pertama sebaiknya menjadi 7,25% sambil melihat perkembangan di bulan Februari nanti. Kebijakan Bank Indonesia untuk mempertahankan BI Rate yang tinggi saat laju inflasi cenderung melemah merupakan keputusan yang kurang bijak," katanya, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (24/1), pekan lalu.

Menurut Agus, pada Januari 2015 diperkirakan akan terjadi inflasi negatif atau deflasi terkait penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) dan harga bahan makanan. Dengan demikian, kata dia, jika BI mempertahankan BI Rate pada tingkat tinggi saat kondisi potensi inflasi rendah, maka bila terjadi inflasi tinggi pada masa mendatang BI akan kehilangan ruang untuk menaikkan kembali BI Rate karena sudah terlampau tinggi.

"BI Rate yang tertahan tinggi tersebut akan memberikan dampak ke berbagai sektor. Khusus sektor perbankan, jika dipaksakan maka bunga kredit akan semakin tinggi. Tingkat inflasi yang tinggi tahun lalu sesungguhnya disebabkan oleh dorongan faktor biaya karena kenaikan harga BBM subsidi," katanya.

Dalam kondisi tersebut, dia berpendapat bahwa pemerintah semestinya melakukan kebijakan "supply side" (sisi pasokan) untuk mendorong suplai barang yang terdapat di pasar. "Bukan malah melalui kebijakan moneter BI dengan menaikkan BI Rate. Ini akan mengorbankan pertumbuhan ekonomi," katanya dan mengingatkan bahwa pada tahun 2014, pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali melemah.

Pengamat ekonomi Purbaya Yudhi Sadewa, menuturkan bahwa penurunan harga BBM pada awal Januari mampu menekan inflasi ke angka yang lebih rendah. "Jadi, tidak ada alasan BI kembali menaikan BI Rate, bahkan harusnya turun, meski inflasi setelah kenaikan BBM sebelumnya cukup tinggi," katanya, beberapa waktu lalu.

Purbaya mengungkapkan, pengambilan keputusan BI untuk menetapkan besaran suku bunga harus didasari pada perkiraan ke depan. "Dengan inflasi yang akan menurun pada bulan-bulan berikutnya, maka BI Rate tidak perlu berubah," ucap dia.

Purbaya berpendapat, langkah Federal Reserve AS menaikkan Fed Funds Rate akan sangat mempengaruhi ekonomi dalam negeri. Meski demikian, kebijakan eksternal tersebut tidak perlu serta merta dibarengi dengan keputusan BI untuk menaikkan BI Rate pula.

"Kondisi ekonomi kita berbeda dengan AS, jadi tidak perlu serta-merta menaikkan bunga," ujarnya. Lebih lanjut Purbaya menjelaskan, perekonomian Indonesia yang tengah melambat seharusnya ditanggapi oleh BI dengan menurunkan suku bunga.

Sebagaimana diberitakan, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) 7,75%, meskipun tekanan inflasi menurun setelah harga bahan bakar minyak pada 1 Januari 2015 turun, bahkan diperkirakan harga minyak dunia yang akan terus berada pada level rendah.

"Jika harga BBM terus turun akan memberikan sumbangan deflasi terhadap harga barang pada 2015. Diperkirakan dampak penurunan harga minyak dari yang sebelumnya berkisar 100 dolar AS per barel sekarang 50 dolar AS per barel akan miliki dampak positif pada inflasi," kata Direktur Departemen Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI, Juda Agung.

Sementara Menteri Keuangan, Bambang PS Brodjonegoro, menilai keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan pada 7,75% sudah tepat, meskipun tekanan inflasi diperkirakan mulai menurun. "Saya kira sudah pas keputusannya," terangnya.

Bambang menambahkan dalam kondisi perekonomian dalam negeri yang masih rentan terhadap tekanan eksternal, hal terbaik yang dapat dilakukan dalam jangka waktu dekat adalah menjaga stabilitas fundamental ekonomi. [ardi]

Related posts