BNI Buka Cabang di Korea dan Myanmar - Tahun Ini

NERACA

Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk menargetkan pembukaan cabang di Korea Selatan dan Myanmar terealisasi pada tahun ini. "Pengajuan pembukaan cabang di Korea Selatan sudah disampaikan pada akhir tahun 2014. Sementara untuk Myanmar sudah diajukan sejak setahun lalu," kata Direktur Utama BNI, Gatot Murdiantoro Suwondo, saat diskusi "Optimalisasi Dividen BUMN Untuk Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat", di Jakarta, Jumat (23/1) pekan lalu.

Menurut dia, ekspansi BNI ke kedua negara tersebut masuk Rencana Bisnis Bank (RBB) yang sudah disampaikan kepada pemegang saham. "Kita fokus dua negara tersebut, setelah itu baru kemudian buka di Malaysia," ungkapnya.

Gatot menjelaskan, untuk membuka cabang di luar negeri bukan perkara mudah karena harus mengikuti regulasi yang berlaku di suatu negara. Untuk itu BNI menerapkan strategi "based on related business", yaitu BNI siap menjembatani pengusaha nasional yang kebetulan ekspansi usaha ke luar negeri.

"Sedangkan dari negara tersebut kita mengharapkan ada investor yang mau menanamkan modal di Indonesia," terangnya. Kantor cabang BNI di Korea Selatan sesuai dengan permintaan berbentuk "full branch", namun yang di Myanmar sesuai ketentuannya tidak bisa langsung "full branch".

"Di Korea Selatan, selain menjembatani investor juga melayani jasa keuangan bagi para TKI. Sedangkan di Myanmar murni soal investasi yang terus meningkat di antara kedua negara," tegasnya.

Meski demikian, Gatot tidak merinci modal setor pendirian sebuah cabang bank di kedua negara tersebut, termasuk investasi gedung dan sumber daya manusia (SDM). "Modalnya (Korea Selatan) pasti besar namun pemenuhannya bisa bertahap. Sedangkan di Myanmar, negara itu sedang membenahi UU Perbankan-nya," kata Gatot.

Sementara, pembukaan kantor cabang BNI di Malaysia, dirinya mengatakan masih dalam tahap wacana. "Pembukaan cabang di Malaysia belum kita ajukan. Baru sebatas bicara dengan Otoritas Jasa Keuangan," ujarnya.

Namun sesuai ketentuan pembukaan bank di Negeri Jiran tersebut mengharuskan persyaratan memiliki modal sekitar Rp1 triliun, itu pun statusnya anak usaha bukan kantor cabang. [ardi]

Related posts