Pertumbuhan Ekonomi Capai Titik Tengah - Konsumsi RT Mendominasi

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia menyodorkan angka asumsi pertumbuhan ekonomi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2015 di kisaran 5,4%-5,8% dengan titik tengah 5,6%. Di mana kontribusi terbesar berasal dari komponen konsumsi rumah tangga (RT).

Menurut Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo, pihaknya memastikan bahwa pendorong utama pertumbuhan ekonomi di tahun 2015 adalah komponen konsumsi rumah tangga. Adanya kondisi tersebut, bank sentral optimis tahun ini ekonomi tumbuh di titik tengah 5,6%. “Jadi arahnya, BI jugaconfidentbahwa tahun ini lebih positif atau lebih baik dari tahun 2014 lalu. Pertumbuhan ekonomi akan lebih tinggi,” katanya di Jakarta, Jumat (23/1), pekan kemarin.

Selain konsumsi rumah tangga, lanjut Perry, komponen konsumsi pemerintah dan investasi pemerintah juga akan memberikan kontribusi yang lebih besar dibanding tahun 2014. Dia menjelaskan, pada 2014 pertumbuhan konsumsi pemerintah tidak lebih dari 1%, sedangkan pada tahun ini diperkirakan bisa berkisar 5-6%. “Belanja modal (capital expenditure/capex) pemerintah juga akan mendorong investasi pemerintah,” tukas Perry.

Sehingga, lanjut dia, peningkatan realisasi belanja modal pemerintah tersebut diperkirakan akan menjadimultiplier effectbagi kenaikan investasi swasta. “Hal itulah yang meyakinkan kami bahwa BI confidence pertumbuhan ekonomi akan lebih tinggi dari 2014,” tuturnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menginginkan adanya target yang realistis pada tahun ini. "Tahun 2014 kemarin pertumbuhan 5,1 (persen). Target 2015 antara 5,6-5,8 persen. Ini adalah sebuah target yang pesimis juga tidak, optimis juga tidak," kata Presiden.

Presiden yakin target yang telah dihitung dengan matang, bisa dipenuhi. "Saya kira angka yang kita inginkan juga bukan sebuah angka tanpa kalkulasi. Kita bisa sampai angka itu kalau 2 hal bisa terpenuhi," tegasnya.

Pertama, penyerapan anggaran harus di atas 90 persen. Kepala negara meminta kementerian/lembaga, dan pemerintah daerah memaksimalkan penyerapan anggaran untuk kepentingan rakyat. Jokowi mengaku bakal mengawasi penyerapan anggaran sejak awal tahun anggaran berjalan. "Sejak awal kita lihat BPKP nanti langsung dikendalikan presiden agar bisa pantau realisasinya agar betul-betul tercapai targetnya," ujarnya.

Kedua, pemerintah daerah diminta menggenjot investasi. Potensi daerah yang bisa dikembangkan untuk investasi, diyakini bakal membantu menggairahkan perekonomian daerah dan nasional. "Oleh sebab itu investasi di daerah harus didorong agar investasi terus masuk," ucapnya.

Sementara itu, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan pertumbuhan ekonomi 5,8 persen tahun 2015 sulit tercapai. Dia memproyeksikan untuk 2015, ekonomi Indonesia hanya tumbuh pada kisaran 5,3 persen-5,6 persen, karena dampak kenaikan harga BBM akan menekan konsumsi masyarakat pada triwulan I dan triwulan II tahun depan.

Sedangkan Pengamat ekonomiFauzi Ihsanmemproyeksikan pada 2015 pertumbuhan ekonomi berada dikisaran 5,2 persen. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan akan terhambat, dengan adanya potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Central Amerika (The Fed). Sehingga, target pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8 persen akan sulit tercapai.

Menurut Fauzi, dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sebesar Rp 2.000 per liter akan berdampak pada semester I 2014. Namun, memasuki semester kedua, dampak BBM sudah mulai menghilang karena adanya pembangunan infrastruktur dari dana penghematan subsidi. [agus]

Related posts