Ekonomi Global dan Kontraksi Moneter

Oleh: Prof. Firmanzah., PhD

Rektor Universitas Paramadina, Guru Besar FEUI

Ekonomi global bersiap diri menghadapi salah satu risiko yang akan muncul seiring dengan berakhirnya program quantitative easing III di Amerika Serikat yaitu kontraksi moneter. Selain AS, Jepang juga menerapkan kebijakan ini senilai 80 triliun yen per tahunnya. Dalam waktu dekat Bank Sentral Eropa juga akan melakukan program serupa melalui pembelian obligasi sebesar 80 miliar euro yang akan dimulai Maret 2015 sampai dengan Septeber 2016.

Sejumlah kebijakan moneter non-konvensional digunakan oleh sejumlah negara/kawasan melalui peningkatan likuiditas dan uang beredar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan menggerakkan sektor riil yang mengalami stagnasi. Berakhirnya program ini oleh The Fed dan digantikan dengan penyesuaian suku bunga akan memunculkan kontraksi moneter.

Secara teoritis, kebijakan ini ditujukan untuk mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan menurunkan suku bunga melalui bertambahnya likuiditas di pasar. Banyak pihak yang melihat kebijakan ini perlu disertai dengan reformasi di sektor riil dan fiskal. Sehingga membanjirnya uang beredar disertai dengan sejumlah program seperti kemudahan dunia usaha, peningkatan daya saing dan reformasi struktural. Tanpa adanya perbaikan secara substantif di sektor riil, perpajakan dan struktural maka membanjirnya likuiditas akan mengurangi efektivitasnya pada pemulihan ekonomi suatu negara.

Harus diakui bahwa sepanjang tahun 2015, kondisi likuiditas global akan berada dalam situasi penuh dengan ketidakpastian sampai The Fed mengumumkan berakhirnya quantitative-easing III dan digantikan dengan instrumen penyesuaian sukubunga. Penyesuaian suku bunga oleh The Fed dapat dipastikan direspon juga dengan penyesuaian suku bunga di negara berkembang dan emerging market untuk menghindari capital outflow. Berakhirnya kebijakan ini dan dinaikkannya sukubunga di banyak negara membuat likuiditas di global menjadi terbatas.

Meski saat ini Bank Sentral Jepang tetap mempertahankan program quantitative easing mereka namun dipastikan tidak akan banyak membantu mengurangi risiko kontraksi moneter pasca pengumuman penyesuaian suku bunga oleh The Fed. Tidak hanya Bank Sentral Jepang, stimulus moneter yang akan dilakukan oleh Bank Sentral Eropa juga dikhawatirkan tidak akan banyak membantu menghilangkan risiko kontraksi moneter akibat terhentinya program QE-III di Amerika Serikat. Terlebih efektivitas program ini bagi zona Eropa untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan keluar dari stagnasi masih dipertanyakan.

Setelah perekonomian global mengalami kelesuan dan pelemahan harga komoditas, dengan kondisi ini, maka sumber ketidakpastian perekonomian global akan bertambah lagi yaitu kekhawatiran kontraksi moneter pasca pengumuman penyesuaian suku bunga oleh The Fed. Bagi Indonesia, kita perlu bersiap diri dan meningkatkan koordinasi antarpengambil kebijakan (pemerintah, BI, OJK, LPS) untuk mengambil langkah-langkah antisipatif yang tepat dan terukur.

Related posts