Ikuti Harga Minyak, PLN Bakal Turunkan Tarif Listrik

NERACA

Jakarta - PT PLN (Persero) menyatakan tarif listrik nonsubsidi 10 golongan pelanggan bakal mengalami penurunan pada Februari 2015. Kepala Divisi Niaga PLN Benny Marbun mengatakan, tarif listrik turun karena harga minyak sebagai salah satu acuan penetapannya terus mengalami penurunan. "Tarif listrik akan turun, karena harga minyak juga turun," katanya, seperti dikutip laman Antara, akhir pekan kemarin.

Golongan pelanggan listrik yang akan menikmati penurunan tarif antara lain kelompok rumah tangga menengah R2 dengan daya 3.500-5.500 VA, rumah tangga besar R3 6.600 VA ke atas, bisnis menengah B2 6.600-200.000 VA, dan bisnis besar B3 di atas 200 kVA. Selain itu ada golongan industri menengah I3 di atas 200 kVA, industri besar I4 di atas 30.000 kVA, pemerintah P1 6.600-200.000 VA, pemerintah P2 di atas 200 kVA, penerangan jalan umum P3, dan pelanggan layanan khusus.

Pada Januari 2015, tarif listrik pada sepuluh golongan tersebut adalah Rp1.496,05 per kWh untuk pelanggan R2 3.500-5.500 VA, R3 6.600 VA ke atas, B2 6.600-200.000 VA, P1 6.600-200.000 VA, dan P3. Sementara, untuk pelanggan B3 dengan daya di atas 200 kVA, I3 di atas 200 kVA, dan P2 di atas 200 kVA dikenakan formula tarif Rp1.077,18 per kWh.

Untuk pelanggan I4 berdaya 30 MVA ke atas dikenakan formula Rp1.011,99 dan golongan khusus L/TR, TM, dan TT Rp1.574,57 per kWh. Khusus empat golongan tarif yakni R3 dengan daya di atas 6.600 VA, P1 6.600-200.000 VA, dan B2 6.600-200.000 VA, dan B3 di atas 200 kVA, menurut Benny, penurunan tarif listrik bakal melebihi besaran periode Januari 2015 dibandingkan Desember 2014. "Indikator harga minyak semakin turun dibandingkan sebelumnya," katanya.

Pada Desember 2014, PLN menetapkan tarif listrik tiga golongan pelanggan yakni R3 dengan daya di atas 6.600 VA, P1 6.600-200.000 VA, dan B2 6.600-200.000 VA sebesar Rp1.496,33 per kWh. Sementara, pada Januari 2015, tarif ketiga golongan tersebut turun tipis menjadi Rp1.496,05 per kWh.

Untuk golongan pelanggan listrik nonsubsidi lainnya yakni B3 di atas 200.000 VA mengalami penurunan dari formula Rp1.128,88 menjadi Rp1.077,18 per kWh. Penurunan tarif keempat golongan tarif nonsubsidi tersebut sudah terjadi sejak November 2014 mengikuti harga minyak yang turun. Sementara tarif enam golongan lainnya baru diberlakukan tarif penyesuaian otomatis sejak 1 Januari 2015.

Subsidi Turun

Dalam kesempatan sebelumnya, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jarman mengatakan harga minyak dunia anjlok hingga di bawah US$ 50 per barel. Ini berdampak pada turunnya subsidi listrik di Rencana APBN Perubahan (RAPBN-P) 2015, hingga Rp 20 triliun.

"Subsidi listrik tahun ini jauh lebih turun dibandingkan 2014. Tahun ini hanya Rp 66,62 triliun, tahun lalu subsidi listrik Rp 85,75 triliun, tapi sampai November 2014 realisasi subsidi listrik mencapai Rp 80 triliun," ujarnya.

Jarman mengatakan, turunnya subsidi listrik tahun ini salah faktor utamanya adalah turunnya harga minyak dunia. Pada 2014, asumsi APBN untuk harga minyak (ICP/Indonesia Crude Price) dipatok US$ 105 per barel, sementara tahun ini hanya US$ 70 per barel.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar tahun sebelumnya Rp 11.900/US$, sedangkan tahun ini US$ 12.200/US$. "Memang ada kenaikan kurs, tapi turunnya harga minyak jauh lebih banyak sehingga subsidi listrik sangat berkurang," katanya.

Faktor lain yang membuat subsidi listrik turuna adalah, tahun ini ada 12 golongan listrik pelanggan PLN yang sudah tidak disubsidi. Selain subsidinya dicabut, tarif listriknya juga berdasarkan mekanisme tariff adjustment (penyesuaian tarif). Saat ini yang masih menikmati subsidi listrik, seperti pelanggan rumah tangga kecil 450 VA dan 900 VA.

"Tapi, subsidi listrik tahun ini Rp 66,62 triliun tersebut, belum termasuk tambahan Rp 1,3 triliun dari usulan pemerintah menunda pengenaan tarif adjustment untuk golongan rumah tangga 1.300 VA dan 2.200 VA. Jika usulan tersebut disetujui Komisi VII DPR, maka anggaran subsidi listrik bertambah," jelasnya.

Berikut ini adalah parameter subsidi listrik dalam Rancangan APBN P 2015, Nilai Tukar Rp 12.200/US$, ICP US$ 70/barel, Pertumbuhan Penjualan Listrik 9%, Penjualan Listrik 216,39 TWh, Susut Jaringan (losses) 8,45%, Bauran Energi BBM 8,85, BPP Tenaga Listrik Rp 1.301/kWh atau Rp 281,49 triliun, Margin Usaha (insentif investasi) Rp 19,97 triliun, Tarif Tenaga Listrik rata-rata Rp 1.085/kWh, Revenue Requirement (BPP + Margin) Rp 301,46 triliun.

BERITA TERKAIT

Presiden Perlu Pimpin Langsung Peralihan ke Kendaraan Listrik - Terkait Industri Otomotif

NERACA Jakarta – Pengamat ekonomi Faisal Basri berpendapat, Presiden Joko Widodo perlu memimpin langsung program peralihan kendaraan konvensional berbahan bakar…

BRI Bakal Rilis Obligasi US$ 500 Juta - Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

NERACA Jakarta –Gali lubang tutup lubang menjadi strategi bisnis perusahaan dalam menjalakan usahanya, hal inilah yang dilakukan PT Bank Rakyat…

Pengawasan Perbankan dan Harga Komoidtas

Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis Pengawasan perbankan berkaitan erat dengan harga komoditas, apalagi jika negaranya…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

BPPSDMP Kementan Terus Ikhtiar Cetak Wirausaha Pertanian

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) mengambil langkah strategis dengan penyediaan sumber daya…

Terkait Industri Otomotif - Presiden Perlu Pimpin Langsung Peralihan ke Kendaraan Listrik

NERACA Jakarta – Pengamat ekonomi Faisal Basri berpendapat, Presiden Joko Widodo perlu memimpin langsung program peralihan kendaraan konvensional berbahan bakar…

Pemerintah Dorong Industri Farmasi Manfaatkan Bahan Baku dari Alam

NERACA   Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mendorong industri farmasi dalam negeri untuk menciptakan produk obat-obatan berbahan baku dari…