Awal Pekan, Waspadai Aksi Ambil Untung

NERACA

Jakarta – Akhir pekan kemarin, laju pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) terus menguat hingga mencetak rekor baru 5.323,88 poin. Memanasnya kisruh Komisi Pemberantasan Korupsi dan Polisi Republik Indonesia (Polri), tidak menyurutkan aksi beli investor. Alhasil, menutup perdagangan IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melesat tajam 70,70 poin atau 1,35% ke posisi 5.323,88. Sementara itu indeks 45 saham unggulan (LQ45) naik sebesar 15,74 poin atau 1,73% ke posisi 926,52.

Kata Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Ito Warsito, penutupan perdagangan akhir pekan, posisi IHSG dinilai merupakan rekor tertinggi,”Indeks kembali menguat sehingga kembali menembus rekor lagi. Itu merupakan cermin berita positif yang datang dari dalam negeri dan global,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dari dalam negeri, Ito mengemukakan bahwa pemerintah Indonesia yang optimistis terhadap laju ekonomi pada tahun 2015 ini sebesar 5,8 persen mendorong harapan bagi invetor untuk masuk ke dalam negeri. Kemudian dalam RAPBN-Perubahan 2015 ditetapkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8%. Dana RAPBN-P untuk digunakan investasi jangka panjang akan menjamin pertumbuhan Indonesia,”Dana RAPBN-P yang sifatnya investasi jangka panjang akan membuat investor senang karena orientasi investasinya jangka panjang," ucapnya.

Dari global, lanjut Ito Warsito, sentimen positif datang dari bank sentral Eropa (ECB) yang mengeluarkan stimulus keuangan dalam bentuk pembelian obligasi akan membuat likuiditas pasar keuangan meningkat,”Dua hal sentimen dari domestik dan global yang bertemu itu mendorong indeks BEI melanjutkan peningkatan," ujarnya.

Berikutnya, indeks BEI Senin awal pekan, diperkirakan masih terus melanjutkan penguatan. Namun tetap perlu diwaspadai aksi ambil untung, mengingat posisi IHSG yang sudah menembus rekor tertinggi dua kali berturut-turut.

Transaksi investor asing hingga sore tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 1,616 triliun di seluruh pasar. Saham-saham unggulan naik paling tinggi. Seluruh indeks sektoral berhasil menguat dengan rata-rata penguatan lebih dari 1%.

Perdagangan berjalan sangat ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 337.443 kali dengan volume 7,051 miliar lembar saham senilai Rp 8,7 triliun. Sebanyak 183 saham naik, 108 turun, dan 86 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia berakhir kompak menguat menutup perdagangan akhir pekan. Semuanya bertahan positif sejak pembukaan perdagangan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Gudang Garam (GGRM) naik Rp 2.275 ke Rp 58.450, Matahari (LPPF) naik Rp 700 ke Rp 16.200, Unilever (UNVR) naik Rp 400 ke Rp 36.200, dan BRI (BBRI) naik Rp 400 ke Rp 11.875. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Samudera Indonesia (SMDR) turun Rp 725 ke Rp 11.800, Mayora (MYOR) turun Rp 225 ke Rp 24.775, SMART (SMAR) turun Rp 225 ke Rp 6.575, dan Selamat Sempurna (SMSM) turun Rp 185 ke Rp 4.790.

Perdagangan sesi siang, IHSG ditutup melonjak 66,348 poin (1,26%) ke level 5.319,531. Sementara Indeks LQ45 melaju 13,887 poin (1,52%) ke level 924,668. Diawal perdagangan, IHSG dibuka menguat menguat sebesar 28,00 poin atau 0,53% ke posisi 5.281,18. Sementara itu indeks 45 saham unggulan (LQ45) naik sebesar 7,08 poin atau 0,78% ke posisi 917,86. Penguatan indeks BEI dipicu sentiment positif dari eksternal dan dalam negeri.

Menurut Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah, akumulasi positif dari pasar regional menjadi katalis bagi pergerakan IHSG pada perdagangan saham akhir pekan untuk melanjutkan kenaikan .

Dia mengemukakan bahwa keputusan yang diambil oleh bank sentral Eropa (ECB) pada pertemuan Kamis (22/1) memberikan optimisme terhadap perekonomian global. Dampak dari kebijakan yang ditempuh ECB turut mempengaruhi penguatan harga minyak dunia sehingga saham sektor energi dan industri terkait lainnya akan berpotensi membaik kinerja sahamnya,”Pelonggaran kuantitatif di Eropa secara keseluruhan adalah berita baik untuk para investor ekuitas," katanya.

Analis Panin Sekuritas Purwoko Sartono menambahkan bahwa mata uang rupiah juga mencatatkan pergerakan positif berhasil mencapai level di bawah Rp12.500 per dolar AS,”Kondisi itu juga terlihat menopang kenaikan indeks BEI," kata Purwoko.

Dari dalam negeri, lanjut dia, langkah pemerintah menurunkan harga BBM subsidi mulai terlihat hasilnya. Saham sektor konsumer dan ritel mencatat kenaikan besar sebagai antisipasi perbaikan daya beli masyarakat.

Bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka menguat 281,79 poin (1,15%) ke 24.804,42, indeks Bursa Nikkei naik 135,38 poin (0,78%) ke 17.464,48, dan Straits Times menguat 27,87 poin (0,83%) ke posisi 3.398,42. (bani)

Related posts