Kebijakan Moneter Harus Dibarengi Ketahanan Fiskal

NERACA

Jakarta -Takaran kebijakan moneter yang diambil Bank Indonesia harus dibarengi dengan penguatan kebijakan ketahanan fiskal, sebagai antisipasi tekanan-tekanan ekonomi global yang semakin kuat pada tahun ini.

"Ke depannya kita harus perhatikan 'fiscal policy', jangan hanya mengandalkan kebijakan moneter, karena pengalaman membuktikan jika hanya kebijakan moneter kita akan sulit mengantisipasi tekanan ekonomi global,"kata Mantan Menteri Koordinator Ekonomi dan Keuangan, Dorojatun Kuntjoro Jakti, dalam acara"ANZ Economic Outlook 2015 bersama LKB Antara" di Jakarta, Kamis (22/1) malam.

Menurut Dorojatun, tren pelemahan ekonomi global dengan pemulihan yang tidak merata di beberapa negara seperti sekarang ini tidak dapat dipungkiri mengarah ke fase baru keadaan ekonomi dunia.

Dia mengatakan, keadaan perekonomian dunia antara negara maju dan negara berkembang telah semakin terkoneksi. Jika terjadi guncangan perekonomian di salah satu negara maju, hal itu akan mengakibatkan ekses negatif bagi ekonomi negara-negara lainnya.

Sebaliknya, kata mantan Kepala UKP4 ini, ketika perekonomian Amerika Serikat, sebagai negara maju terus membaik seperti saat ini, tantangan pembalikan arus modal akan menerpa negara-negara lain, terutama bagi negara tanpa fundamental perekonomian yang kuat.

Dorodjatun juga mengingatkan pemerintah untuk benar-benar serius menjaga defisit anggaran agar tidak melebihi tiga persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).Selain itu, Bank Indonesia dan pemerintah juga harus mengantisipasi pelebaran defisit neraca transkasi berjalan, karena ekspor komoditi Indonesia akan terus melemah.

Menurut dia, tantangan ekonomi global di 2015 akan semakin menguat karena perang harga minyak dunia akan terjadi, yang memicu fluktuasi berkepanjangan harga minyak dunia.Tantangan perekonomian global sebelumnya sudah dimulai dengan antisipasi normalisasi kebijakan moneter AS, yang ditandai dengan pengehentian stimulus dan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS atau The Federal Reserve.

Dalam acara ini turut hadir pula Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Harjanto, Direktur Jenderal Pengolahanan dan Pemasaran Hasil Perikanan KKP Saut Hutagalung dan Staf Ahli Bidang Logistik dan Multimoda Kementerian Perhubungan Sugiharjo. [ardi]

BERITA TERKAIT

Potensi Global US$88 Miliar, Ekspor Komponen Pesawat akan Dipacu - Kebijakan Publik

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong peningkatan daya saing industri nasional agar mampu menghasilkan produk yang berkualitas sehingga kompetitif…

Pengamat: Kebijakan HAM di Indonesia Masih Normatif

Pengamat: Kebijakan HAM di Indonesia Masih Normatif NERACA Jakarta - Pengamat hukum pidana Universitas Bung Karno Azmi Syahputra menilai kebijakan…

Peradi: Advokat Harus Kuasai e-Court

Peradi: Advokat Harus Kuasai e-Court NERACA Jakarta - Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (DPN Peradi), Juniver Girsang,…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Produk Fashion Paling Banyak Diburu - Riset Snapcart Saat Ramadan

    NERACA   Jakarta - Ramadan merupakan bulan berbelanja online paling tinggi dalam budaya masyarakat Indonesia. Untuk mengetahui tren…

Kementerian ESDM Terbitkan Aturan Energi Panas Bumi

  NERACA Jakarta –  Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral menerbitkan dua regulasi…

Pemerintah Ajak Swasta Kembangkan Kereta Api

  NERACA Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan pemerintah mengajak swasta untuk bersama mengembangkan transportasi kereta api sebagai…