Tekan Inflasi, Daerah Dituntut Aktif

NERACA

Bogor - Presiden Joko Widodo dalam rapat koordinasi dengan bupati dan wali kota,mengimbau para kepala daerah untuk menekan inflasi di wilayah masing-masing guna menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

"Pertumbuhan ekonomi nasional ditopang oleh pertumbuhan ekonomi di daerah. Tadi saya sampaikan trik-trik praktis menekan inflasi dan pentingnya tim pengendali inflasi daerah," kata Jokowi, di Bogor, Jawa Barat, Kamis.

Jokowi juga mengimbau para bupati dan wali kota untuk meningkatkan pelayanan publik terutam yang berhubungan dengan perizinan untuk investasi. Selain itu presiden juga mengingatkan para kepala daerah untuk memaksimalkan penyerapan anggaran.

Rapat koordinasi bupati dan wali kota seluruh Indonesia yang dilaksanakan pada 22-23 Januari di Istana Kepresidenan Bogor membahas agenda pemerintah antara lain mengenai peningkatan produktifitas sektor pertanian, penguatan infrastruktur perhubungan dan maritim, pemberdayaan masyarakat pesisir dan pulau pulau kecil, peningkatan iklim investasi, penguatan infrastruktur energi dan kendala dalam aplikasi perijinan, serta tumpang tindih peraturan perundang-undangan.

Pada kesempatan berbeda, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo memproyeksikan Inflasi di 2015 diperkirakan masih tetap berada di atas 8 persen. Hal ini dikarenakan efek administered prices masih berlangsung hingga November 2015. "Year on year untuk inflasi baru akan selesai di November 2015," katanya.

Mengingat, inflasi pada 2014 sebesar 8,36 persen. Hal ini dikarenakan efek kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi November lalu. "Efek itu baru akan selesai di November tahun ini," kata Agus.

Kenaikan BBM memang membuat administered prices atau harga barang-barang terganggu. Sehingga kenaikan administered prices ini yang akan mengganggu inflasi di 2015.

Sementara menurut Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengaku Pemerintah akan merevisi target inflasi tahun depan, dari 4,4 persen menjadi 5 persen. Perubahan tersebut disebabkan oleh perkiraan tambahan inflasi setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada November 2014 lalu.

Menurutnya, bahwa target inflasi yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015 sebesar 4,4 persen, sangat sulit dicapai. Apalagi setelah pemerintah mengambil langkah reformasi fiskal dengan menaikkan harga BBM akhir tahun kemarin "(Inflasi) naik mungkin. Tapi paling ke sekitar 5 persen tahun depan," ujarnya.

Dia memperkirakan, dengan adanya kenaikan BBM, laju inflasi tahun ini bisa mencapai 7,3 persen. Angka ini lebih tinggi dari target tahun ini sebesar 5,3 persen. Dampak kenaikan BBM terhadap inflasi pun masih akan terasa dalam dua bulan pertama tahun depan.

Perubahan target inflasi ini akan diajukan sebagai rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara perubahan tahun depan. Selain target inflasi, beberapa asumsi makro pun akan direvisi dalam RAPBN-P 2015. [agus]

Related posts