Gejolak Harga Saham Acam Rencana Emiten Go Public - AKIBAT SENTIMEN GLOBAL MENDOMINASI

Jakarta – Fluktuasi pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kini menjadi kekhawatiran para pelaku pasar untuk terus lama bertransaksi di pasar saham, termasuk rencana beberapa perseroan akan go public. Alhasil, beberapa penjamin emisi (underwriter) yang sejatinya siap menangani pelaksanaan IPO seperti PT Bahana Securities (BUMN), mundur dari arena transaksi bursa.

NERACA

Menurut analis Recapital Asset Management Haryajid Ramelan, jebloknya saham dunia memicu indeks dalam negeri terkoreksi cukup dalam dan akibatnya banyak pelaku pasar melakukan aksi jual. Kendati kondisi seperti itu menurut dia, masih wajar.

”Turunnya saham dunia ini dikarenakan sentimen market, meski tidak tidak bisa dipungkiri juga adanya indikasi aksi ”goreng-menggoreng”, untuk saham yang tidak liquid,”katanya kepada Neraca, Senin (12/9).

Dia menjelaskan, kondisi sentimen negatif bursa global merebet bursa regional. Meski demikian, untuk kalangan bursa dalam negeri masih tetap positif. Indonesia sendiri, seharusnya menanggapi isu ini dengan positip. Pasalnya, dengan jebloknya saham-saham dunia bisa dimanfaatkan untuk menarik minat para investor untuk menanamkan modal di Indonesia. ”Kasus ini kan merupakan masalah global, sehingga tidak perlu adanya kekhawatiran berlebihan akan merembet ke Indonesia,” tegasnya.

Dia memperkirakan kondisi ini hanya akan berlangsung sementara saja. Tentunya dengan berkaca pada kondisi turun naiknya bursa dari waktu ke waktu. Sementara untuk IPO beberapa perusahaan yang berencana melepas sahamnya ke publik tahun ini, peluang ke arah sana tetap terbuka. ”Tetapi semua itu tergantung dengan kinerja perusahaan-perusahaan tersebut,” ujarnya.

Dengan demikian, pemerintah diminta tidak perlu membuat sistem menyoal jebloknya bursa saham yang terjadi. Karena, pemerintah dalam hal ini hanyalah sebatas pembuat kebijakan. ”Kita tidak perlu berlebihan dalam menanggapi ini, emiten-emiten kita toh cukup bagus, mereka bisa memilah mana yang baik,”ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan pengamat pasar modal Edwin Sinaga, buruknya kabar ekonomi Eropa dan Amerika memberikan sentimen negatif terhadap pergerakan saham dalam negeri. Kendatipun pertumbuhan ekonomi Indonesia positif dan inflasi terjaga. ”IHSG ini sangat rentan dengan pengaruh isu global,ada sedikit saja isu yang buruk di Amerika atau Eropa,mau tidak mau pasti Indonesia terkena dampaknya,”ujarnya.

Oleh sebab itu, dirinya memaklumi beberapa emiten yang siap go public tahun ini menunda pelaksanaannya dengan alasan kondisi pasar yang belum bersahabat. Pasalnya, bagi emiten kecil yang akan melakukan IPO akan berpengaruh signifikan terhadap nilai jual harga saham dan berbeda dengan emiten besar karena lebih kuat fundamentalnya.

Menurut Edwin, menyikapi krisis ekonomi di Eropa dan Amerika, pemerintah diminta lebih selektif memilih aliran dana yang masuk ke Indonesia dan untuk emiten yang kelas ke atas harus melihat dahulu dan berhati-hati melepas saham ke publik.

Kemudian ekonom FEUI Irwan Adi Ekaputra mengatakan, terkoreksi indeks disebabkan ekspektasi dari kondisi makro ekonomi dunia yang masih lemah. Sehingga, investor mencoba untuk menghindari risiko. Salah satunya saham dilepas dan mencari alternatif lain seperi membeli emas atau borong uang tunai.

“Artinya save haven. Kemudian melakukan valuasi saham. Dalam kondisi makro ekonomi dunia seperti sekarang, tentunya berpengaruh ke pasar modal. Jadi, investor wait and see," jujarnya. Valuasi saham adalah metode untuk mendapatkan nilai atas saham perusahaan. Terkait dampaknya ke pasar modal Indonesia, terutama rencana penawaran umum saham perdana (IPO) di semester kedua, Irwan menuturkan semua tergantung dari valuasi saham.

Bursa Terintegrasi

Sementara ekonom Danareksa Purbaya Yudi Sadewa menuturkan, kemungkinan besar terpuruknya indeks dalam negeri karena pengaruh anjoknya bursa global dan hal ini disebabkan kegagalan dari kongres G-7 kemarin. Tadinya, Eropa berharap bisa menemukan pemecahan dari krisis yang terjadi, tapi kenyataannya malah ditimbulkan isu Yunani akan default. Ini menimbulkan kepanikan bagi para investor dunia, sehingga mereka melepas sahamnya.

Dia menjelaskan, kalau global anjlok, Indonesia pasti akan tetap merasakan dampaknya meski tidak terlalu besar. “Karena, pasar domestik kita memang terintegerasi dengan pasar dunia. Istilahnya, kita akan selalu mengikuti pergerakan dunia,”jelasnya.

Purbaya menjelaskan, saham-saham blue chip pada umumnya disukai investor asing. Karena saat ini mereka (investor asing) sedang merasa "terancam", jadi mereka melepas sahamnya yang ada di sini dan mengambil dananya untuk ditaruh di tempat yang menurut mereka lebih aman. Makanya, secara otomatis blue chip jadi turun. Saham non- blue chip itu biasanya didominasi investor lokal yang merasa situasi tanah Air aman-aman saja. Jadi, mereka tidak melepas sahamnya.

Kondisi ini, lanjut Purbaya memang akan mempengaruhi rencana IPO. Mesti di lihat dulu fundamental perusahaannya. Kalau target IPO-nya investor asing, pasti perusahaan itu lebih memilih untuk menunda IPO. Sedangkan bila targetnya investor domestik, tidak akan dilakukan penundaan.

Sebenarnya ada pengecualian, yaitu apabila suatu perusahaan sudah memiliki nama besar dan tahan terhadap resesi, investor asing tidak akan segan membelinya (saham).Mengenai peralihan investasi ke emas, mungkin akan mengurangi peminat saham, sehingga IPO sepi. “Tapi saya pikir, ini tidak akan berlangsung lama. Sama halnya dengan saham, emas bukanlah investasi ter-aman. Karena, emas juga mengikuti ekonomi dunia. Jika ekonomi collapse, harga emas ikut jatuh,”tegasnya.

Situasi baru bisa membaik kalau Eropa mau bersatu, atasi krisisnya dengan tidak ragu untuk melakukan bailout. kalau tidak, krisisnya akan sulit mereda. vanya/iwan/ardi/ahmad/bani

Related posts