Berbincang Dengan Gubernur Papua Tentang Indonesia Barat dan Timur - Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Dosen PTN

Hanya kebetulan saja, saya duduk satu meja dengan Gubernur Papua dalam suatu acara di Manado, yaitu tatkala sedang menghadiri undangan hari ulang tahun kelahiran Dr. Sinyo Hari Sarundayang, Gubernur Sulawesi Utara yang ke 70. Oleh karena hubungan baik saja, dalam acara-acara penting, terutama terkait kegiatan pribadi, saya seringkali diundang. Sillaturrakhmi dengan siapapun, saya rasakan sangat penting untuk mendapatkan berbagai hal, setidaknya kenalan baru.

Oleh karena nama saya disebut-sebut oleh tuan rumah, yaitu Gubernur Sulawesi Utara, maka Gubernur Papua menjadi ingin tahu asal muasal perkenalan itu. Rasa penasaran tokoh Papua tersebut mungkin saja muncul oleh karena diketahui bahwa, saya disebut sebagai mantan Rector UIN Malang yang tentu beragama Islam, sementara itu Gubernur Sulawesi Utara adalah seorang Nasrani. Lebih dari itu, mungkin saja persahabatan itu dianggap lebih aneh, oleh karena antara Malang dan Manado itu cukup jauh dan apalagi antar kedua institusi itu tidak ada kaitan apa-apa.

Tanpa harus diminta terlebih dahulu, saya menjelaskan bahwa dalam waktu lama, sejak Dr. Sinyo Hari Sarundayang menjadi Gubernur di Maluku Utara, kemudian dilanjutkan bertugas sebagai Plt Gubernur di Ambon, dan masih juga menjadi Gubernur di Sulawesi Utara, saya mengamati bahwa kepemimpinannya sangat baik. Gubernur Sulawesi Utara ini beragama Kristen, namun ia bisa diterima di kalangan muslim dan juga penganut beberapa agama lainnya. Dalam suatu kunjungan ke Ternate, saya pernah memperoleh penjelasan tentang betapa dekatnya Dr. Sinyo Hari Sarundayang dengan masyarakat Islam di provinsi Maluku Utara, ketika beliau menjabat sebagai gubernur.

Pengetahuan saya tentang kedekatan Dr. SH. Sarundayang dengan umat Islam tersebut diperjelas dan diperkuat oleh Dr. Muhammad Tamimy, yang ketika itu beliau sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama di Ambon. Dijelaskan olehnya bahwa benar, Gubernur Sulawesi Utara sangat dekat dengan umat Islam, sekalipun ia adalah penganut nasrani. Sebagai contoh, tatkala melihat pesantren yang membutuhkan fasilitas dan demikian pula tempat ibadah yang keadaannya kurang layak, Gubernur yang beragama Kristen tersebut, lewat kebijakannya segera berusaha memenuhinya.

Selanjutnya saya sampaikan kepada Gubernur Papua, bahwa ketika saya masih menjabat sebagai Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Gubernur Sulawesi Utara, saya undang untuk memberi kuliah umum di kampus. Kegiatan itu berlanjut, yakni beberapa waktu kemudian, atas persetujuan senat universitas, dia diberi gelar Doktor Honoris Causa tentang kepemimpinan masyarakat majemuk. Lewat penghargaan seperti itu, hubungan UIN Malang dengan Gubenur Sulawesi Utara terasa semakin dekat, sehingga pada acara-acara penting, terutama yang bersifat pribadi, saya seringkali diundang.

Mendengarkan penjelasan saya tersebut, rupanya Gubernur Papua menjadi tertarik. Selanjutnya, pada kesempatan itu pula, saya menawarkan agar suatu saat, beliau berkenan memberi kuliah umum di kampus UIN Malang. Tawaran saya itu ternyata direspon, ia menyanggupi. Namun dalam perbincangan itu, rupanya ia masih mengira bahwa Universitas Islam hanya mengajarkan tentang ilmu-ilmu agama, seperti syari'ah, ilmu Dakwah, Tarbiyah, dan semacamnya.

Agar Gubernur Papua mengenal tentang perguruan tinggi Islam, saya memberi penjelasan bahwa Universitas Islam juga menyelenggarakan fakultas-fakultas umum, seperti fakultas ekonomi, fakultas psikologi, teknik, MIPA, dan lain-lain. Dalam waktu yang sempit itu, saya berusaha menjelaskan bahwa Islam itu lebih dari sebatas agama, tetapi bersumber kitab suci dan tradisi kehidupan nabinya, juga diperoleh penjelasan tentang konsep dan nilai-nilai kehidupan pada umumnya.

Selain itu, saya juga menjelaskan bahwa seringkali masyarakat dan bahkan para tokoh bangsa ini menyebut Indonesia timur masih mengalami ketertinggalan dibanding Indonesia bagian barat. Penilaian seperti itu, saya katakanan bahwa sebenarnya, secara psikologis kurang menguntungkan. Seolah-olah dalam hal apapun Indonesia timur tertinggal. Padahal kenyataannya tidak selalu seperti itu. Selama ini, saya melihat banyak tokoh dalam berbagai bidang, justru berasal dari Indonesia Timur. Saya sampaikan kepada Gubernur Papua, kelebihan itu harus ditunjukkan ke publik secara luas.

Selanjutnya, saya mengatakan bahwa tidak boleh orang Indonesia timur selalu memposisikan diri menjadi pendengar dengan menghadirkan para tokoh dari Indonesia bagian barat untuk berbicara tentang konsep-konsepnya. Seharusnya, tokoh Indonesia timur juga harus datang ke Indonesia bagian barat untuk menyampaikan hal yang sama. Saya menyampaikan bahwa, menyangkut ilmu tidak mengenal barat dan timur, siapapun yang berlebih harus mau memberi kepada yang masih berkekurangan. Tokoh Indonesia Timur, semisal Gubernur Papua, suatu saat seyogyanya berkenan memberi ceramah di kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Rupanya, apa yang saya jelasan itu, Gubernur Papua setuju. Beliau akan berkenan hadir untuk memberi kuliah tamu. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.id)

Related posts