Kasus AAA Securities Coreng Pasar Modal - Lukai Kepercayaan Investor

NERACA

Jakarta -Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) menilai kasus dugaan penipuan yang dilakukan Direktur Utama AAA Sekuritas Andri Rukminto atas repo fiktif di dua bank yaitu PT Bank BPD Maluku dan PT Bank Antar Daerah (ANDA) akan menimbulkan ketidakpercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.

Ketua Umum APEI Susi Meilina mengungkapkan, otoritas pasar modal Indonesia saat ini tengah gencar melakukan sosialisasi untuk bisa menarik banyak investor. Maka dengan kasus yang menimpa AAA Sekuritas, memungkinkan investor hilang kepercayaan terhadap pasar modal,”Saat ini kita kan sedang bertujuan memperbanyak jumlah investor di pasar modal. Dengan kejadian ini bisa saja akan membuat kerugian, kerugiannya berupa ketidakpercayaan investor, padahal kita lagi giat-giatnya,”ujarnya di Jakarta, Kamis (22/1).

Menurutnya, industri pasar modal merupakan salah satu industri yang punya berbagai regulasi ketat, pelanggaran yang dilakukan tentunya akan ada sanksinya,”Pasar modal itu highly regulated, sudah diatur detil untuk operation termasuk pengaturan Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD), ketaatan, dan lain-lain, selayaknya anggota APEI harus melakukan apa yang sudah diatur,”jelasnya.

Namun begitu, Susi menyebutkan, pihaknya masih akan melihat hasil pemeriksaan yang bersangkutan. Dia berharap, masyarakat masih menaruh kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia,”Ada asas praduga tak bersalah, kita tunggu hasilnya saja. Pengalaman masa lalu, kejadian-kejadian seperti ini takutnya akan menimbulkan ketidakpercayaan investor,"paparnya.

Sebelumnya, Deputi Komisioner OJK Pengawas Pasar Modal, Sarjito pernah mengatakan, OJK akhirnya membekukan kegiatan usaha dan rekening broker saham AAA Securities. Disebutkan, pembekuan tersebut merupakan arahan dari OJK kepada PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI),”Kita memerintahkan kepada BEI untuk menghentikan sementara kegiatan usaha AAA sebagai Perantara Pedagang Efek terhitung sejak tanggal 3 Desember 2014 karena tidak dapat memenuhi persyaratan nilai minimum MKBD akibat dari transaksi Repo," katanya.

Berdasarkan Peraturan OJK nomor V.D.5 tentang Pemeliharaan dan Pelaporan MKBD, batas minimum MKBD untuk perusahaan efek adalah Rp 25 miliar. OJK juga memerintahkan KSEI terhitung sejak 4 Desember 2014 membekukan rekening Efek AAA, kecuali dalam rangka penyelesaian transaksi bursa.

Sedangkan pemindahan Efek dan atau dana nasabah hanya dapat dilakukan kepada nasabah dengan Single Investor Identification (SID) yang sama. Sebagai informasi, OJK menemukan adanya transaksi Reverse Repo surat berharga Rp 262 miliar di BPD Maluku, serta pembelian Reverse Repo surat berharga Rp 146 miliar dan US$ 1,25 juta di Bank ANDA. Kedua transaksi tersebut dilakukan masing-masing bank dengan AAA tanpa didasari dengan underlying transaction yang telah diperjanjikan. (bani)

BERITA TERKAIT

BEI Beri Edukasi Finalis Aban None Jakarta - Dorong Antusiasme Investor Muda

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan investor pasar modal dari kalangan anak muda terus dilakukan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan…

BRPT Siapkan Belanja Modal US$ 1,19 Miliar

Dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi pabrik petrokimia sebesar 900 ribu ton menjadi 4,2 juta ton per tahun, PT Barito Pacific…

Pemda Kabupaten Sukabumi Diminta Lakukan Operasi Pasar

Pemda Kabupaten Sukabumi Diminta Lakukan Operasi Pasar NERACA Sukabumi – Elemen masyarakat meminta Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sukabumi, untuk melakukan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BRPT Siapkan Belanja Modal US$ 1,19 Miliar

Dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi pabrik petrokimia sebesar 900 ribu ton menjadi 4,2 juta ton per tahun, PT Barito Pacific…

Gandeng Binar Academy - Telkomsel Edukasi Digital Anak Muda di Timur

NERACA Jakarta - Dalam rangka pemerataan dan menggejot partisipasi anak muda di kawasan Timur Indonesia dalam kompetisi The NextDev, Telkomsel…

Juli, Fast Food Baru Buka 6 Gerai Baru

Ekspansi bisnis PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) dalam membuka gerai baru terus agresif. Tercatat hingga Juli 2018, emiten restoran…