Akhir Pekan, IHSG Masih Tren Menguat

NERACA

Jakarta – Derasnya aksi beli investor makin mengokohkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang terus berada di zona hijau sejak pembukaan perdagangan. Bankan penguatan indeks BEI ini sudah terjadi sejak dua hari berturut turut.

Kata analis Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada, positifnya laju bursa saham Asia yang dibarengi dengan pergerakan mata uang rupiah yang stabil turut mendukung laju indeks BEI kembali meningkat sehingga menembus level tertinggi baru,"Ekspektasi pasar mengenai stimulus bank sentral Eropa (ECB) yang berupa program "quantitative easing" (QE) untuk melakukan pembelian obligasi mendorong investor beralih ke bursa saham,”ujarnya di Jakarta, Kamis (22/1).

Menurutnya, kebijakan ECB itu diperkirakan meningkatkan perekonomian di Eropa, situasi itu juga mendorong psikologis investor saham di dalam negeri untuk kembali melakukan aksi beli. Kendati demikian, dirinya menuturkan, penguatan IHSG BEI cenderung terbatas menyusul sebagian pelaku pasar saham asing mengambil posisi jual setelah sempat melakukan aksi beli.

Sementara analis HD Capital Yuganur Wijanarko menambahkan, secara teknikal kembali menguatnya IHSG BEI akan membentuk tren kenaikan baru. Investor masih dapat melakukan akumulasi ke beberapa saham dengan kapitalisasi besar di sektor perbankan, infrastruktur dan konstruksi BUMN secara selektif.

Berikutnya, indeks BEI Jum’at akhir pekan masih diproyeksikan masih menguat. Menutup perdagangan Kamis sore, IHSG ditutup menguat 37,917 poin (0,73%) ke level 5.253,183. Sementara Indeks LQ45 menguat 7,956 poin (0,88%) ke level 910,781. Rekor penutupan tertinggi IHSG sebelumnya ada di level 5.246,483 setelah menguat 29,148 poin (0,56%) pada perdagangan Senin 8 September 2014.

Saham-saham unggulan jadi sasaran aksi beli. Tujuh sektor berhasil menguat dengan rata-rata kenaikan hampir 1%. Indeks sektor agrikultur, perdagangan, dan infrastruktur masih melemah. Transaksi investor asing sampai sore tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 249,237 miliar di seluruh pasar. Sedangkan di pasar reguler terpantau beli bersih Rp 13,661 miliar.

Perdagangan berjalan sangat ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 284.128 kali dengan volume 8,896 miliar lembar saham senilai Rp 8,216 triliun. Sebanyak 197 saham naik, 123 turun, dan 73 saham stagnan. Optimisme stimulus Sentral Eropa alias European Central Bank (ECB) berhasil mendorong aksi beli di pasar Asia. Tercatat seluruh bursa regional kompak menguat.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Gudang Garam (GGRM) naik Rp 3.150 ke Rp 56.175, Mayora (MYOR) naik Rp 1.200 ke Rp 25.000, Indocement (INTP) naik Rp 675 ke Rp 22.800, dan Bukit Asam (PTBA) naik Rp 600 ke Rp 11.750. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Delta Jakarta (DLTA) turun Rp 10.000 ke Rp 360.000, Elang Mahkota (EMTK) turun Rp 1.250 ke Rp 6.550, Asahimas (AMGF) turun Rp 350 ke Rp 8.250, dan Hexindo (HEXA) turun Rp 210 ke Rp 3.690.

Perdagangan sesi pertama, IHSG menanjak 32,252 poin (0,62%) ke level 5.247,518. Sementara Indeks LQ45 melesat 5,363 poin (0,59%) ke level 908,188. Saham-saham unggulan jadi sasaran aksi beli. Delapan sektor berhasil menguat dengan rata-rata kenaikan hampir 1%. Indeks sektor agrikultur dan infrastruktur masih melemah.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG dibuka menguat tipis sebesar 0,37 poin atau 0,01% ke posisi 5.215,64. Sementara itu indeks 45 saham unggulan (LQ45) naik 0,09 poin atau 0,01% ke posisi 902,91,”Secara umum pasar masih mengkhawatirkan tren penurunan harga minyak dunia yang diperkirakan hingga enam bulan ke depan mengingat suplai berlebih yang masih berlangsung," kata Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah.

Terlepas dari sentimen minyak, lanjut Alfiansyah, indeks bursa global mendapat sentimen positif dari harapan bahwa bank sentral Eropa (ECB) akan mengadopsi program stimulus berskala besar,”Katalis dari ekternal itu mewarnai pengaruhnya bagi pergerakan IHSG pada perdagangan saham hari ini, meski berpola gerak bervariasi, namun terbuka untuk menguat," katanya.

Dia menambahkan bahwa masih terbukanya penguatan bagi IHSG itu salah satunya juga didukung oleh sentimen dari dalam negeri menyusul penguatan mata uang rupiah yang kembali ke level Rp12.400 per dolar AS. Terpantau, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, bergerak menguat sebesar 40 poin menjadi Rp12.436 dibandingkan posisi sebelumnya Rp12.476 per dolar AS.

Sementara itu, tim analis teknikal Mandiri Sekuritas dalam kajiannya mengemukakan bahwa pemerintah optimis harga bahan kebutuhan pokok akan turun dalam dua pekan kedepan. Penurunan itu sejalan dengan kebijakan pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar,”Diharapkan situasi dapat mengendalikan inflasi. Pada perdagangan Kamis, IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 5.132-5.247 poin denga potensi penguatan," katanya.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng menguat 202,389 poin (0,83%) ke 24.554,96, indeks Bursa Nikkei turun 8,92 poin (0,05%) ke 17.269,57, dan Straits Times menguat 11,01 poin (0,31%) ke posisi 3.364,29. (bani)

Related posts