Gajah Tunggal Bidik Penjualan Tumbuh 9% - Masih Andalkan Pasar Aftermarket

NERACA

Jakarta – Masih positifnya pertumbuhan otomotif tahun ini yang di rilis Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), walau tidak tumbuh agresif. Namun memberikan dampak terhadap penjualan ban. Oleh karena itu, produsen ban, PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) menargetkan penjualan tahun ini perseroan naik 9% atau tumbuh dibandingkan tahun 2014 hanya naik sebesar 6%.

Direktur PT Gajah Tunggal Tbk, Catharina Widjaja mengatakan, tahun penjualan tahun ini diharapkan lebih baik dari tahun sebelumnya, “Untuk angkanya tidak ingat, kita punya penjualan naik enam persen di 2014, compare ke 2013. Kita 2015 mengharapkan akan lebih baik, mungkin naik sekitar delapan sampai sembilan persen,"ungkapnya di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, porsi penjualan ban perseroan di 2014 lalu masih didominasi oleh pasar aftermarket (pasar sekunder automotif) dengan porsi penjualan sebanyak 49% dari total keseluruhan penjualan. Sedangkan penjualan ke Original Equipment Manufacture (OEM/produsen peralatan asli) hanya sebanyak 13%.

Selain itu, lanjutnya, pasar penjualan Gajah Tunggal pada 2014 masih didominasi ke Amerika Serikat (AS) sebesar 46% dari total ekspor. Sedangkan ekspor ban perseroan ke Negeri Paman Sam masih berlangsung lancar dan tidak ada kendala,”Penjualan itu untuk semua kendaraan, dari truk, light truk, sepeda motor. Namun untuk ban sepeda motor kami memang tidak mengekspornya," papar Catharina.

Pada semester pertama tahun lalu, laba bersih perseroan turun menjadi Rp228,29 miliar dari Rp459,51 miliar pada tahun 2013 untuk periode yang sama. Pada periode tersebut, penjualan perseroan menjadi sebesar Rp6,56 triliun dari Rp8,13 triliun. Untuk beban pokok penjualan naik menjadi Rp5,46 triliun dari sebelumnya Rp4,85 triliun.

Kemudian terkait keputusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang menjatuhkan hukuman pada enam produsen ban dalam negeri, termasuk GJTL, dinilai perseroan tidak adil. Catharina Widjaja menilai, keputusan tersebut hanya dijatuhkan pada anggota dari asosiasi ban dan tidak mengenakannya pada seluruh produsen ban,”Kita melihat dari keputusan itu tidak fair karena yang dikenakan hanya anggota dari asosiasi sedangkan di luar asosiasi ada importir lain. Kok aneh kalau kartel hanya sebagiannya saja," cetus Catharina.

Hal ini membuat pihaknya mengadu kepada Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin. Meskipun saat ini surat keputusan kartel yang dijatuhkan KPPU pada GJTL belum secara resmi diterima oleh mereka. Namun dirinya tetap bersikukuh, GJTL dan kelima produsen ban dalam negeri lainnya tak menyalahi aturan.

Dampak putusan KPPU terhadap penjualan ban GJTL memang belum terasa hingga kini. Hanya saja yang dikhawatirkan adalah buruknya citra perseroan di mata para konsumen dan pelanggan kedepannya jika KPPU benar-benar mengirimkan surat putusan secara resmi pada GJTL.

Sebelumnya, enam perusahaan produsen ban mobil diperiksa KPPU terkait monopoli harga barang dan bahan baku. Keenamnya diduga tersangkut masalah kartel serta penetapan harga barang. Dalam persidangan yang digelar KPPU beberapa waktu lalu, keenam perusahaan terbukti melanggar UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Sehingga KPPU menjatuhkan denda kepada enam produsen ban tersebut maksimum sebesar Rp25 miliar. (bani)

Related posts