Pefindo Taksir Saham Astra Tembus Rp 8.000 - Efek Stanchart Lepas Bank Permata

NERACA

Jakarta – Meskipun kapitalisasi pasar saham PT Astra Internasional TBk (ASII) di pasar modal mampu di geser PT Bank Central Asia Tbk pada penghujung tahun 2014 lalu, namun lambat tapi pasti pergerakan harga saham Astra terus melonjak naik seiring dipicu kabar Standard Chartered yang bakal melepas seluruh saham di Bank Permata dan rencana Astra mengambil seluruh saham Bank Permata.

Bahkan PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menilai, penguatan saham Astra akan bertengger di zona Rp8.000 per lembar saham bila kabar tersebut mendapat konfirmasi benar adanya baik dari Astra, Standard Chartered dan Bank Permata. Menurut analis Pefindo, Guntur Tri Haryanto, posisi Rp8.000 per lembar saham tidak akan lama lagi, hanya menunggu hitungan hari, karena manajemen Astra sangat rapi dah professional,”Astra tidak sulit melewati Rp8.000 per lembar saham. Dalam jangka pendek akan bisa melewati,”kata Guntur di Jakarta, kemarin.

Dirinya mengungkapkan, pialang asing di pasar modal domestik menjadi penentu arah dan gerak pasar. Jika sekuritas asing melakukan aksi pembelian saham tertentu, maka akan terjadi aksi korporasi yang mendekati kenyataan.

Aksi korporasi yang mendekati kenyataan belum tentu juga ada garansi kebenarannya. Dimana kabar yang berhembus PT Astra International Tbk (ASII) akan mengambil penuh PT Bank Permata Tbk (BNLI). "Dari spekulasi memang demikian. Tapi, Astra punya pengalaman yang tidak baik dalam mengelola bank,"ungkap Guntur Tri Haryanto.

Dia menambahkan, bisnis otomotif Astra masih menjanjikan. Pada tahun lalu memang stagnan, tapi pada tahun ini akan mengalami pertumbuhan. Dimana sentimennya datang dari harga minyak mentah dunia yang turun diikuti penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di negeri ini. Sehingga menjadi angin segar bagi industri otomotif dalam negeri.

Dari efek yang ada, dia menjelaskan, maka penjualan produk otomotif Astra seperti Ayla dan Agya akan terdongkrak positif di tahun ini. "Tahun ini perkembangan penjualan yang bagus untuk Agya dan Ayla," ungkap dia.

Sebagaimana diketahui, Stadard Chartered Bank bakal melepas kepemilikan saham 44,56% di Bank Permata, anak usaha PT Astra International Tbk. Nilai saham tersebut ditaksir mencapai US$ 638 juta atau sekitar Rp 8 triliun. Stanchart juga membidik penjualan saham di sejumlah bank Asia lainnya. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat permodalan. Rencananya, sebelum menjual saham Bank Permata, Stanchart berpeluang menjual Agricultural Bank of China Ltd terlebih dahulu. Transaksi Bank Permata kemungkinan akan ditindaklanjuti setelah itu.

StanChart dikabarkan secara agresif akan melakukan reformasi dalam bisnisnya, terutama setelah bank tersebut menutup seluruh unit usaha ekuitas pada awal tahun. Adapun sebanyak 4 ribu orang telah kehilangan pekerjaan dalam sektor jual beli saham, penjaminan emisi, serta perbankan ritel akibat aksi ini.

Kabar penjualan saham Bank Permata diperkirakan dapat menarik minat bank-bank di Asia yang ingin berekspansi. Bank-bank asal Jepang, misalnya, aktif melakukan ekspansi ke Indonesia akibat pertumbuhan yang lambat di negaranya. Meski demikian, rencana penjualan mungkin akan menjadi rumit, karena dibatasi kesepakatan dengan Astra yang juga pemegang saham terbesar Bank Permata.

Astra dan Stanchart mengambil alih 51% saham Bank Permata pada 2002. Ketika itu, nilai transaksi mencapai US$ 305 juta. Astra dan Stanchart selanjutnya meningkatkan kepemilikan saham menjadi total 89,01% pada 2006. Dengan demikian, per September 2014, Astra dan Stanchart masing-masing tercatat menguasai 44,56% saham Bank Permata. Adapun investor publik mengantongi 10,88% saham. (bani)

Related posts