Koreksi Harga BBM Diyakini Turunkan Inflasi - Surabaya, Jawa Timur

NERACA

Surabaya - Bank Indonesia Wilayah IV Jawa Timur optimistis koreksi harga bahan bakar minyak (BBM) dapat mempercepat penurunan inflasi selama 2015 karena memiliki dampak keberlanjutan terhadap berbagai turunnya harga bahan pokok.

Kepala Perwakilan BI Wilayah IV Jawa Timur, Benny Siswanto, menyatakan, dengan asumsi harga minyak dunia tetap rendah maka inflasi Jatim hingga akhir 2015 diperkirakan berada antara empat persen plus minus satu persen. Bahkan, penurunan harga elpiji 12 Kilogram juga mampu menyumbang penurunan inflasi.

"Kini harga minyak dunia sekitar 47 dolar AS per barel. Lalu, diprediksi akan tetap rendah," ujarnya, ditemui di Kantor BI Wilayah IV Surabaya, Jawa Timur, Rabu (21/1).

Apalagi, jelas dia, produksi minyak di Amerika Serikat juga melimpah. Dengan begitu ketersediaan minyak dunia semakin banyak. Berdasarkan proyeksi Bloomberg untuk 2015 berkisar 60 dolar AS per barel.

"Sementara sesuai asumsi APBN ada di kisaran 70 dolar AS per barel untuk 2015. Untuk itu bisa dikatakan stok minyak dunia memang masih aman," katanya.

Pada awal 2015, tambah dia, pemerintah telah dua kali menurunkan harga BBM yakni pada tanggal 1 Januari dan 19 Januari 2015. Kalau untuk premium, harga yang berlaku saat ini yaitu Rp6.700 per liter.

"Ketentuan itu hampir mendekati harga awal sebelum kenaikan yaitu Rp6.500 per liter," katanya.

Dia juga menyebutkan, walaupun saat ini harga BBM turun tetapi harga bahan pokok belum turun seperti tarif transportasi dan komoditas yang masuk volatile food. Misalnya untuk transportasi maka faktor pembentuk harga tidak hanya ditentukan oleh harga BBM.

"Di sisi lain, harga suku cadang justru naik disebabkan pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Kondisi itu juga yang menjadi alasan tarif transportasi tidak segera turun," katanya.

Meski demikian, lanjut dia, Bank Indonesia yang juga termasuk Tim Pengendali Inflasi Daerah/TPID akan berdiskusi dengan pelaku usaha transportasi. Apalagi tarif tersebut memang seharusnya tetap turun. Terkait volatile food, fluktuasi harganya bisa jadi dipengaruhi faktor cuaca yang memengaruhi proses produksi dan distribusi.

"Sekarang harga bahan makanan yang naik adalah telur ayam dan daging ayam. Sementara, penentuan waktu pemerintah dalam menaikkan atau menurunkan harga administered price sangat berpengaruh terhadap terjadinya inflasi," katanya. [ant]

BERITA TERKAIT

Waspada Inflasi, Harga Telur Tembus Rp30 Ribu Per Kilogram

  NERACA   Jakarta – Salah satu penyumbang angka inflasi adalah sektor pangan. Telur juga menjadi satu diantara bahan pangan…

Pengawasan Perbankan dan Harga Komoidtas

Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis Pengawasan perbankan berkaitan erat dengan harga komoditas, apalagi jika negaranya…

KABUPATEN SUKABUMI - Rupiah Melemah, Picu Kenaikan Harga Telur

KABUPATEN SUKABUMI Rupiah Melemah, Picu Kenaikan Harga Telur NERACA Sukabumi – Kenaikan harga telur bukan ras (Buras) di sejumlah pasar…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Pertumbuhan Kredit Juni Double Digit

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan penyaluran kredit perbankan pada Juni 2018 masih di…

Literasi Keuangan Dinilai Masih Rendah

      NERACA   Jakarta - Asosiasi Teknologi Finansial atau Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) mengatakan literasi keuangan masyarakat di…

BI Sebut Ada Capital Inflow Rp6 Triliun - Bunga Acuan Naik

      NERACA   Jakarta - Modal asing masuk melalui Surat Berharga Negara sebesar Rp6 triliun setelah imbal hasil…