Petani Jadi Kunci Keberhasilan - Kedaulatan Pangan

NERACA

Jakarta - Pengamat pertanian Dwi Andreas Santosa mengatakan petani akan menjadi kunci bagi keberhasilan program pembangunan kedaulatan pangan.

"Kuncinya ialah bukan dengan menempatkan petani sebagai obyek kebijakan, tapi menempatkan mereka sebagai subyek," kata Guru Besar Fakultas Pertanian IPB Bogor itu di Jakarta, Rabu (21/1).

Petani harus berperan aktif dalam mengembangkan pertanian, dan didukung juga dengan sikap pemerintah melalui implementasi kebijakan di lapangan.

Dia mencontohkan, petani bersama dengan peneliti atau pakar pertanian bisa memberikan penyuluhan kepada petani yang lebih muda agar terjadi tukar-menukar pengalaman atau transfer teknologi.

Selain itu, para petani saat ini juga semakin sadar terhadap peran mereka dalam pelaksanaan program pertanian yang dicanangkan Presiden Joko Widodo itu.

"Banyak petani yang bilang ke saya bahwa mereka mau kembali mengolah lahan, asalkan pemerintah mau melindungi harga jualnya di pasaran," kata Andreas.

Selanjutnya, yang tidak kalah penting ialah meningkatkan kesejahteraan petani agar muncul gairah untuk turut membangun kedaulatan pangan.

Sebaiknya, subsidi pupuk dan beras miskin (Raskin) diberikan dalam bentuk uang tunai, sehingga petani bisa mengelolanya untuk kepentingan program kedaulatan pangan.

"Subsidi itu sebaiknya diberikan ke petani secara tunai, agar bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi pangan," kata pria yang juga Ketua Umum Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia itu.

Desa Mandiri Benih

Andreas juga mengatakan bahwa pemberdayaan Desa Mandiri Benih (DMB) secara nasional akan mencegah kerugian akibat gagal panen.

"Tidak ada benih yang benar-benar unggul, beda lokasi akan beda hasilnya. Melalui DMB diharapkan petani lokal bisa mengonservasi benih sesuai kebutuhan," katanya.

Dia mengemukakan saat ini 78% benih tanaman hortikultura dan hampir 100% benih tanaman pangan telah dikuasai korporasi, sehingga kapasitas petani dalam menghasilkan benih semakin tergerus.

"Kapasitas mereka dalam menjaga keanekaragaman hayati pertanian semakin tergerus, semakin tidak berdaya. Ketergantungan mereka jadi tinggi," katanya.

Untuk itu, Andreas menekankan bahwa diperlukan upaya keras dalam mewujudkan salah satu agenda program kedaulatan pangan nasional tersebut.

Dengan begitu petani mampu mandiri dalam mengelola dan memproduksi benih hingga melakukan pemuliaan tanaman, katanya menambahkan.

"Dalam konsep keilmuan langkah seperti itulah yang betul. Tidak ada benih Superman, satu jenis bisa bagus di semua tempat. Itu mustahil di alam," katanya menegaskan.

Untuk itu pemerintah dan pihak terkait harus mengembangkan aspek lokalitas tersebut, sehingga menjadi konsep utama Desa Mandiri Benih.

Terkait dengan pengembangan DMB, dia menyayangkan keputusan pemerintah yang hanya akan membentuk 1.000 DMB di seluruh Indonesia.

Menurut Andreas jumlah tersebut sangat kurang dan tidak sebanding dengan jumlah desa di Indonesia yang mencapai 74.000 lebih.

"Yang pernah kami sampaikan ke Presiden adalah 25.000 DMB hingga 2019, bukan 1.000. Saya yakin jika terwujud akan terjadi dampak positif yang signifikan," kata Andreas. [ardi]

Related posts