2015, LPEI Targetkan Pembiayaan Rp60,5 Triliun

NERACA

Jakarta - Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia menargetkan pembiayaan sebesar Rp60,5 triliun pada tahun anggaran 2015, atau tumbuh 9,64% dibanding realisasi pembiayaan 2014 sebesar Rp55,1 triliun. Direktur Eksekutif LPEI, Basuki Setyadjid, mengatakan bahwa sejalan dengan target tersebut, perusahaan juga menginginkan pembiayaan untuk unit usaha kecil dan menengah (UMKM) pada tahun 2015 dapat bertumbuh menjadi sekitar Rp6 triliun.

"Kami juga ingin menaikkan untuk sektor UMKM, mungkin persentasenya masih 10% dari total realisasi, tetapi nilainya bertumbuh," ujarnya di Komisi XI DPR, Jakarta, rabu (21/1). Menurut Basuki, distribusi pembiayaan masih akan didominasi korporasi berskala menengah dan besar.

Dia pun meyakini segmen industri masih akan menjadi nasabah terbesar untuk distribusi pmbiayaan, terutama dengan komitmen pemerintah yang ingin menggencarkan industri maritim dan manufaktur.

Berdasarkan dokumen paparan LPEI kepada Komisi XI DPR, laba bersih LPEI pada 2014 sebesar Rp1,18 triliun. Perusahaan ingin mengangkat perolehan laba bersih menjadi Rp1,20 triliun pada tahun 2015.

Direktur Utama LPEI, Ngalim Sawega, mengatakan bahwa kinerja ekspor Indonesia pada 2015 relatif cukup prospektif. Begitu pula, dengan segmen nasabah yang disasar LPEI, yang mayoritas tidak tersentuh oleh saluran kredit dari bank.

Ngalim mengatakan bahwa mayoritas nasabah LPEI mampu mengantisipasi pelambatan perekonomian global yang berdampak pada negara sasaran ekspor seperti China dan Jepang. "Kita sudah 'mature' karena perusahaan tidak hanya bergantung pada satu komoditas," ujar dia.

Beberapa nasabah, ujar dia, telah mendiversifikasi andalan eskpornya, pun menambah negara-negara sasaran ekspor. Ngalim mengatakan bahwa LPEI juga akan memberikan perhatian khusus untuk pembiayaan ekspor barang bernilai tambah.

Beberapa nasabah besar LPEI adalah BUMN seperti PT Pindad (Persero) dan PT Dirgantara Indonesia (Persero). "Kami juga memperkirakan pemrintaan ekspor bernilai tambah akan meningkat. Pembiayaan dari smelter juga menurut catatan kami, ordernya melimpah," ujar dia.

Berdasarkan data LPEI hingga akhir 2014, pembiayaan paling banyak tersalurkan ke perindustrian sebanyak 44,6% dan pertambangan 13,6%. Kemudian, sektor pertanian 11,6% dan pengangkutan 8,18%.

Mengenai data kesehatan perusahaan, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio / CAR) berada di 15,03%, sedangkan rasio kredit bermasalah berada di 0,68%. Adapun total aset perusahaan hingga 2014 mencapai Rp60,5 triliun.

Sebelumnya, bakal menerbitkan surat utang atau obligasi yang ditargetkan sampai akhir semester I-2015 bisa diterbitkan dengan nilai obligasi sebesar Rp4 triliun dari total nilai Rp8 triliun yang akan diterbitkan sampai akhir 2015. Sementara sampai saat ini, perusahaan sudah menerbitkan Rp1,5 triliun.

Tercatat, LPEI baru saja mencatatkan obligasi senilai Rp1,5 triliun. Obligasi berkelanjutan II Tahap IV tahun 2015 tersebut diterbitkan dalam dua seri, yaitu Seri A dengan nilai Rp800 miliar dalam jangka waktu 3 tahun. Sedangkan seri B diterbitkan dengan nilai Rp700 miliar dalam jangka waktu 5 tahun.

Pasca penerbitan obligasi, perseroan juga akan menerbitkan obligasi lagi sehingga sampai akhir semester I-2015, nilai obligasi yang diterbitkan mencapai Rp4 triliun. Obligasi tersebut telah mendapat peringkat idAAA dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

Adapun bertindak sebagai wali amanat dalam emisi itu adalah Bank Mandiri. Dengan pencatatan ini, maka total emisi obligasi maupun sukuk yang tercatat di BEI hingga saat ini sebanyak 259 emisi dari 102 emiten, dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp223,62 triliun dan US$ 100 juta.

Surat Berharga Negara (SBN) tercatat mencapai 87 seri sebesar Rp1.213,09 triliun serta enam Efek Beragun Aset (EBA) senilai Rp3,06 triliun. Sementara sepanjang tahun lalu, total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI mencapai Rp46,84 triliun, yang disumbang dari 49 emisi dari 36 emiten. [ardi]

Related posts