Perusahaan Otomotif Asal Jepang Berikan Dana Hibah - Pangkas Kemacetan Jakarta

Pemerintahan Jepang dan perusahaan swasta bekerjasama hadapi kemacetan di Ibu Kota.

NERACA

Seperti diketahui, di kota megapolitan ini berjejer mall, hotel-hotel mewah, real estate, apartemen dan gedung-gedung pencakar langit yang megah menghiasi dan membuai setiap mata yang memandang kecantikan ibu kota negara Indonesia ini.Namun jangan terkejut jika terlihat wajah kengerian yang tersembunyi dibalik kemegahannya.

Banyak sekali masalah perkotaan yang bisa dirasakan. Dari sekian banyak permasalahan yang dimilikinya, masyarakat kota megapolitan ini selalu disajikan dengan kemacetan yang semakin hari semakin parah. Sedangkan menu utama lainnya adalah polusi udara, dimana pertambahan jumlah kendaraan yang melintas di Jakarta menjadikan kualitas udara di Jakarta memburuk.

Ya, kemacetan sudah menjadi permasalahan klasik di Ibu Kota. Tak ayal permasalahan ini menyebabkan kerugian yang besar baik dari nilai waktu, material, bahkan kesehatan. Berdasarkan data dari Yayasan Pelangi pemborosan yang terjadi akibat kemacetan adalah sebesar Rp 8,3 triliun per tahun. Angka ini akan terus meningkat jika tidak segera diatasi.

Terkait masalah akut Jakarta, yakni macet dan polusi, pemerintah Jepang melalui Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yasuaki Tanizaki memberikan dana hibah kepada lembaga swasta Indonesia "Urban and Regional Development Institute" untuk mendanai proyek mitigasi (penanganan) kemacetan di Provinsi DKI Jakarta.

Hibah ini sendiri diberikan dalam bentuk bantuan dana sejumlah US$99.904. Ini merupakan bantuan dari Pemerintah Jepang dan sembilan perusahaan otomotif Jepang yang tergabung dalam Jakarta Japan Club (JJC).

Dalam acara penandatanganan proyek bantuan hibah tersebut di Kedutaan Besar Jepang, Jakarta beberapa waktu lalu, Tanizaki menyampaikan bahwa pemberian hibah ini juga merupakan representasi dari hubungan baik antara Jepang dan Indonesia yang sudah terjalin sejak lama.

"Semoga proyek ini bisa berjalan sesuai harapan dan dapat membantu masyarakat Jakarta yang menghadapi kemacetan parah setiap harinya," ujar Yasuaki Tanizaki

Sementara itu Direktur Manajemen Urban and Regional Development Institute Wahyu Mulyana, sebagai pihak pelaksana proyek mengungkapkan apresiasinya terhadap bantuan pemerintah Jepang dan JJC untuk proyek penanganan kemacetan di Jakarta ini.

"Sebuah kehormatan bagi kami bisa mendapatkan hibah dari pemerintah dan JJC. Jakarta sedang krisis kemacetan dan kami akan berusaha agar proyek ini bisa berdampak baik bagi masyarakat," ujar Wahyu.

Proyek yang didanai Jepang ini sendiri dinamakan "Mitigasi Kemacetan dan Kemerosotan Lingkungan Jabodetabek (Persimpangan Gelora)" melalui program Bantuan Hibah "Grassroots" untuk Keamanan Manusia.

Pekerjaan ini meliputi perbaikan jalur kendaraan, lampu, dan rambu-rambu lalu lintas di persimpangan Gelora, Jakarta Pusat, salah satu titik dengan kemacetan paling parah di Jakarta yang mengakibatkan tingginya polusi, kebisingan dan permasalahan lingkungan lain.

Program ini diharapkan dapat mengurangi kemacetan lalu lintas di Jakarta khususnya kawasan persimpangan Gelora, sehingga lingkungan dan kesehatan masyarakat akan lebih baik.

Bantuan Hibah "Grassroots" untuk Keamanan manusia ini sendiri merupakan skema yang dapat membantu masyarakat Indonesia di tingkat "grassroots" (akar rumput) secara langsung melalui organisasi "non profit" seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Proyek "Mitigasi Kemacetan dan Kemerosotan Lingkungan Jabodetabek (Persimpangan Gelora)" milik Urban and Regional Development Institute terpilih untuk mendapatkan hibah setelah proposal yang diajukan lolos seleksi Kedutaan Besar Jepang di Indonesia.

Related posts