Pelindo I Terbitkan Obligasi Rp 300 Miliar

NERACA

Jakarta – Guna mendanai ekspansi bisnis dan kebutuhan belanja modal, PT Pelindo I (Persero) berencana menerbitkan obligasi senilai Rp300 miliar pada semester II-2015,”Penerbitan surat utang sedang dalam penjajakan. Dananya akan digunakan untuk menambah kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun 2015," kata Direktur Utama Pelindo I, Bambang Eka Cahyana di Jakarta, Rabu (21/1).

Menurut Bambang, saat ini berdasarkan lembaga Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) rating Pelindo I adalah idAA, yang mengindikasikan sangat layak untuk menerbitkan surat utang. Pada tahun 2015 Pelindo I mengalokasikan belanja modal sebesar Rp3,2 triliun yang akan dibiayai dari kas internal sebesar Rp1,2 triliun dan pinjaman perbankan Rp2 triliun.

Adapun belanja modal tersebut akan digunakan untuk investasi pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung dan revitalisasi Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara. Khusus pelabuhan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, menjadi pelabuhan khusus terminal curah cair untuk melayani pengiriman hasil perkebunan berupa minyak sawit (CPO).

Masa pembangunan sekitar 18 bulan meliputi pelabuhan peti kemas dengan pembangunan dermaga sepanjang 400 meter, lapangan penumpukan berkapasitas 400.000 TEUs pertahun, utilitas, peralatan dan instalasi teknologi informasi.

Dalam mengerjakan proyek tersebut Pelindo I bekerja sama dengan BUMN lain seperti Pembangunan Perumahan, Waskita Karya, Wijaya Karya, Hutama Karya, Inalum, PTPN III. Pelindo I saat ini mengelola sebanyak 19 pelabuhan yang berada Propinsi Aceh, Sumatera Utara, Riau dan Kepulauan Riau.

Pada tahun 2015, Pelindo I menargetkan pendapatan sekitar Rp2,3 triliun, tumbuh sekitar 12% dari realisasi tahun 2014. Sedangkan laba bersih perusahaan yang mengelola lima pelabuhan tersebut pada 2015 diproyeksikan mencapai Rp605 miliar, tumbuh dari laba 2014 sebesar Rp550 miliar.

Analis Penilai Harga Efek Indonesia, Fakhrul Aufa memperkirakan penerbitan surat utang atau obligasi korporasi akan marak pada semester pertama pada tahun ini,”Deviasinya tergantung dari situasi suku bunga terutama pengaruh 'tapering' the Fed ke pasar kita. Oleh sebab itu, penerbitan akan lebih banyak di semester pertama dibanding semester kedua,”ujarnya.

Dirinya memperkirakan, penerbitan obligasi pada tahun ini akan didominasi oleh perusahaan yang bergerak di sektor keuangan yang membutuhkan dana untuk melakukan pembiayaan kembali atau "refinancing",”Penerbitan yang paling besar adalah oleh perusahaan multifinance dan perbankan untuk 'refinancing'. Secara umum, besaran penerbitan obligasi tahun ini bisa kita lihat dari jumlah yang jatuh tempo,"ujarnya.

Dia mengemukakan, obligasi jatuh tempo pada tahun ini sekitar Rp33,74 triliun, atau lebih rendah dibandingkan tahun 2014 yang sebesar Rp38,78 triliun. Sementara untuk penerbitan obligasi pada tahun 2015 ini diperkirakan mencapai Rp35-Rp40 triliun. (bani)

BERITA TERKAIT

Antam Refinancing Obligasi Rp 900 Miliar - Marak Obligasi Jatuh Tempo

NERACA Jakarta – Tren obligasi jatuh tempo tahun ini cukup marak, alhasil kebanyakan emiten disibukkan untuk mempertebal kocek untuk membayar…

BRPT Siapkan Belanja Modal US$ 1,19 Miliar

Dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi pabrik petrokimia sebesar 900 ribu ton menjadi 4,2 juta ton per tahun, PT Barito Pacific…

Potensi Global US$88 Miliar, Ekspor Komponen Pesawat akan Dipacu - Kebijakan Publik

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong peningkatan daya saing industri nasional agar mampu menghasilkan produk yang berkualitas sehingga kompetitif…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BRPT Siapkan Belanja Modal US$ 1,19 Miliar

Dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi pabrik petrokimia sebesar 900 ribu ton menjadi 4,2 juta ton per tahun, PT Barito Pacific…

Gandeng Binar Academy - Telkomsel Edukasi Digital Anak Muda di Timur

NERACA Jakarta - Dalam rangka pemerataan dan menggejot partisipasi anak muda di kawasan Timur Indonesia dalam kompetisi The NextDev, Telkomsel…

Juli, Fast Food Baru Buka 6 Gerai Baru

Ekspansi bisnis PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) dalam membuka gerai baru terus agresif. Tercatat hingga Juli 2018, emiten restoran…