Malindo Feedmill Garap Pasar Jepang

NERACA

Jakarta- Perusahaan pakan ternak, PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) melalui anak usahanya, PT Malindo Food Delight telah mengantongi izin ekspor makanan olahan ke Jepang. Hal itu akan menjadi langkah awal Malindo masuk ke pasar global. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Direktur Malindo, Rewin Hanrahan mengatakan, pihaknya telah menerima surat persetujuan dari Pemerintah Jepang untuk mengekspor makanan olahan. Adapun jenis makanan olahan yang akan diekspor antara lain nugget, karage, wings, dan drumstick,”Kepercayaan yang diberikan pemerintah Jepang menunjukkan bahwa kualitas produk milik Malindo sudah memenuhi standar yang selama ini sangat ketat. Kami yakin potensi ekspor ke negara ini sangat besar,”ungkapnya.

Setelah lebih dari satu dekade, Pemerintah Jepang akhirnya kembali mengizinkan impor daging olahan dari Indonesia. Ketika itu, larangan impor daging ayam olahan diberlakukan akibat wabah virus flu burung pada 2004.

Lebih jauh, Rewin mengungkapkan, Malindo akan secara aktif menyasar potensi ekspor makanan olahan ke negara-negara lainnya, terutama Asia dan Timur Tengah. “Jika realisasi ekspor ke Jepang berjalan lancar, Malindo juga akan membidik peluang ekspor selanjutnya, yaitu ke Singapura dan Timur Tengah,” ujar Rewin.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia telah menargetkan ekspor makanan olahan sebesar US$ 200 juta atau setara Rp 2,5 triliun. Dari jumlah tersebut, Malindo berkomitmen untuk mendapat porsi ekspor semaksimal mungkin.

Dalam hal ini, Malindo harus bersaing dengan tiga perusahaan pakan ternak lainnya, yakni PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Sierad Produce Tbk (SIPD), dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Tiga perusahaan tersebut telah lebih dulu mengantongi izin Pemerintah Jepang pada akhir tahun lalu.

Tahun ini, PT Malindo Feedmill Tbk menyiapkan dana sekitar US$ 50 juta atau sekitar Rp 600 miliar untuk belanja modal (capital expenditure/capex). Capex tersebut naik 20% dibandingkan tahun lalu Rp 500 miliar. Sesuai rencana, dana akan digunakan untuk memperbesar kapasitas produksi pabrik pakan.

Deputy Chief Executive Officer Malindo, Lau Joo Hwa pernah mengatakan, perseroan berniat membangun kandang ternak dan pabrik pakan baru. Selain itu, perseroan akan mengembangkan bisnis upstream atau daging olahan,”Kami akan meningkatkan kapasitas produksi pabrik daging olahan tahun depan. Dengan demikian, diharapkan dapat menggenjot bisnis upstream hingga 30%,” kata Lau.

Saat ini, kapasitas terpasang pabrik olahan Malindo mencapai 7 ribu ton per tahun. Namun, kapasitas produksi yang terealisasi baru sekitar 20 – 30%. Hingga September 2014, kontribusi pendapatan dari penjualan daging olahan tercatat sebesar Rp 3,39 miliar, naik tipis dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 2,53 miliar.

Selama kuartal III – 2014, Malindo mencatat penurunan laba bersih sebesar 92,5%, dari Rp 242,6 miliar pada kuartal III – 2013 menjadi Rp 18,5 miliar. Penurunan drastis ini disebabkan oleh pelemahan nilai tukar rupiah, yang memicu pembengkakan biaya produksi Malindo. (bani)

Related posts