Laju IHSG Belum Berpaling Dari Zona Hijau

NERACA

Jakarta –Mengakhiri perdagangan Rabu sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melaju 49,176 poin (0,95%) ke level 5.215,266. Sementara Indeks LQ45 ditutup melonjak 11,925 poin (1,34%) ke level 902,825. Lagi-lagi, ramainya aksi beli investor asing mendorong indeks naik tinggi.

Analis Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya mengatakan, menguatnya indeks BEI ditopang oleh kembali masuknya dana asing atau capital inflow ke pasar saham Indonesia,”Aksi beli investor mendorong IHSG BEI melanjutkan penguatan menembus level 5.200 poin," ujarnya di Jakarta, Rabu (21/1).

Menurut dia, optimisnya pemerintah mendorong perekonomian domestik hingga mencapai 5,8% pada tahun ini melalui pembangunan berbagai sarana infrastruktur menjadi salah satu pendorong asing masuk ke pasar. Disebutkan, kondisi bursa regional yang juga cukup positif menambah dorongan bagi indeks BEI.

Secara teknikal, William Suryawijaya menambahkan bahwa IHSG berhasil lepas dari fase konsolidasi dan berpotensi melanjutkan kenaikan menuju level batas atas lanjutan ke 5.247 poin,”Setelah keluar dari fase konsolidasi ditunjang oleh menguatnya mata uang rupiah, IHSG berpotensi melanjutkan tren penguatan jangka pendeknya,”tuturnya.

Diperkirakan, indeks BEI Kamis bakal bergerak menguat seiring belum redanya aksi beli investor yang dipicu positifnya data ekonomi dalam negeri. Transaksi investor asing hingga sore kemarin, terpantau melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 218 miliar di pasar reguler dan negosiasi. Perdagangan berjalan ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 234.176 kali dengan volume 5,206 miliar lembar saham senilai Rp 6,26 triliun. Sebanyak 162 saham naik, 144 turun, dan 80 saham stagnan.

Dipangkasnya proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia oleh IMF tidak banyak mempengaruhi pelaku pasar. Bursa-bursa di Asia ratar-rata bisa ditutup positif. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Merck (MERK) naik Rp 9.000 ke Rp 154.000, Mayora (MYOR) naik Rp 1.800 ke Rp 23.800, Unilever (UNVR) naik Rp 1.750 ke Rp 35.950, dan Indofood CBP (ICBP) naik Rp 1.100 ke Rp 14.500.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 2.975 ke Rp 53.035, Blue Bird (BIRD) turun Rp 450 ke Rp 11.025, Elang Mahkota (EMTK) turun Rp 350 ke Rp 7.800, dan Astra Agro (AALI) turun Rp 325 ke Rp 24.175.

Perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup menguat tipis 0,634 poin (0,01%) ke level 5.166,724. Sementara Indeks LQ45 menguat tipis 1,160 poin (0,13%) ke level 892,060. Saham-saham lapis dua masih bisa menguat, tapi sudah banyak juga saham unggulan yang jatuh ke zona merah. Hanya empat sektor yang bertahan positif.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 127.270 kali dengan volume 2,553 miliar lembar saham senilai Rp 2,781 triliun. Sebanyak 125 saham naik, 125 turun, dan 90 saham stagnan. Bursa-bursa regional melesat cukup tinggi hingga siang hari, berhasil menyingkirkan sentimen negatif proyeksi ekonomi dunia yang melambat versi IMF.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Mayora (MYOR) naik Rp 1.500 ke Rp 23.500, Matahari (LPPF) naik Rp 525 ke Rp 15.225, Unilever (UNVR) naik Rp 400 ke Rp 24.600, dan Bukit Asam (PTBA) naik Rp 350 ke Rp 11.075. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 3.000 ke Rp 53.000, Golden Energy (GEMS) turun Rp 430 ke Rp 1.515, Blue Bird (BIRD) turun Rp 425 ke Rp 11.050, dan Samudera Indonesia (SMDR) turun Rp 300 ke Rp 11.200.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka menguat sebesar 10,26 poin atau 0,20% ke posisi 5.176,35. Sementara itu indeks 45 saham unggulan (LQ45) naik sebesar 2,59 poin atau 0,29% ke posisi 893,49. Kata analis Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya, indeks BEI melanjutkan penguatannya, salah satu faktor penopangnya datang dari sentimen fundamental ekonomi Indonesia yang cukup stabil sehingga pelaku pasar masih cukup aktif melakukan transaksi beli,”Belum ada alasan bagi indeks BEI mengalami tekanan, kondisi politik dan ekonomi Indonesia cukup stabil," katanya.

Dia menambahkan bahwa penguatan indeks BEI juga seiring dengan laju mayoritas bursa saham eksternal menyusul munculnya spekulasi bank sentral Eropa (ECB) akan melakukan program pembelian obligasi serta data ekonomi produk domestik bruto (PDB) tahunan Tiongkok yang tumbuh 7,3% pada kuartal ke-4 2014.

Sementara itu, tim analis teknikal Mandiri Sekuritas memperkirakan bahwa IHSG BEI berpotensi melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu akan bergerak di kisaran 5.123-5.206 poin. Salah satu sentimen yang mendukung yakni pemerintah menargetkan defisit anggaran sebesar 1,9% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada RAPBNP 2015, atau turun dari target APBN 2015 yang sebesar 2,21%. Dengan demikian, total kebutuhan pembiayaan juga turun dari Rp245,9 triliun menjadi Rp225,9 triliun.

Sementara untuk menutup defisit fiskal di RAPBNP 2015, lanjut dia, pemerintah berencana menerbitkan samurai bonds, global bonds, sukuk global, dan euro bonds. Pembiayaan dari obligasi valas itu direncanakan maksimal 20% terhadap total kebutuhan pembiayaan.

Bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka menguat 209,64 poin (0,88%) ke 24.160,80, indeks Bursa Nikkei turun 81,82 poin (0,47%) ke 17.284,48, dan Straits Times menguat 8,48 poin (0,26%) ke posisi 3.342,85. (bani)

Related posts