RI Minim Tenaga Kerja Ahli - Sambut MEA 2015

NERACA

Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Haryadi Sukamdani menegaskan, Indonesia sampai dengan saat ini masih kekurangan tenaga kerja ahli yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha.

Menurutnya, setiap tahun masing-masing sektor usaha di Indonesia selalu mengalami kekurangan tenaga kerja yang terampil dalam masing-masing sektor. Padaha kita bakal menyambut pagelaran pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir tahun 2015 ini. Untuk itu, pemerintah diminta untuk lebih intensif membenahi sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang terampil agar mampu bersaing di pasar bebas ASEAN nanti. Karena jika tidak, maka dunia usaha domestik menggunakan tenaga ahli dari negara lain.

"Saat ini kita masih kekurangan tenaga ahli yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha saat ini. Untuk itu, penting pemerintah untuk segera melakukan upaya peningkatan SDN dalam negeri, jika tidak ingin dunia kerjanya diambil oleh tenaga kerja negara ASEAN lain,” katanya di Jakarta, Rabu (21/1).

Haryadi mengatakan bahwa permasalahan ini banyak disebabkan oleh tidak seimbangnya jumlah lulusan dari perguruan tinggi atau sekolah kejuruan tertentu yang siap bekerja dengan kebutuhan tenaga kerja dari sektor tertentu. "Masalahnya kualifikasi dari tenaga lulusan perguruan tidak ini tidak siap pakai. Ini butuh link and match dengan kebutuha indistrinya supaya para lulusan siap untuk berikan kontribusi kepada industri," tandasnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Tenaga Kerja Benny Soetrisno, menuturkan, menghadapi MEA, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan hal penting yang harus dipersiapkan. Sebab, hal tersebut akan berpengaruh terhadap daya saing dunia usaha. "Keberadaan SDM yang berkualitas dan kompeten mutlak diperlukan karena akan berimplikasi pada daya saing dunia usaha dan perekonomian nasional," ungkap

Kualitas SDM Indonesia memang dikategorikan cukup rendah. Berdasarkan survei yang disajikan dalam Global Competitiveness Report, Indonesia mendapat peringkat 110 dari 144 negara dalam kategori efisiensi tenaga kerja.

Kualitas SDM Indonesia yang masih rendah harus diperbaiki mulai dari sekarang. Sebab, kualitas tersebut akan menentukan bagaimana tenaga kerja dari Indonesia dapat bersaing dengan tenaga kerja lainnya.

Dengan adanya MEA, Indonesia harus siap menerima terpaan pasar bebas. Sehingga, perbaikan SDM merupakan salah satu hal terpenting yang menjadi tugas pemerintah.

Sementara itu, menurut Pengamat ekonomiyang juga mantan Menteri Koordinator Perekonomian,Rizal Ramli, mengatakan Perguruan Tinggi sebagai salah satu institusi yang melahirkan generasi muda cerdas, menurut Rizal, harus mampu menyiapkan sumber daya manusiannya yang handal dalam menyambut pagelaran pasar tunggal ASEAN. “SDM harus memilki kompetensi tinggi yang disyaratkan atas terbentuknya pasar tunggal ASEAN itu, karena jika tidak Indonesia harus menjadi penonton,” jelasnya.

Karena jika tidak, Indonsia akan menjadi sasaran empuk bagi korporasi asing untuk dikeruk kekayaannya dan kita akan menjadi penonton dan buruh bagi kekayaan alam kita sendiri yang dijual di pasar bebas. Relakah bangsa ini dijadikan sapi perah perdagangan bebas ASEAN 2015?. Rakyat hanya berharap ada sosok soekarno yang hidup kembali dalam rupa calon presiden mendatang. Dialah yang akan membentengi bangsa ini dari kepungan penjajahan ekonomi yang tanpa kita sadari tengah terjadi. “Penting untuk dapat meningkatkan kualitas SDM untuk dapat membangun bangsa yang mandiri,” tukasnya. [agus]

Related posts