Tiphone Masih Mengandalkan Penjualan Pulsa - Bidik Penjualan Rp 18,5 Triliun

NERACA

Jakarta – Produsen dan distributor seluler, PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE) menargetkan peningkatan pendapatan sebesar 32,14% menjadi Rp18,5 triliun di 2015, dari perolehan target pendapatan di tahun 2014 yang mencapai di atas sebesar Rp14 triliun,”Kami optimistis target pendapatan di tahun 2014 dan tahun ini akan terwujud. Kontribusi pendapatan masih banyak disumbang dari voucher pulsa dan kartu perdana," kata Sekretaris Perusahaan TELE, Semuel Kurniawan di Jakarta, kemarin.

Samul menjelaskan, kontribusi penjualan pulsa masih pendorong utama dari perolehan pendapatan yang didapatkan perseroan. Setelah itu baru disusul oleh handset dan sebagainya. Menurutnya, pulsa merupakan kebutuhan utama bagi seorang, karena semua lapisan masyarakat membutuhkannya dari pedagang kecil sampai pebisnis. Sebab semua menggunakan alat komunikasi guna memperlancar kegiatan mereka sehari-hari, bahkan dalam berbisnis.

Asal tahu saja, kontribusi utama pendapatan perseroan masih ditopang penjualan pulsa hinga 70%, handset sendiri mencapai 20-30%. Maka dengan melihat faktor pendorong utama pendapatan dari pulsa, Samuel meyakini di tahun ini juga penyumbang utama pendapatan untuk perseroan masih dihasilkan dari penjualan pulsa,”Semua orang butuh pulsa. Jadi kita yakini pendorong utama pendapatan dari pulsa,”kata Samuel.

Selain itu, tahun ini perseroan berharap rencana akuisisi terhadap distributor produk Telkomsel, PT Simpatindo Multimedia (SMM), yang sebelumnya ditargetkan tahun lalu, bisa rampung pada kuartal pertama tahun ini.

Direktur Utama PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk, Tan Lie Pin pernah bilang, tahun ini rencana bisnis akuisisi Simpatindo ditargetkan bisa rampung. Pasalnya, bila Simpatindo bisa diakuisisi lebih cepat maka dapat menjaga portofolio perseroan di bisnis voucher. Minimal masukan pendapatan dari Simpatindo bisa berkontribusi sekitar Rp4 triliun,”Awalnya kami targetkan aksi korporasi itu rampung November dan Desember 2014. Ternyata molor,"ungkapnya.

Sebagai informasi, Simpatindo akan diakuisisi dengan nilai sekitar Rp500 miliar sebagai dampak dari aksi spin off anak usaha TiPhone, PT Excel Utama Indonesia (EUI) selaku distributor produk XL. Selama ini, EUI menyumbang Rp1 triliun terhadap pendapatan usaha TiPhone. Spin off harus dilakukan menyusul penguasaan Telkom atas saham TiPhone sebanyak 25%.

Dan bila sejumlah aksi korporasi tersebut rampung, perseroan optimistis dapat mengeruk pendapatan usaha sekitar Rp18 triliun untuk tahun ini dengan komposisi sekitar 70% berasal dari bisnis voucher telekomunikasi dan 30% sisanya dari penjualan ritel handset.

Diakhir tahun 2014 lalu, perseroan bersama dengan anak perusahaan mendapatkan pinjaman sebesar US$ 100 juta atau setara Rp1,25 triliun (kurs Rp12.500) untuk mendanai ekspansi bisnis. Pasalnya, ditengah ketatnya persaingan industri penjualan gadget memaksa PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk berstrategi untuk melebarkan jaring pemasarannya. Emiten produsen sekaligus distributor ponsel ini lebih memilih wilayah kabupaten yang relatif sepi pedagang ponsel, ketimbang wilayah perkotaan.

Untuk mendukung aksi korporasi itu, Tiphone memperbanyak jalur distribusi di wilayah kabupaten dan menambah gerai. Pada tahun 2014, perseroan menargetkan bisa memiliki 1.000 gerai ritel yang bernama Telesindo Shop. Sebagai catatan, hingga ahir Juni 2014 yang lalu, perusahaan itu baru memiliki 500 gerai. Artinya perlu 500 gerai baru. (bani)

Related posts