Penjualan Jababeka Terkoreksi 15%

NERACA

Jakarta- Sepanjang tahun 2014, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) mencetak penjualan pemasaran (marketing sales) unit properti sebesar Rp 1,02 triliun atau turun 15% dibandingkan 2013 sebesar Rp 1,2 triliun. Sepanjang tahun lalu, perseroan menjual total lahan seluas 24 hektare (ha).

Semula, perseroan menargetkan marketing sales tahun lalu sebesar Rp 1,2 triliun. Penjualan sektor real estate dan kawasan industri diharapkan mampu berkontribusi dengan proporsi yang seimbang. Dengan demikian, tahun lalu realisasi marketing sales mencapai 85% dari target.

Sekertaris Perusahaan Jababeka Muljadi Suganda mengatakan, kontribusi terbesar berasal dari penjualan sektor real estate 55% dari total penjualan atau sekitar Rp 563,75 miliar. Penjualan tersebut mengalami penurunan sekitar 10,8% dibandingkan penjualan produk perumahan dan komersial pada 2013 sebesar Rp 632 miliar,”Penjualan sektor real estat meliputi lahan perumahan dan komersial didorong oleh penjualan 7,7 ha lahan komersial dan penjualan 135 ruko yang dijual rata-rata sekitar Rp 1,75 miliar per unit,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Adapun penjualan kawasan industri mencapai Rp 457 miliar atau menyumbang 45% pada total penjualan sepanjang tahun lalu. Penjualan ini berasal dari penjualan lahan serta bangunan siap pakai (standard factory building). Terdapat peningkatan harga jual rata-rata sebesar 35% menjadi Rp 2,7 juta per meter persegi dibandingkan tahun lalu yakni Rp 2 juta meter persegi,”Kawasan industri menyumbang penjualan Rp 475 miliar yang mayoritas berasal dari penjualan lahan sekitar 12 ha dengan harga jual rata-rata mencapai Rp 2,7 juta per meter persergi. Selain itu penjualan standard factory building,” jelas dia.

Tahun ini, Jababeka menargetkan penjualan mampu mencapai Rp 1,2 triliun dari lahan perseroan di Cikarang. Target ini memperhitungkan pertumbuhan harga jual tanah rata-rata sekitar 10-15% tahun ini. Adapun volume penjualan ditargetkan sekitar 20 ha hingga 25 ha. Sementara untuk belanja modal, perseroan menganggarkan sebesar Rp 735 miliar. Capex tersebut mengalami penurunan, meski tidak signifikan bila dibandingkan dengan capex tahun lalu sebesar Rp 750 miliar.

Nantinya, perseroan akan mengalokasikan capex tersebut untuk melanjutkan akuisisi lahan di Kawasan Cikarang dan Kendal, Jawa Tengah sebanyak Rp 600 miliar. Alokasi tersebut di tahun kedua ini tidak sebesar tahun lalu yang mencapai Rp 750 miliar atau turun sebanyak 20%. Sisanya, sebesar Rp 135 miliar akan dialokasikan untuk perbaikan infrastruktur di Cikarang. (id/bani)

Related posts