OJK Perluas Penerbit EBA Surat Partisipasi - Libatkan Asuransi dan Pembiayaan

NERACA

Jakarta – Besarnya peran industri pasar modal dalam membiayai bisnis properti melalui investasi penerbitan efek beragun asset menjadi nilai yang strategis untuk mengembangkan lebih luas lagi produk investasi tersebut. Oleh karena itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus gencar memperluas penerbit Efek Beragun Aset Berbentuk Surat Partisipasi (EBA-SP).

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Kuangan (OJK) Nurhaida mengatakan, pihaknya akan terus perluas penerbit Efek Beragun Aset Berbentuk Surat Partisipasi,”Memang peraturan EBA-SP dikeluarkan OJK berupa peraturan No 23/2004 terkait pedoman penerbitan dan efek beragun aset. Ke depan, OJK ingin memperluas pihak yang menerbitkan efek beragun aset, juga diterbitkan pihak pembiayaan sekunder perumahan," katanya di Jakarta, Selasa (20/1).

Menurutnya, ‎pertumbuhan ekonomi yang tinggi membutuhkan sumber-sumber pembiayaan yang besar. Berdasarkan RPJMN 2015-2019, kebutuhan investasi pada 2015 mencapai Rp3.945 triliun, pada 2017 sebesar Rp5.188 triliun dan 2019 mencapai Rp5.948 triliun.

Sementara, pembiayaan perumahan dari APBN tidak mencukupi, sebab itu peran swasta dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah ini,”Sektor swasta umumnya dibiayai sektor perbankan. Kendati begitu, Loan Deposit Ratio (LDR) rendah maka kita butuh alternatif," jelas dia.

Nurhaida menuturkan, perluasan Efek Beragun Aset Surat Partisipasi akan menstimulasi penawaran (supply) dan permintaan (demand) perumahan,”Kita coba pacu supply melalui penambahan emiten atau jenis produknya. Selain itu, demand dari investor juga harus ditingkatkan,”ujarnya.

Selain itu, OJK sedang berupaya untuk meningkatkan investor institusi di sektor keuangan lainnya seperti sektor pembiayaan, perbankan, maupun asuransi. Untuk diketahui, setiap tahun kebutuhan perumahan tumbuh 800 ribu unit untuk kelas menengah ke bawah. Sementara Kemampuan pemerintah hanya 200-300 ribu unit. Maka untuk itu, target pemenuhan kebutuhan perumahan rakyat ini akan terpenuhi pada 2023.

Asal tahu saja, pembiayaan perumahan merupakan pembiayaan jangka panjang, sebab itu dapat dilakukan melalui pasar modal, seperti penerbitan obligasi, maupun penerbitan EBA-SP. Melihat besarnya sambutan positif dari pelaku pasar, menjadi keyakinan Nurhaida, bila prospek Efek Beragun Aset Berbentuk Surat Partisipasi dalam rangka pembiayaan sekunder perumahan akan semakin baik,”Rasanya minatnya akan banyak karena return-nya lebih bagus,"ungkapnya.

Kata Nurhaida, selama ini wewenang menerbitkan EBA-SP hanya dimiliki Menajer Investasi‎ (MI), namun sekarang EBA-SP bisa diterbitkan pihak lain. Harapannya tentu produk ini bisa diterbitkan pihak-pihak lain supaya semakin banyak (Penerbit EBA-SP), sehingga kebutuhan pembiayaan perumahan bisa menjadi lebih besar.

Sementara, terkait dengan ekspansi EBA-SP ke sektor lain, Nurhaida menegaskan bahwa sementara OJK hanya fokus pada sektor perumahan,”Buat sementara ini di sektor perumahan dulu karena ada kebutuhan tinggi untuk ini. Setelah itu, kalau ada kebutuhan di sektor lain maka kita akan perluas," tandasnya. (bani)

Related posts