Tren Penguatan IHSG Belum Beranjak

NERACA

Jakarta – Menutup perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat berkat aksi beli investor domestik. IHSG berhasil ditutup menguat 13,997 poin (0,27%) ke level 5.166,090. Sementara Indeks LQ45 naik 3,636 poin (0,41%) ke level 890,900.

Analis Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya mengatakan, penguatan indeks BEI seiring dengan laju mayoritas bursa saham eksternal menyusul data ekonomi produk domestik bruto (PDB) tahunan Tiongkok tumbuh 7,3% pada kuartal ke-4 2014,”Data dari Tiongkok itu cukup mempengaruhi laju bursa saham global," ujarnya di Jakarta, Selasa (20/1).

Dia menambahkan bahwa harga minyak dunia yang sempat menguat ke level US$ 50 dolar per barel menambah sentimen positif pada saham-saham sektor pertambangan di bursa global, termasuk di Indonesia. Dari dalam negeri, lanjut William Suryawijaya, juga cukup mendukung penguatan indeks BEI. Situasi politik dan ekonomi Indonesia cukup stabil sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam menginvestasikan dananya di pasar saham.

Secara teknikal, lanjutnya, IHSG sudah mulai beranjak meninggalkan fase konsolidasi dengan menutup perdagangan diatas level 5.151 poin, hal ini menunjukkan IHSG masih memiliki kekuatan naik cukup besar dan berpotensi kuat untuk melanjutkan kenaikannya dalam jangka pendek menuju 5.201 poin.

Oleh karena itu, indeks BEI Rabu diproyeksikan masih bertahan di zona hijau dengan tren kembali menguat. Pada perdagangan kemarin, transaksi investor asing hingga sore tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 337,631 miliar di pasar reguler dan negosiasi.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 232.303 kali dengan volume 5,987 miliar lembar saham senilai Rp 6,269 triliun. Sebanyak 110 saham naik, 169 turun, dan 101 saham stagnan. Bursa-bursa regional akhirnya bergerak kompak menguat hingga penutupan perdagangan. Ekonomi Tiongkok yang tumbuh lambat tidak jadi penghambat laju bursa regional.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Mayora (MYOR) naik Rp 950 ke Rp 22.000, Elang Mahkota (EMTK) naik Rp 650 ke Rp 8.150, Indocement (INTP) naik Rp 525 ke Rp 22.355, dan Bayan (BYAN) naik Rp 325 ke Rp 7.000. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 3.975 ke Rp 56.000, SMART (SMAR) turun Rp 450 ke Rp 6.500, Medco (MEDC) turun Rp 180 ke Rp 2.750, dan Citra Marga (CMNP) turun Rp 135 ke Rp 2.715.

Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG ditutup melemah 25,705 poin (0,50%) ke level 5.126,388. Sementara Indeks LQ45 turun 3,780 poin (0,43%) ke level 883,484. Investor domestik masih jadi penggerak bursa sejak awal tahun ini dengan konsisten membeli saham. Sedangkan investor asing belum berhenti melepas saham.

Akibatnya, banyak saham-saham yang akhirnya kena koreksi akibat aksi jual ini. Hanya dua indeks sektoral yang bertahan positif, industri dasar dan perdagangan. Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 124.649 kali dengan volume 3,698 miliar lembar saham senilai Rp 3,23 triliun. Sebanyak 58 saham naik, 200 turun, dan 80 saham stagnan.

Bursa-bursa regional akhirnya bergerak kompak menguat siang hari. Ekonomi Tiongkok yang tumbuh lambat tidak jadi penghambat laju bursa regional. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Indocement (INTP) naik Rp 300 ke Rp 22.125, Mayora (MYOR) naik Rp 125 ke Rp 21.175, Matahari (LPPF) naik Rp 100 ke Rp 14.650, dan Tempo Scan (TSPC) naik Rp 85 ke Rp 2.560.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Samudera Indonesia (SMDR) turun Rp 875 ke Rp 10.650, Blue Bird (BIRD) turun Rp 825 ke Rp 10.700, Mandom (TCID) turun Rp 600 ke Rp 17.600, dan Astra Agro (AALI) turun Rp 500 ke Rp 24.000.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG dibuka menguat tipis 2,27 poin atau 0,04% ke posisi 5.154,37. Sementara itu indeks 45 saham unggulan (LQ45) naik sebesar 0,57 poin atau 0,07% ke posisi 887,32,”Sentimen dari dalam negeri dan ekternal yang terbilang cukup positif menjadi katalis bagi pasar saham domestik untuk bergerak di area positif," kata Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah.

Alfiansyah mengemukakan bahwa kebijakan pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, disamping juga harga gas elpiji dan semen diharapkan dapat menurunkan angka inflasi,”Diharapkan juga kebijakan pemerintah itu akan diikuti dengan penurunan harga-harga kebutuhan lainnya,”ujarnya.

Di sisi lain, lanjut dia, mayoritas bursa saham eksternal juga berada dalam area positif, kondisi itu dapat mendorong psikologis investor untuk kembali masuk ke pasar sehingga laju indeks BEI kembali meningkat.

Sementara itu, tim analis teknikal Mandiri Sekuritas dalam kajiannya mengemukakan bahwa pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2015, pemerintah memangkas subsidi energi hingga Rp194,2 triliun dari APBN 2015.

Dengan dana subsidi itu, pemerintahan yakin pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa mencapai 5,8%. Pertumbuhan ekonomi akan digerakkan tiga indikator, yaitu konsumsi rumah tangga, investasi pemerintah, serta investasi swasta. Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka menguat 94,51 poin (0,40%) ke 23.833,00, indeks Bursa Nikkei naik 239,66 poin (1,41%) ke 17.253,11, dan Straits Times menguat 25,14 poin (0,77%) ke posisi 3.333,06. (bani)

Related posts