Antam Resmikan Pengolahan Emas TBRC - Tingkatkan Nilai Tambah

NERACA

Jakarta – PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menginvestasikan dana sebesar US$ 500 ribu untuk proyek Top Blown Rotary Converter (TBRC) yang dimaksudkan untuk meningkatkan nilai tambah emas Antam. Nantinya, melalui fasilitas tersebut dapat mengekstraksi logam emas dan logam-logam berharga lainnya seperti selenium, paladium, platinum dan lain-lain dari produk anode slime.

Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin, disebutkan, fasilitas tersebut untuk menambah nilai tambah dalam negeri sesuai dengan Undang-undang Minerba nomor 4 tahun 2009. Peresmian fasilitas TBRC merupakan salah satu upaya ekspansi bisnis Antam di komoditas emas. Melalui pengoperasian TBRC, Antam akan memberikan nilai tambah dari anode slime melalui pengolahan di dalam negeri.

Selain itu, pengoperasian TBRC juga merefleksikan strategi Antam dalam mengintensifkan pendapatan dari komoditas emas setelah sebelumnya melakukan ekspansi bisnis emas retail melalui Butik Emas LM dan penyediaan jasa gold depository BRANKAS.

Direktur Operasi Antam, Teddy Badrujaman mengatakan, fasilitas TBRC dengan nilai proyek US$ 500 ribu ini mampu mengolah 500 ton anode slime per tahun. Dengan asumsi rata-rata kandungan logam emas satu persen di setiap ton anode slime.

Maka dengan begitu, Antam akan mendapatkan tambahan lima ton emas di luar produksi yang sudah ada saat ini yang berasal dari tambang emas Pongkor dan Cibaliung,”Di masa depan Antam berencana untuk meningkatkan kapasitas pengolahan menjadi 2.000 ton anode slime per tahun untuk meningkatkan volume ekstraksi emas," kata dia.

Dia menambahkan, pengolahan anode slime Antam merupakan hal yang sangat strategis mengingat selama ini anode slime langsung diekspor keluar negeri sehingga dengan dilakukan pengolahan di dalam negeri akan berujung pada peningkatan pendapatan negara,”Melalui peresmian fasilitas TBRC, Antam berharap adanya dukungan dari pemerintah terutama dalam hal pengenaan PPN mengingat proyek anode slime merupakan salah satu proyek strategis Antam sebagai salah satu katalisator industri nasional," pungkas dia.

Asal tahu saja, belum lama ini perseroan mendapatkan penyertaan modal dari pemerintah sebesar Rp7,7 triliun. Nantinya, dana ini akan disuntikkan saat Antam menerbitkan saham baru dengan mekanisme hak memesan efek terlbih dahulu (HMETD) alias rights issue dan negara akan mengeksekusi haknya saat rights issue nanti.

Disebutkan, nantinya dana hasil rights issue tersebut akan digunakan untuk membangun proyek strategis meliputi CGA Tayan, proyek Fero Nikel Halmahera Timur, Smelter Grade Alumina Mempawah dan Anoda Slime. Dengan perolehan PMN tersebut maka kapitalisasi pasar Antam akan melonjak hingga 100% menjadi US$ 2 miliar dari sebelumnya sekitar US$ 1 miliar. Perseroan juga memproyeksikan laba bersih menjadi Rp1,54 triliun pada 2018, tumbuh dari tahun 2015 yang mencatat rugi sebesar Rp890,28 miliar.

Keseriusan PT Aneka Tambang Tbk untuk membangun smelter ditunjukkan dengan kesibukan perseroan memilah mitra kerja untuk membangun proyek smelter. Perseroan memprioritaskan partner dari dalam negeri, apa lagi jika bisa bekerja sama dengan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang pertambangan. (bani)

Related posts