Harga Sembako Tak Terpengaruh BBM Turun - Pangan

NERACA

Jakarta – Pemerintah telah mengumumkan penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis premium dari Rp7.600 menjadi Rp6.600 per liter. Namun begitu, penurunan harga BBM tak memberikan dampak terhadap beberapa komoditas pangan salah satunya sayuran. Dilansir dari laman Antara, Selasa (20/1), di Pasar Popi Mandiri Blok M, Jakarta Selatan misalnya, harga sayuran tidak terpengaruh dengan turunnya harga BBM.

"Penurunan harga BBM kan baru dua hari ini, bisa dibilang kondisinya belum stabil lah, jadi belum berpengaruh terhadap harga. Ada juga yang sudah mulai menurunkan harga, tapi ya nggak cuma BBM yang mempengaruhi harga sayuran. Kaya sekarang musim penghujan gini. Sayuran cepat busuk, jadi harus dirawat, sama halnya kaya ngerawat bayi, ya harus benar-benar diperhatikan, kalau ngga ya busuk," ujar penjual sayur di Pasar Popi Mandiri Blok M, Indra (33).

Indra mengatakan bahwa sayuran yang dijualnya tidak hanya dari pasar lokal, seperti sayuran yang di pasok dari Cianjur, Kramat Jati namun beberapa sayuran seperti wortel juga diperoleh dari luar negeri yang di impor ke indonesia. Berbeda dengan barang pabrik yang sudah memiliki takaran dan satuan yang pasti, sayuran tidak bisa dipastikan, berapa penjualannya per hari, berapa sayuran yang busuk, semua tergantung bagaimana penjual sayuran merawat sayuran mereka agar tetap segar dan tidak busuk.

Penjual sayuran di Pasar Pagi Cipete, Jakarta Selatan, Adi (25) mengatakan bahwa sayuran yang mereka peroleh dari pemasok tidak semuanya bisa dijual. Mereka harus menyortir terlebih dahulu, sayuran mana saja yang bisa dijual, dari 10 kg sayuran yang diperoleh, setelah disortir kurang lebih hanya lima kg yang layak untuk dipasarkan.

Sementara itu, banyak pembeli yang mengeluhkan masalah harga sayuran di pasar. Sebagian besar pembeli mengharapkan penurunan harga BBM, akan dibarengi dengan turunnya harga kebutuhan pokok termasuk sayuran. Namun kenyataannya, harga sayuran belum mengalami penurunan. "Seharusnya kalau BBM turun, harga sayur juga ikut turun mas, kan biaya pengirimannya pasti juga berkurang, masa harga sayur masih sama,"ujar salah seorang pembeli sayuran di Pasar Popi Mandiri Blok M, Jakarta Selatan, Nela (32).

Walau bagaimanapun, sayuran termasuk kebutuhan pokok ibu rumah tangga, meskipun harga sayuran masih sama dan belum ada penurunan, Adi mengatakan bahwa pembeli masih ramai membeli sayuran meskipun beberapa dari mereka ada yang mengeluh.

Sementara itu, dalam pantauan di Pasar Kebayoran Lama, harga telur ayam negeri saat ini dijual Rp 24.000/kg dari sebelumnya seharga Rp 18.000/kg. Sementara harga ayam potong mencapai Rp 110.000/ekor, padahal sebelumnya hanya Rp 60.000 - Rp 70.000/ekor. Selain itu, harga daging sapi harganya masih sama Rp 90.000/kg. “Belum turun harga daging, dari distributor malah naik harganya tapi kita belum berani naikin, kita masih tunggu" kata seorang pedagang daging di Pasar Kebayoran Lama.

Harga ikan juga lebih mahal, misalnya ikan mas saat ini dijual Rp 22.000/kg. “Kalau ikan bukan dari BBM kayaknya, tapi cuaca. Ombak naik, tidak ada nelayan yang ngelaut sehingga pasokan ikan berkurang,” kata Suryati, pedagang ikan di Pasar Kebayoran Lama.

Lalu, sejumlah kebutuhan pokok yang terlihat turun drastis justru cabai merah keriting, yang saat ini seharga Rp 35.000 dari harga sebelumnya Rp 80.000/kilo. Rawit merah dari Rp 100.000 menjadi Rp 50.000/kilo sementara tomat Rp 6.000 sebelumnya Rp 8.000/kilo. “Harga cabai tidak terpengaruh BBM, tergantung pasokan dari Kramat Jati. Harga segini udah seminggu lebih,” kata Wanaim, pedagang di Pasar Kebayoran Lama.

Belum stabilnya harga sembako juga membuat para pedang resah. Menurut mereka, harga sudah telanjur naik setelah pemerintah Jokowi pada November 2014 menaikan BBM jenis premium Rp 8.500/liter sementara solar Rp 7.500/liter. “Waktu itu BBM mau diturunkan masih isu, jadi harganya sudah terbentuk ketika dinaikkan yang pertama. Untuk kami pedagang, stabilkan dulu harga pasar,” kata Koh Hendri.

Pemerintah Curiga

Belum turunnya harga beberapa sembako membuat Menko Perekonomian Sofyan Djalil curiga. Menurut dia, penurunan harga BBM akan mendorong turunnya hagra sembako. “Kalau BBM turun, harga bahan pokok mesti ikutan turun,” ucap Sofyan.

Dikatakan, fluktuasi harga sembako, juga mengikuti suplai dan demand. Kalau komponen operasionalnya terbesar adalah BBM, otomatis harga harus turun. Hanya saja di lapangan, harga sembako sulit turun “Saya curiga ada orang-orang tertentu yang melakukan oligopoli. Orang-orang tertentu yang menguasai pasar ini saling berkesepakatan membuat harga. Alhasil, harganya tetap tinggi,” duga Sofyan.

Dia menyebut, struktur pasar di Indonesia tidak sehat karena dikuasai kalangan tertentu sehingga bisa memainkan harga. “Itu sebabnya pemerintah akan memanggil mereka untuk membahas mengenai masalah harga. Ini agar masyarakat bisa menikmati penurunan harga BBM-nya,” cetusnya.

Sebelumnya, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia meminta Presiden Joko Widodo segera memanggil pengusaha agar bisa menurunkan harga barang konsumsi yang ikut naik akibat harga bahan bakar minyak sebelumnya. Hal itu disampaikan Tulus menyusul pengumuman harga bahan bakar minyak jenis premium dan solar terbaru, di mana harga kedua BBM itu mengalami penurunan. "Pemerintah harus memanggil pelaku pasar untuk bisa menurunkan harga," kata Anggota Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi di Jakarta, Jumat, akhir pekan lalu.

Harga premium turun dari sebelumnya Rp7.600 menjadi Rp6.600 per liter, sementara solar dari Rp7.250 menjadi Rp6.400 per liter. Penetapan harga baru itu berlaku mulai Senin (19/1) pukul 00.00 WIB.

Related posts