Kebijakan BI Dinilai Keliru - MEMPERTAHANKAN BI RATE TETAP TINGGI

Jakarta – Kalangan pengamat dan akademisi menilai Bank Indonesia harusnya menurunkan suku bunga acuannya, bukan mempertahankan tetap bertengger tinggi 7,75%. Pasalnya, kondisi BI Rate yang tetap tinggi tidak sejalan dengan inflasi yang diprediksi rendah pada bulan ini, sebagai dampak penurunan harga BBM bersubsidi dan berkurangnya tekanan defisit transaksi berjalan (current account) akibat surplus neraca pembayaran Indonesia pada triwulan IV-2014.

NERACA

Pengamat perbankan dan guru besar ekonomi Prof Dr Adler Haymans Manurung menilai tingkat suku bunga acuan (BI Rate) semula diharapkan bisa menurun seiring laju inflasi yang diprediksi rendah pada Januari ini, sehingga mampu untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Karena tingkat suku bunga yang relatif tinggi saat ini menjadi salah satu tantangan yang cukup berat bagi sektor riil. Dia berharap tahun ini, suku bunga acuan itu dapat turun perlahan sehingga sektor riil dapat lebih bergairah.

"Suku bunga itu (BI Rate) harusnya turun, bukan naik. Ketika pemerintah menaikkan harga BBM pada Nov. 2014, BI langsung naikkan tingkat bunga acuannya,” ujarnya kepada Neraca, Senin (19/1).

Menurut dia, Bank Indonesia seharusnya menurunkan suku bunga BI Rate menyusul kebijakan pemerintah menurunkan harga BBM, elpiji, dan semen pada bulan ini. Stabilitas makro ekonomi Indonesia pada tahun ini akan relatif positif dan laju inflasi juga diperkirakan akan relatif terkendali.

“Penurunan harga BBM pada awal Januari mampu menekan inflasi ke angka yang lebih rendah. Pengambilan keputusan BI untuk menetapkan besaran suku bunga harusnya didasarkan pada perkiraan makro ekonomi ke depan,” ujar Adler.

Selain tingginya tingkat suku bunga, menurut dia, marjin perbankan di Indonesia yang masih cukup lebar juga menjadi beban pelaku industri yang terkena suku bunga kredit yang tinggi, terlebih sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hal tersebut menjadi tantangan lainnya bagi sektor riil itu sendiri.

"Marjin yang diambil bank-bank ini sekarang terlalu tinggi yaitu rata-rata 5%, bahkan lebih. Coba anda lihat bank-bank di luar negeri tidak lebih dari 5%, malah 3% pun tak sampai," ujarnya.

Dia pun menjelaskan dengan tingginya BI Rate ini maka akan kembali memperlambat laju kredit yang pada akhirnya akan memukul industri UMKM. Memang diakui suku bunga yang paling sulit diturunkan yaitu bunga kredit ke UMKM. Pasalnya, sektor ini dinilai memiliki tingkat risiko yang besar.

“Namun dengan kondisi perekonomian Indonesia yang mulai membaik dan tingkat inflasi bisa diturunkan, maka sebaiknya BI Rate harus diturunkan sehingga suku bunga UMKM dapat diturunkan pula,” ujarna.

Menurut data BI, neraca pembayaran Indonesia (NPI) sepanjang triwulan IV-2014 disebut-sebut dapat mencetak surplus sekitar US$2 miliar. Angka ini memang jauh lebih kecil dari surplus triwulan III-2014 US$6,48 miliar. Meski demikian, surplus NPI itu bisa mengurangi defisit yang terjadi pada neraca transaksi berjalan (current account)..

Di sisi lain, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2014 tercatat US$111,8 miliar, meningkat sedikit dibandingkan November 2014 US$111,1 miliar. Sementara tingkat Inflasi Januari 2015 diprediksi lebih rendah dari Desember 2014 yang tercatat 2,46%.

Menurut Juda Agung, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter BI, NPI selama triwulan IV–2014 bakal mencetak surplus sekitar US$ 2 miliar. Angka ini memang turun jauh ketimbang triwulan III–2014 yang meraih surplus US$ 6,48 miliar.

Menurut dia, surplus NPI pada triwulan IV–2014 terbatas lantaran arus modal yang keluar (capital outflow) dari Indonesia sangat besar. Pada November, cadangan devisa pun turun menjadi US$ 111,1 miliar, namun pada Desember 2014, cadangan devisa kembali naik menjadi US$ 111,8 miliar.

Terlalu Konvensional

Guru besar ekonomi Universitas Brawijaya Prof Dr Ahmad Erani Yustika menilai, BI terlalu konservatif karena tetap mempertahankan rezim suku bunga tinggi. Hingga suku bunga BI Rate berada di 7,5%, yang dinilai terlalu tinggi.

"Dengan BI Rate yang terlalu tinggi telah membuat pertumbuhan ekonomi sudah lebih lambat dari ekspektasi yang diharapkan. Sehingga dampak yang dirasakan, bunga pinjaman menjadi naik, maka dorongan investasi semakin berkurang. Akan lebih baik bila BI Rate turun 0,25%, karena kondisi sudah semakin membaik,” ujarnya, kemarin.

Menurut Erani dampak dari tingginya BI Rate adalah pertumbuhan ekonomi menjadi semakin lambat. Padahal, secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2015 diperkirakan bisa berada dalam kisaran proyeksi Bank Indonesia sebelumnya yakni 5,5%-5,9%

Erani mengatakan, kalau pandangan BI tersebut sebenarnya terlalu konvensional dan cenderung text-book. Beberapa negara lain, khususnya di ASEAN, tidak lagi menempatkan suku bunga bank sentral harus lebih tinggi dari inflasi untuk meredam ekspektasi inflasi.

Guru besar ekonomi Unpad Prof Dr Ina Pramiana mengatakan, pemerintah baru saja menurunkan harga BBM untuk kedua kalinya setidaknya akan membuat inflasi lebih terkendali. Namun sayangnya, Bank Indonesia masih belum menurunkan suku bunga acuannya. Ini bukti belum adanya koordinasi yang matang antara pemerintah dan BI. “BI dan pemerintah belum sejalan, atau bisa jadi masih berseberangan,” katanya.

Padahal, saat ini pemerintah kian gencar untuk dapat mengejar pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, padahal jika memang menginginkan seperti itu harus ada dukungan dari pembiayaan untuk pengusaha, terutama pembiayaan dari perbankan. Tapi jika suku bunga acuan masih tinggi, akan terasa sulit sektor riil dapat bangkit, karena masih terkendala penambahan biaya terbelenggu oleh bunga kredit yang masih tinggi

Pengamat perbankan Lana Soelistianingsih menilai langkah BI yang mempertahankan suku bunga acuan tinggi di tengah gencarnya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi, lebih disebabkan faktor eksternal seperti The Fed.

“BI Rate harusnya disesuaikan jika sudah ada keputusan The Fed sekitar pertengahan tahun ini. Jika The Fed menaikkan suku bunganya sebesar 50 bps maka bisa diperkirakan BI Rate akan menyesuaikannya. Ini penting direspon oleh BI untuk menjaga volatilitas rupiah,” ujarnya. agus/iwan/bari/mohar

Related posts