Manajer Investasi Keluhkan Kerjasama Bank - Pasarkan Produk Reksa Dana

NERACA

Jakarta – Ditengah gencarnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meningkatkan investor reksa dana, masih saja ditemui hambatan dilapangan dalam memasyarakatkan masyarakat berinvestasi reksa dana. Minimnya kerjasama antar perbankan menjadi salah satu hambatannya.

Hal inilah yang diakui, Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI), dimana masih ditemukan Manajer Investasi (MI) yang mengeluhkan terkait lisensi kerja sama ke perbankan. Ketua APRDI Denny R Taher mengatakan, karena masalah linsensi tersebut, maka masih sedikit manajer investasi yang mendistribusikan produknya melalui perbankan,”Masih punya kendala license untuk manajemen investasi. Ada 74 manajemen investasi, sebanyak 90% penyaluran tidak bisa kerja sama dengan perbankan. Pada saat ini tidak sampai 10 yang kerja sama," ujarnya di Jakarta, Senin (19/1).

Akan tetapi, Denny mengapresiasi peraturan OJK yang diterbitkan pada tahun lalu, yang mempermudah manajer investasi untuk memasarkan produknya."Untuk yang belum bekerja sama dengan bank, dengan peraturan tanggal 29 Desember lalu, permudah penyaluran distribusi. Bagi manajer investasi besar atau yang belum kerja sama. Dengan aturan baru bisa banyak lagi jalur distribusi," pungkasnya.

Aturan tersebut tertuang dalam Peraturan OJK (POJK) Nomor 39.POJK.04/2014 pada 29 Desember 2014 lalu. Dalam aturan tersebut disebutkan sejumlah perusahaan kini dapat menjadi Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD). Sebelumnya, perusahaan yang dapat menjadi APERD hanya perusahaan sekuritas, bank dan MI itu sendiri.

Dalam POJK tersebut yang bisa menjadi APERD, yakni perusahaan pergadaian, perusahaan asuransi, perusahaan pembiayaan, perusahaan dana pensiun dan perusahaan penjaminan. dengan begitu, APERD baru ini masih berkecimpung dalam industri keuangan.

Kata Denny, industri reksa dana pada tahun 2015 ini cukup optimis seiring dengan berkembangnya produk dengan aset dasar atau "underlying asset" properti,”Properti masih menjadi investasi yang cukup diminati masyarakat karena industrinya terus tumbuh, dengan adanya produk reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) dengan aset dasar properti, maka nantinya akan mendorong industri reksa dana di dalam negeri,”ungkapnya.

Dia menambahkan bahwa berkembangnya produk reksa dana akan membantu target APRDI dalam meningkatkan jumlah investor mencapai 5 juta pada 2017 mendatang. Jumlah investor per Januari 2015 sudah mencapai sekitar 250.000 nasabah dengan nilai dana kelolaan Rp240 triliun.

Selain itu, lanjut dia, APRDI juga akan mendorong penambahan jumlah tenaga kerja pengelola investasi untuk memperluas jaringan penjualan. Aturan baru yang dikeluarkan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 39/POJK.04/2014 tentang Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) akan memperluas jangkauan ke masyarakat luas.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida menambahkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap produk reksa dana terus meningkat setiap tahun. Hal itu terlihat dari meningkatnya nilai dana kelolaan reksa dana dan bertambahnya jumlah unit penyertaan. (bani)

Related posts