Bumi Resources Berhasil Pangkas Kerugian 96,5%

NERACA

Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) hingga kuartal III/2014 mencatat rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 13,31 juta atau setara Rp159,72 miliar (kurs Rp12.000). Jumlah itu menurun 96,5% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 377,51 juta.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin. Dijelaskan,

berkurangnya rugi bersih perusahaan didukung menurunnya beban pokok pendapatan, laba pelepasan anak usaha dan selisih kurs.

Dengan pendapatan perusahaan tambang Grup Bakrie ini menurun 17,36% menjadi US$ 2,19 miliar dari US$ 2,65 miliar, beban pokok pendapatan ikut menyusut menjadi US$ 1,77 miliar dari US$ 2,09 miliar. Perseroan membukukan laba pelepasan investasi entitas anak sebesar US$ 949,52 juta.

Sekadar informasi, BUMI pada Juli tahun lalu melepas 19% sahamnya di Kaltim Prima Coal (KPC) kepada China Investment Corporation (CIC) senilai US$ 950 juta. Sedangkan laba selisih kurs bersih sebesar US$ 321.237 dari sebelumnya rugi kurs mencapai US$ 119,56 juta. Sementara lain-lain bersih tercatat naik menjadi US$ 18,85 juta dari periode yang sama tahun lalu rugi US$ 3,26 juta.

Kendati demikian, perseroan masih mencatat beban bunga dan keuangan sebesar US$ 184,23 juta, penurunan nilai aset eksplorasi dan evaluasi senilai US$ 69,25 juta serta bagian atas rugi neto entitas asosiasi meningkat menjadi US$ 66,43 juta dari US$ 31,08 juta.

Sementara laba bersih sepanjang sembilan bulan pertama tahun lalu sebesar US$ 54,95 juta atau sekitar Rp659,4 miliar, menurun 86,7% dibanding periode yang sama tahun 2013 sebesar US$ 413,56 juta. Adapun total aset perusahaan tambang per akhir September tahun lalu sebesar US$ 6,6 miliar, dengan total utang US$ 6,92 miliar. Jumlah itu menurun dibanding akhir 2013, di mana aset sebesar US$ 7 miliar dengan utang US$ 7,31 miliar.

Asal tahu saja, dua emiten milik Grup Bakrie, yakni PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) masuk dalam kategori emiten yang mendapatkan sanksi dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI) lantaran mangkir dalam menyampaikan laporan keuangan kuartal III-2014.

Otoritas BEI akan memberikan peringatan tertulis I jika manajemen telat menyampaikan laporan keuangan sampai 30 hari kalender terhitung sejak lampaunya batas waktu penyampaian. Apabila mulai hari kalender ke-31 hingga ke-60 sejak lampaunya batas waktu penyampaian emiten belum juga menyerahkan laporan keuangan, BEI akan memberikan peringatan tertulis II dan denda sebesar Rp 50 juta.

Selanjunya, jika pada hari kalender ke-61 hingga ke-90 perseroan masih bandel, bursa akan memberikan peringatan tertulis III dan tambahan denda sebesar Rp 150 juta. Khusus bagi emiten yang juga mencatatkan sahamnya di bursa negara lain, maka batas waktu penyampaian laporan keuangan unaudited adalah 45 hari setelah laporan keuangan dimaksud.

Sedangkan untuk laporan keuangan interim yang sudah diaudit akuntan publik, batas waktunya tiga bulan setelah tanggal laporan keuangan. Nah, BUMI dan BRMS mendapat pecut berupa peringatan tertulis I dari BEI. Itu lantaran belum menyampaikan laporan keuangan September 2014 yang diaudit.

Batas waktu penyerahan laporan keuangan BUMI dan BRMS seharusnya 2 Januari 2015. Kemudian, BEI juga memberi sanksi kepada tiga emiten yang mengubah rencana yang semula berniat menyampaikan laporan keuangan diaudit menjadi lapran tidak diaudit dan tidak ditelaah secara terbatas. (bani)

Related posts