Stanchart Belum Melaporkan Ke OJK - Lepas Saham Bank Permata

NERACA

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan belum menerima laporan terkait rencana Stadard Chartered melepas kepemilikan saham 44,56% di Bank Permata,”Saat ini, kami belum terima informasi maupun laporan terkait pelepasan saham di Bank Permata,”kata Kepala Eksekutif Bidang Pengawasan Perbankan OJK, Nelson Tampubolon di Jakarta, kemarin.

Menurut Nelson, jika Standard Chartered ingin melepas seluruh sahamnya, di mana dapat terjadi perubahan pada pemegang saham pengendali, maka hal tersebut harus dilakukan seizin OJK. Sebagai informasi, Standard Chartered Bank Plc (Stanchart), bank multinasional asal Inggris, tengah mengkaji pelepasan 44,56% saham PT Bank Permata Tbk (BNLI), anak usaha PT Astra International Tbk (ASII). Nilai saham tersebut ditaksir mencapai US$ 638 juta atau sekitar Rp 8 triliun.

Stanchart juga membidik penjualan saham di sejumlah bank Asia lainnya. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat permodalan. “Sebelum menjual saham Bank Permata, Stanchart berpeluang menjual Agricultural Bank of China Ltd terlebih dahulu. Transaksi Bank Permata kemungkinan akan ditindaklanjuti setelah itu,” ungkap Reuters dalam laporannya, akhir pekan lalu.

StanChart dikabarkan secara agresif akan melakukan reformasi dalam bisnisnya, terutama setelah bank tersebut menutup seluruh unit usaha ekuitas pada awal tahun. Adapun sebanyak 4 ribu orang telah kehilangan pekerjaan dalam sektor jual beli saham, penjaminan emisi, serta perbankan ritel akibat aksi ini.

Rencana penjualan saham Bank Permata diperkirakan dapat menarik minat bank-bank di Asia yang ingin berekspansi. Bank-bank asal Jepang, misalnya, aktif melakukan ekspansi ke Indonesia akibat pertumbuhan yang lambat di negaranya. Meski demikian, rencana penjualan mungkin akan menjadi rumit, karena dibatasi kesepakatan dengan Astra yang juga pemegang saham terbesar Bank Permata.

Astra dan Stanchart mengambil alih 51% saham Bank Permata pada 2002. Ketika itu, nilai transaksi mencapai US$ 305 juta. Astra dan Stanchart selanjutnya meningkatkan kepemilikan saham menjadi total 89,01% pada 2006. Dengan demikian, per September 2014, Astra dan Stanchart masing-masing tercatat menguasai 44,56% saham Bank Permata. Adapun investor publik mengantongi 10,88% saham.

Hingga kuartal III-2014, pendapatan operasional Bank Permata tercatat sebesar Rp 5,32 triliun atau meningkat 7% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 4,98 triliun. Sementara itu, laba bersih pada kuartal III-2014 tercatat sebanyak Rp 1,24 triliun.

Adapun peningkatan didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih serta kenaikan pendapatan berbasis biaya (fee based income). Pendapatan bunga bersih naik tipis sebanyak 2% menjadi Rp 4,1 triliun akibat peningkatan kredit sebesar 12% secara year-on-year (yoy).

Sementara itu, pendapatan berbasis biaya tercatat naik 28% yoy menjadi Rp. 1,2 triliun. Hal ini didukung kinerja yang lebih kuat di bisnis bancassurance dan trade finance serta aktivitas transaksi berbasis biaya lainnya. Kemudian dpda kuartal III – 2014, kredit termasuk pembiayaan syariah tumbuh 12% yoy menjadi Rp. 130 triliun. Pertumbuhan kredit didorong oleh pertumbuhan dalam sektor UKM dan local and middle market corporates, ditopang bisnis trade finance dan produk-produk pinjaman Bank. (id/bani)

Related posts